Api di Hati Siswa dan Gerakan Literasi Nasional

0
636
Ilustrasi

Lima jenis moralitas dan enam jenis literasi yang digariskan pemerintah justru menjadi kerangka makro. Kerangka ini dibutuhkan agar “Grit,” atau “need for achievement” atau api keinginan berprestasi di hati siswa menemukan rumahnya, yang memberi keberkahan bagi publik luas.

Tanpa kepekaan untuk belajar hidup bersama, cinta negri, keinginan berbuat baik, sekedar pintar dan mengerti ilmu, angka dan fakta saja, justru dapat membuat orang jahat semakin bertambah pintar dan berilmu.

Tap lewat medium apakah paling efektif menanam moralitas dan literasi itu?

Para penyair, guru dari lima pulau ingin ikut berpartisipasi dalam gerakan literasi nasional dan pendidikan penguatan karakter. Mereka berikhtiar memperkaya metode menumbuhkan moralitas dan literasi itu lewat puisi esai.

Mengapa puisi esai? Ada drama dan kisah dalam puisi esai yang mampu menyentuh kesadaran. Kisahnya tak sepanjang novel atau cerpen, walau mengandung drama yang sama.

Di dalam puisi esai, selalu ada isu sosial sebagai setting puisi. Isu sosial itu bisa diisi apa saja yang sesuai dengan situasi siswa masa kini. Misalnya soal narkoba, pernikahan dini, perkelahian isu SARA, tawuran remaja, dan sebagainya.

Dalam puisi esai, ada pula catatan kaki. Siswa dapat mengeksplorasi isu puisi lebih jauh dengan menelusuri catatan kaki itu. Dibandingkan puisi biasa, puisi esai juga berbahasa lebih mudah.

Para guru ini akan membuat buku putih puisi esai untuk SMP, SMA dan Universitas. Mereka juga akan membimbing siswa SMP, SMA dan Universitas menuliskan pengalaman hidup melalui puisi esai. Dengan menulis puisi esai, mereka belajar melalui praktek menulis (Learning by doing).

Mereka bekerja sama sekali tidak membebani APBN atau APBD. Tidak pula mereka menjadi agen pabrik rokok yang buruk untuk kesehatan siswa. Ini murni dana dari civil society.

Inisiatif para guru melalui puisi esai segera melahirkan kontroversi. Namun melalui renungan yang tenang dan berjarak, kita tahu. Upaya mencerdaskan siswa terlalu besar jika hanya diserahkan kepada pemerintah.

Para guru ini sudah memulai sesuatu yang benar dan besar. Puisi esai pun bersiap mengayunkan langkah: masuk sekolah! Puisi esai akan ikut menumbuhkan grit, need for achievement, lima moralitas dan enam jenis literasi di kalangan siswa.

Jika sudah masuk ke tahap itu, baru kita sadari apa yang bisa dilakukan sebuah puisi bagi tumbuhnya api di hati.

April 2018

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama