Pilkada, Pakai Platform atau Plat Nomor Partai?

0
488
daftar-partai-peserta-pemilu-2014-sesuai-nomor-urut

Apakah bisa berubah? Sepertinya, tidak. Ketergantungan partai kepada ketokohan seseorang itu adalah sisi yang paling mudah digunakan pihak-pihak berkepentingan di dunia sana. Dan ini sepertinya benar-benar dimanfaatkan.

Politik antar negara selalu bergesekan dan kadang muncul perselisihan yang kuat. Fokus interes suatu negara bahkan sering menjadi ancaman negara lain. Agar kepentingan suatu negara tidak terganggu dan berjalan lancar, maka melancarkan operasi guna melemahkan negara lain. Andai Indonesia menjadi negara maju dengan segala produk teknologi, kira-kira adakah negara lain yang kesulitan memperoleh ceruk pasar ratusan juta rakyat nusantara ini?

Tidak heran kemudian muncul kata-kata provokasi pemecah belah yang datang dari negeri barat seperti “intoleransi”, “kesetaraan”, “hak asasi” dan lainnya, yang gencar disosialisasikan dengan arus liberalisasi. Wajar jika kemudian umat muslim sebagai mayoritas melakukan pertahanan atas serangan ideologi tersebut, karena banyak mencampuri urusan “rumah tangga” umat Islam.

Hasilnya, retaklah rasa persatuan rakyat Indonesia, saling mengklaim kalau kubu masing-masing (katakanlah partai masing-masing) adalah alternatif terbaik sebagai penguasa politik Indonesia dan lainnya buruk dan merusak. Padahal, bukankah lebih baik menganggap negara ini satu rumah satu atap yang perlu dijaga bersama yang tidak akan mungkin saling merugikan?

Kesimpulan pedasnya, partai-partai di Indonesia sepertinya hanya mengucap di mulut “demi rakyat”, namun hati dan perbuatan menunjukkan “demi partaiku”. Bukan seluruhnya salah mereka juga, karena memang umat ini sedang disantap ramai-ramai para penguasa dunia.

Apakah akan muncul pejuang-pejuang politik yang tidak peduli pada dirinya sendiri dan hanya peduli rakyat Indonesia, sekaligus rakyat mau mendukungnya? Entahlah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama