Berhala 9 Senti Ini Nyaris Membunuh Bayinya

SERUJI.CO.ID – Dalam perjalanan di sebuah “speed boat” yag cukup padat penumpangnya, dari arah belakang tiba-tiba saya mendengar tangisan seorang bayi yang cukup kuat. Saya pikir waktu itu, wajarlah seorang bayi menangis, barangkali tangisan ini karena sang bayi yang merasa tidak nyaman, kepanasan. Penumpang yang rame, “speed boat” tanpa AC saya kira adalah penyebab suasana yang tidak nyaman bagi sang bayi.

Tangisan bayi seperti tidak henti, dan agak cukup lama kemudian, dari arah belakang saya lihat sepasang suami-istri yang masih muda membawa bayinya ke depan. Sambil berjalan di tengah-tengah hempasan ombak yang cukup kuat saat itu, sang Ibu berusaha menggoyang-goyang sang bayi yang masih tetap menangis. Sang bapak yang mengiringi si istri juga tampak berusaha menghentikan tangisan sang bayi. Sambil tetap mengisap rokok dengan tangan kirinya, dia mengipasi sang bayi yang menurutnya barangkali kepanasan.

Sampai di depan, dekat pintu masuk, tempat angin laut berhembus cukup kencang, tidak jauh dari tempat saya duduk, tangisan sang bayi tidak kunjung reda, bahkan cenderung semakin keras. Dan, dari tempat saya duduk, tampak muka bayi yang semakin merah, keringat bercucuran dari mukanya. Tidak hanya itu, tampak jelas bagi saya, bayi itu kelihatan seperti sesak, pernafasannya tampak cepat. Sementara itu, sang bapak masih setia mengisap rokoknya, dan sesekali, barangkali tanpa disadarinya, gumpalan asap rokok itu bertiup ke arah hidung  sang bayi.

Melihat keadaan bayi seperti itu, naluri saya sebagai dokter seperti tergugah, pikiran saya mengatakan, jangan-jangan bayi itu menangis karena asap rokok yang dihembuskan bapaknya itu. Lalu, agak ragu saya bangkit mendekati sang bapak, “Maaf Mas, bagaimana kalau Anda buang rokok itu dulu, barangkali anak Anda menangis bisa-bisa karena itu.” Tanpa bicara sedikit pun sang bapak melihat ke arah saya, kelihatan tidak senang. Sebaiknya sang ibu tampak tersenyum seperti mengucapkan terima kasih, kemudian dia menoleh kepada sang suami, seolah-olah dongkol dan menggerutu.


Lalu, segera kemudian, entah apa sebabnya, barangkali karena gerutuan si istri, rokok itu langsung dibuang suaminya ke laut. Dan, anehnya, tidak berapa setelah itu, sang bayi berhenti menangis…. “Hmmm, barangkali betul juga dugaan saya, bayi itu menangis mungkin ada hubungannya dengan gumpalan-gumpalan asap rokok asap rokok yang dihembuskan sang bapak, ikut dihisapnya,” bisik saya dalam hati.

Dan, melihat bayi ini, hati saya berkata, “Ini dia contoh nyata perokok pasif yang ada di depan mata kepala saya. Bayi mungil dengan berat hanya beberapa kilo itu ikut menghisap racun yang ditebarkan orang tuanya, dan  juga perokok lain di sekitarnya.”

BACA JUGA:  Rasulullah saw Tidak Berpoligami

Kemudian, seperti diketahui, bahwa perokok  pasif pada seorang bayi jauh lebih berbahaya dibandingkan orang dewasa. Ini disebabkan berat badannya yang kecil, pernapasan yang cepat, maka bayi akan mengisap racun rokok per kilo gram berat badan jauh lebih besar dari orang dewasa. Di samping itu, sistem imunitas yang belum berkembang dengan baik menyebabkan resiko bayi untuk mengalami infeksi pernapasan, asthma, bahkan kematian mendadak menjadi lebih besar pula.

Lalu, menghadapi kenyataan seperti itu, dan melihat orang-orang yang masih tetap merokok dalam suasana udara yang panas, relatif tertutup, penumpang yang padat, saya ingat waktu masih di Pukesmas puluhan tahun lalu di Lampung. Seorang balita yang panas, batuk, dan sesak waktu saya periksa di kamar rumahnya yang sempit, orangtuanya masih sempat merokok di pojok kamarnya tanpa mimik bersalah sama sekali.

BACA JUGA:  Tak Perlu Dijawab

Dan, pantaslah Taufik Ismail sangat terusik dengan tingkah laku pecandu rokok ini yang diekspresikannya dalam sebuah puisi,  “Tuhan sembilan centi.”Saya kutip beberapa bait di bawah ini:

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara- perwira nongkrong merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita

Nah,  bahwa apa yang dialami bayi  tersebut, seperti nukilan bait puisi di atas, adalah bagaikan siksa kubur hidup-hidup yang tak mungkin dielakkannya. Dia bisa menjadi korban berhala 9 centi yang suatu saat siap merenggut nyawanya. Sayangnya, masih banyak para orang tua yang belum menyadarinya, dan kita pun membiarkannya.#irsyalrusad


Bagi pembaca SERUJI yang ingin konsultasi ke “Dokter SERUJI Menjawab” silahkan menuju ke sini.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Nikmat Allah Jangan Dustakan

Kenapa anak itu bahagia? Karena dia tahu berterimakasih dan menghargai hadiah yang didapatnya.

Puasa: Detoksifikasi Dalam Kehidupan Bergelimang Racun

Penelitian juga menunjukkan bahwa pada saat puasa kadar DDT didapatkan meningkat dalam feses, urin dan keringat mereka yang sedang berpuasa. Ini lah salah satu manfaat utama puasa dalam bidang kesehatan, detoksifikasi, purifikasi.

Takut Komplikasi Diabetes? Ketahuilah Kadar Gula Darah Anda

Merasa badan tidak enak, dan kalau gula darah dirasakan tinggi. “Hhmm, apa gula darah yang tinggi dapat dirasakan,” bisik saya dalam hati.

TERPOPULER

Takut Komplikasi Diabetes? Ketahuilah Kadar Gula Darah Anda

Merasa badan tidak enak, dan kalau gula darah dirasakan tinggi. “Hhmm, apa gula darah yang tinggi dapat dirasakan,” bisik saya dalam hati.