Dalam sebuah acara reality show di televisi swasta, muncul sebuah kisah inspiratif dari seorang Priyono, Si Buta Berangkat Umroh. Inspiratif, karena ia hanyalah seorang pedagang keliling sebatang kara yang tinggal di sebuah rumah kontrakan.

Barangkali terpikir oleh pembaca ia memperoleh hadiah umroh. Ternyata tidak. Ia memang berangkat umroh tapi dari hasil menabung bertahun-tahun! Seorang buta yang menafkahi dirinya sendiri dengan berdagang tanpa meminta belas kasihan orang, ternyata terbukti gigih untuk meraih cita-citanya yang sederhana.

Kru televisi menguji tiga hal, apakah ia mudah bersimpati kepada orang lain, tidak mau diajak mengemis, dan sabar menerima perlakuan yang kurang baik dari orang lain. Ternyata lulus. Oleh karena itu, pihak kru televisi memberikan hadiah sebesar dua juta rupiah.

Istimewa? Biasa. Yang luar biasa, segera setelah uang dua juta ia terima, langsung sebagian besar disedekahkan ke musholla dan ke shahabat dekatnya!

Buta, tak punya keluarga, tapi tidak mau menjadi beban orang lain. Bagi orang normal, barangkali sudah berakhir hidupnya ketika tidak ada lagi yang bisa dinikmati. Mau makan enak? Tak ada pilihan kecuali dari apa yang ia dengar dan apa yang ia ingat. Mau tamasya? Apalagi itu, tak ada yang bisa dinikmati kecuali dingin atau panas yang menerpa kulit.

Kenikmatan seorang buta ternyata bukan dari inderanya. Ia mampu menikmati hal yang sulit ditemukan oleh orang bermata normal: kenikmatan spiritual, yakni ketika dirinya memiliki keinginan untuk berangkat ke tanah suci menunaikan umroh. Jelas, ketika berada di sana bukan untuk melihat-lihat, namun hendak menjemput kebahagiaan, menjemput rindu akan tanah suci.

Barangkali, kisah ini perlu dijadikan renungan bagi orang-orang berpenglihatan normal. Mata bisa jadi fitnah karena kemudian membuat terlena dengan asyik masyuk dunia dengan segala keindahannya. Tak ada yang bisa dinikmati oleh orang buta dari tontonan televisi, canggihnya gadget, dan mewahnya istana.

Kenikmatan seorang Priyono bahkan diperoleh dengan memberi, bukan menerima. Berbagi, bukan mengambil. Setelah semua kenikmatan yang berasal dari mata tercerabut, muncullah sumber-sumber kebahagiaan yang lain yang sulit ditemukan orang bermata normal.

Andai saja seseorang tiba-tiba buta, namun sudah terlanjur terjebak dalam kenikmatan mata, barangkali akan berputus asa. Saat itulah seorang manusia membutuhkan tuntunan spiritual, keyakinan akan dunia setelah kematian yang dipenuhi dengan keadilan Tuhan.

Marilah kembali ke jati diri manusia, sebagai hamba Tuhan yang Maha Pemberi dan Penguasa Hari Kemudian. Apakah barangkali memang penglihatan orang-orang harus dicabut agar sadar?

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya.
SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan ini, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
SERUJI berhak untuk membatalkan penayangan hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan.
Untuk pengaduan email ke redaksi@seruji.co.id.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama