Demikian pula dalam menyampaikan hadist, tak jarang dia mendatangi rumah sahabat satu persatu untuk membagi ilmu hadistnya. Jika para sahabatnya sedang beristirahat, ia rela menuggu hingga tertidur di depan pintu rumah para sahabatnya.

Karena kecerdasannya, Ibnu Abbas sering diajak berdiskusi oleh para sahabatnya, baik yang tua maupun yang muda, tak terkecuali Ummar bin Khattab.

Umar bin Khattab selalu memanggilnya bila sedang mengadakan musyawarah. Pendapat-pendapatnya selalu didengar karena ilmunya yang tinggi. Sampai-sampai Umar menjulukinya “si pemuda tua”, karena diusianya yang masih muda namun kapasitas keilmuannya sudah tua dan matang.

Sebagian riwayat menyebutkan, Ibnu Abbas memilih untuk menghabiskan sisa masa hidupnya di Thaif, bukan di tanah haram Makkah, walaupun sebenarnya ibadah dan kebaikan yang dilakukan di sana dilipat-gandakan sebanyak seratus ribu kali.

Tetapi yang menjadi alasannya untuk tidak tinggal di Makkah adalah sikap hati-hatinya. Dalam penafsirannya orang-orang yang baru berniat untuk berbuat buruk di tanah haram (Makkah dan Madinah ), ia sudah jatuh dalam keburukan dan berdosa, bahkan dosanya bisa barlipat sesuai tingkat kekuatan niatnya.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama