Eggi Sudjana : Jokowi Harus Akui Kekeliruannya

10
998
Dr. H Eggi Sudjana, S.H, M.Si

JAKARTA – Ketua Umum Partai Pemersatu Bangsa (PPB), Dr. Eggi Sudjana meminta Presiden Jokowi mengakui kekeliruannya terkait pernyataan yang meminta agar persoalan agama dan politik dipisahkan.

“Harapan saya selaku ketua umum Partai Pemersatu Bangsa, kiranya Jokowi berkenan mengakui kekeliruannya dan istiqfar untuk kembali ke jalan yang benar dengan menjalankan Pancasila dan UUD 45 secara baik dan benar serta konsisten menuju Indonesia bertaqwa pada Allah SWT,” kata Eggi dalam pesan tertulisnya yang diterima redaksi SERUJI, hari ini, Selasa (28/3).

Eggi menjelaskan bahwa secara perspektif Yuridis, tampak jelas Presiden Jokowi tidak paham hukum dasar di Indonesia yang mendasarkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana tercantum pada pasal 29 ayat 1 dari UUD 45. “Sementara di pasal 29 ayat 2, negara menjamin warga negaranya dalam menjalankan agamanya,” jelasnya.

Loading...

“Jadi bagaimana agama dan politik bisa dipisah? Bukankah dalam bernegara bila berpolitik dipisahkan dari Agama tentu terjadi demoralisasi,” tegas Eggi.

Bahkan, lanjut Eggi, bagi seorang muslim pemisahan politik dan agama bertentangan dengan komitmennya kepada Allah SWT. “Sholatku, ibadah dan hidup serta matiku hanya untuk Allah SWT. Bagaimana waktu kita hidup hari ini dipisahkan antara agama dengan politik?” katanya.

“Secara Historis Jokowi tampak melupakan sejarah, dimana bangsa Indonesia merdeka karena berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan itu diakui, tertera dalam mukadimah UUD 45 di alinea ketiga,” ungkap Eggi.

Lebih lanjut Eggi menyampaikan bahwa secara filosofis Jokowi telah sekular, karena memisahkan kehidupan beragama, dimana tentu maksudnya peran Tuhan tidak boleh ikut campur dengan poltik.

“Secara Sosiologis, Jokowi mengingkari keyakinan  rakyat indonesia yang semuanya beragama, baik Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan lainnya untuk menjalankan keyakinan dalam berbangsa dan bernegara karena harus di pisahkan dengan politik, bagaimana mau ikut Pemilu, Pilpres dan pilkada?” kata Eggi yang juga seorang advokat ini.

Terakhir dalam pesannya, Eggi mengingatkan bahwa secara psikologis atau suasana kejiwaan, kebatinan rakyat yang mayoritas beragama Islam sangat dihina oleh pernyataan Jokowi tersebut.

“Agama dijadikan (dituduh -red) biang kerok kisruh dan konflik di masyarakat, oleh karena itu Agama (menurut Jokowi -red) harus di pisahkan dengan politik,” katanya.

“Persis tapi tidak sama dengan usulan Aidit gembong PKI yang mengatakan agama candu bagi masyarakat maka jika masyarakat mau maju harus dijauhkan dari Agama.”

“Apakah ini menunjukkan PKI bangkit lagi di Indonesia?” tutup Eggi

Sebagaimana diketahui, saat memberikan sambutan dalam peresmian Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara di Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada hari Jumat (24/3) lalu, Presiden Jokowi meminta agar persoalan agama dan politik dipisahkan, agar tidak terjadi gesekan antar umat beragama.

“Memang gesekan kecil-kecil kita ini karena Pilkada. Benar nggak. karena pilgub, pilihan bupati, pilihan wali kota, inilah yang harus kita hindarkan,” kata Jokowi.

Pernyataan Presiden ini mendapatkan tanggapan luas dari berbagai kalangan. Tidak kurang Ketua MUI, KH Maruf Amin memberikan tanggapannya, yang menegaskan agama tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan bernegara di Indonesia.

 

EDITOR: Harun S

Langganan berita lewat Telegram
loading...

10 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU