JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Logika investasi biasanya sederhana: ketika perang meletus, harga emas naik. Emas adalah aset safe haven, pelarian dari ketidakpastian. Tapi yang terjadi sejak konflik terbuka Iran-AS-Israel pecah pada awal Maret 2026 justru sebaliknya. Harga emas malah terjun.
Dari puncak US$5.608,35 per troy ounce pada Januari 2026, emas merosot lebih dari 19 persen. Bahkan dalam satu pekan saja pada 21 Maret 2026, emas anjlok 11 persen, penurunan mingguan terbesar sejak 1983. Apa yang sebenarnya terjadi?
Inflasi Energi Membunuh Safe Haven Emas
Jawabannya ada di pasar energi. Ketika Iran mengancam menutup Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, harga minyak Brent melonjak ke kisaran US$98 per barel, jauh di atas asumsi APBN banyak negara.
Lonjakan harga energi itu bukan hanya soal transportasi dan BBM, ia merambat ke seluruh rantai produksi, memicu inflasi yang lebih luas dan sistemik.
Di sinilah paradoksnya: inflasi energi yang tinggi membuat bank sentral besar harus mempertahankan, bahkan menaikkan suku bunga. Gubernur The Fed, Michael Barr menyatakan bank sentral AS mungkin perlu mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk mengatasi inflasi.
Pasar pun mulai mengesampingkan kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed sepanjang 2026. Dan ketika suku bunga tinggi, biaya memegang emas (yang tidak memberikan imbal hasil) menjadi lebih mahal secara relatif dibanding obligasi atau deposito, investor pun melepas emas.
Dolar Menguat, Emas Tertekan Ganda
Faktor kedua adalah penguatan dolar AS. Indeks dolar naik hampir 2 persen sejak konflik Iran dimulai, mengakhiri tren pelemahan yang berlangsung beberapa bulan sebelumnya. Karena harga emas dikuotasi dalam dolar AS, ketika dolar menguat, emas secara otomatis menjadi lebih mahal bagi pembeli dari negara lain, permintaan turun, harga ikut turun.
Dua tekanan sekaligus: ekspektasi suku bunga tinggi dan penguatan dolar. Emas tidak punya ruang untuk naik.
Ada juga faktor ketiga yang sering diabaikan: aksi ambil untung. Setelah emas naik 64 persen sepanjang 2025 dan mencetak 53 rekor harga tertinggi baru sepanjang tahun menurut World Gold Council, wajar jika banyak investor mengunci keuntungan begitu ada gejolak baru. Mereka tidak panik, mereka hanya realistis bahwa setelah reli sepanjang itu, koreksi adalah sesuatu yang sehat dan terencana.
Apakah Ini Akhir dari Era Emas?
Belum tentu. Harga emas saat ini di kisaran US$4.500-an memang jauh dari puncak, tapi masih sekitar 50 persen lebih tinggi dibanding setahun lalu. Permintaan struktural tetap kuat: People’s Bank of China (PBOC) terus menambah cadangan emas selama 15 bulan berturut-turut.
Bank sentral negara berkembang lain juga masih aktif membeli sebagai upaya diversifikasi dari dolar. Jika negosiasi Iran-AS berhasil dan harga energi mereda, tekanan inflasi berkurang, dan The Fed kembali membuka peluang pemangkasan suku bunga—emas berpotensi pulih. Tapi kapan itu terjadi, tidak ada yang tahu pasti.
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi berdasarkan data dari Trading Economics, World Gold Council, Reuters, CNN, dan Bank Indonesia. Bukan rekomendasi investasi.
