Oleh Muhammad Hanif Priatama

Pers diharapkan menjadi salah satu pilar demokrasi, penghubung langsung rakyat dengan penguasa, penyeimbang kekuasaan agar tidak timpang, dan meletakkan rakyat pada posisi sesesungguhnya yaitu pemilik kedaulatan. Itu idealnya. Senyatanya?

Tidak untuk menuduh media-media saat ini, hanya analisis logis untuk memaklumi tak ada yang tidak berpihak. Semenjak pihak swasta diberi kesempatan bermain di media publik, terutama televisi, industrialisasi dan kapitalisasi media bermunculan bak jamur di musim hujan. Tujuannya jelas : profit!

Loading...

Sebaik-baik orang dalam sebuah korporasi, sifat korporasi itu sendiri tetap sama : rakus, egois, dan culas. Ini sifat yang melekat selama jiwa korporasi itu sendiri masih bernama laba dan keuntungan. Maka, tidak bisa disalahkan apabila media-media saat ini banyak menyiarkan hal-hal yang kurang bermanfaat bahkan tidak mendidik sama sekali, hanya agar diminati nafsu-nafsu banyak orang.

Sifat tersebut di atas juga disadari oleh para politikus dan intelijen global, untuk dimanfaatkan demi tujuan politiknya. Secara awam, sangat mudah dipahami bila setiap negara sesungguhnya berebut porsi kekayaan bumi, sehingga kebijakan politik sebuah negara tidak jauh-jauh dari perebutan wilayah kekuasaan dan pengaruh. Dapat disimpulkan, negara-negara tertentu bisa melakukan operasi intelijen demi kepentingan politiknya, termasuk memanfaatkan rakusnya pemilik-pemilik media swasta negara lain.

Sepertinya memang demikian arah dunia. Hanya saja, ambisi para kapitalis sekuler memperalat negara-negara di dunia terhambat oleh sistem hidup yang secara prinsip berkebalikan 180 derajat : Islam. Jika kapitalis sekuler berprinsip kesenangan dan kesejahteraan, maka Islam datang dan bertahan pada prinsip pertanggungjawaban dunia untuk akhirat.

Rakyat Indonesia mayoritas beragama Islam, secara langsung berhadapan dengan kapitalis sekuler termasuk di bidang media penyiaran. Dan seperti biasanya, rakyat yang menyandang gelar pemegang kedaulatan pun dikalahkan dengan mudah. Caranya, dengan strategi belah bambu, adu domba, dan sering pula melakukan pembunuhan karakter terhadap tokoh-tokoh yang menjadi panutan. Maka, media yang benar-benar pro muslim yang sesungguhnya hanya sedikit dan itu pun bukan mainstream. Kalaupun media mainstream yang menyiarkan hal yang berbau keislaman, pastinya ada pertimbangan pasar yang konsumen terbesarnya adalah umat Islam, dan sama saja kembali ke kepentingan profit semata.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama