close

Merokok Tapi Sehat-Sehat Saja, Kok Bisa?

SERUJI.CO.ID – “Tetangga saya seorang perokok, sekarang usianya sudah 80 tahun, dan kelihatannya sehat-sehat saja dokter,” kata seorang pasien waktu saya beri tahu bahwa sebaiknya dia berhenti merokok.

Banyak pasien lain juga sering mengungkapkan hal yang senada. Ada orang yang perutnya besar, gendut, peminum alkohol, tidak suka berolahraga, atau kebiasaan tidak sehat lain, tetapi yang bersangkutan tampaknya oke-oke saja, atau kelihatan tidak ada masalah dengan kesehatannya dan umurnya juga panjang.

Sering pasien melihat kasus per kasus seperti itu, dan itu juga acap kali dijadikan pembanding dan pembenaran untuk melakukan hal yang sama. Mereka masih tetap merokok misalnya, karena tetangganya atau kerabat dekatnya yang perokok sehat-sehat saja dan usianya tetap panjang juga.

Sebaliknya, ada juga yang melihat mereka yang bukan perokok, tapi menderita kanker, seperti kanker paru. Tidak merokok, tapi meninggal pada usia lebih muda. Tidak gendut, namun menderita diabetes. Rajin berolahraga, tetap saja menderita serangan jantung atau stroke.


Nah, masalah sakit, sehat, apalagi kematian tidak ada yang bisa menjamin. “Seorang perokok berat sudah pasti akan menderita kanker paru?”, “Seorang yang obes pasti pula menderita diabetes?”, “Seorang peminum berat juga sudah divonis akan menderita kanker hati nantinya?”, jawabannya, “tidak”.

Tidak semua perokok akan menderita kanker paru, penyakit paru obstruktif, meninggal pada usia muda. Begitu juga tidak semua mereka yang gendut, perut besar akan jadi penyandang diabetes tipe 2. Bahkan tidak semua penderita hipertensi akan mengalami stroke, serangan jantung dan sebagainya.

Dan, begitu juga, tidak ada yang menjamin kalau Anda sudah memilih makanan yang sehat, tidak merokok, rajin berolahraga, perut Anda tidak buncit, Anda punya attitude yang baik Anda pasti akan tetap sehat, Anda tidak akan menderita diabetes, kanker paru, tidak akan mengalami stroke, serangan jantung.

Lalu, kalau begitu, barangkali ada yang bertanya, “Apa gunanya kita harus berhenti merokok, tidak minum alkohol, mempertahankan berat badan normal, olahraga, memilih makanan yang sehat?”. Pertanyaan yang sering juga diajukan oleh sebagian pasien di ruang praktik saya.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kiranya perlu diketahui bahwa sehat, sakit itu sebenarnya berkaitan dengan probabilitas, atau suatu kemungkinan. Ada orang yang mempunyai kemungkinan besar menderita kanker paru, hipertensi, diabetes, serangan jantung, stroke dan sebagainya. Dan ada pula sebaliknya, mempunyai kemungkinannya lebih kecil. Besar-kecilnya kemungkinan seseorang untuk menderita suatu penyakit itu, penyakit kronis degeneratif seperti diabetes, hipertensi, stroke, penyakit kardiovaskuler, keganasan berhubungan dengan faktor risiko, penyebab yang dia punyai.

Untuk kanker paru misalnya, faktor risiko, atau penyebabnya tidak hanya rokok, banyak faktor lain yang juga ikut bertanggung jawab. Tetapi rokok adalah sebagai faktor utamanya. Sekitar 90% kasus kanker paru berkaitan dengan rokok. Rokok meningkatkan risiko seseorang untuk menderita kanker paru 15-20 kali dibandingkan bukan perokok. Dan juga rata-rata harapan hidup perokok berkurang 10 tahun

Disamping itu, respons tubuh seseorang bersifat unik, baik terhadap rokok yang diisapnya, makanan yang dikonsumsinya, paparan lingkugan sekitarnya, olahraga yang dikerjakan, maupun stress yang dihadapinya, dan sebagainya.

Faktor risiko yang berbeda, respons tubuh yang tidak sama pada setiap orang akan menyebabkan kemungkinan “outcome” yang berbeda pula.

Jadi, kalau kita melihat seorang perokok berat kelihatannya sehat-sehat saja di usia tuanya- saya sendiri jarang melihat yang seperti itu– ini bukan berarti Anda yang juga seorang perokok akan punya keberuntungan yang sama dengan orang yang Anda lihat itu. Keberuntungan orang yang Anda lihat itu bisa saja karena faktor genetiknya, pola makannya yang lebih sehat, lingkungan yang tidak polutif, aktivitas fisik yang lebih bagus, dan mungkin gaya hidup lain yang lebih sehat.

Jadi, bisa saja seorang perokok kelihatannya tidak ada masalah dengan kesehatannya, tetapi menjadikan dia sebagai contoh, pembanding dan pembenaran untuk tetap melakukan kebiasaan tidak sehat itu adalah tindakan yang keliru.

Kalau orang itu tampak sehat-sehat saja, Anda belum pasti akan sama seperti dia. Faktor risiko, respons tubuh Anda tidak sama dengan orang tersebut. Dan, yang pasti adalah, bahwa dengan merokok, Anda mempunyai kemungkinan lebih besar untuk menderita beberapa penyakit yang mematikan, seperti kanker, serangan jantung, stroke, diabetes melitus, dan banyak lagi yang lain. Dan, rokok adalah pencuri umur yang nyata.

Dan, yang pasti, semakin besar faktor risiko yang anda punyai, kemungkinan besar anda menderita suatu penyakit akan semakin besar pula. Karena itu, daripada bertaruh dengan risiko, kemungkinan yang dapat membunuh Anda, lebih baik Anda memilih membuang saja racun 9 senti itu.

(Hrn)


Bagi pembaca SERUJI yang ingin konsultasi ke “Dokter SERUJI Menjawab” silahkan menuju ke sini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Nikmat Allah Jangan Dustakan

Kenapa anak itu bahagia? Karena dia tahu berterimakasih dan menghargai hadiah yang didapatnya.

Puasa: Detoksifikasi Dalam Kehidupan Bergelimang Racun

Penelitian juga menunjukkan bahwa pada saat puasa kadar DDT didapatkan meningkat dalam feses, urin dan keringat mereka yang sedang berpuasa. Ini lah salah satu manfaat utama puasa dalam bidang kesehatan, detoksifikasi, purifikasi.

Takut Komplikasi Diabetes? Ketahuilah Kadar Gula Darah Anda

Merasa badan tidak enak, dan kalau gula darah dirasakan tinggi. “Hhmm, apa gula darah yang tinggi dapat dirasakan,” bisik saya dalam hati.

TERPOPULER

Takut Komplikasi Diabetes? Ketahuilah Kadar Gula Darah Anda

Merasa badan tidak enak, dan kalau gula darah dirasakan tinggi. “Hhmm, apa gula darah yang tinggi dapat dirasakan,” bisik saya dalam hati.

Nikmat Allah Jangan Dustakan

Kenapa anak itu bahagia? Karena dia tahu berterimakasih dan menghargai hadiah yang didapatnya.