PALU, SERUJI.CO.ID – Sudah lebih dari dua bulan pascagempa yang melanda Sulawesi Tenggara, pada 28 September 2018 lalu, ternyata belum seluruh sarana dan prasarana bisa pulih seperti sediakala. Seperti sarana prasaran sekolah di Kabupaten Sigi, yang banyak rusak baik akibat gempa maupun likuifaksi.
Hingga saat ini para siswa di Kabupaten Sigi masih belajar di bawah tenda-tenda darurat bantuan pemerintah pusat dan United Nations Children`s Fund (Unicef), akibat sekolah mereka yang rusak dan belum dibangun kembali.
Berdasarkan pantauan di lapangan, Rabu (5/12), kegiatan belajar mengajar para siswa di SD Negeri I Lolu, Kecamatan Sigibiromaru masih tetap menggunakan tenda bantuan Unicef yang dipasang di halaman sekolah itu.
Sebanyak 104 bangunan sekolah hancur diterjang gempa bumi berkekuatan 7,4 Skala Richter yang melanda daerah tersebut.
Baca juga:Â Recovery Pendidikan Pasca Bencana, Sekolah Inisiatif Mulai Dibangun
Meskipun belajar di bawah tenda dengan “melantai”, terlihat siswa-siswi tersebut bersemangat mengikuti pelajaran yang disampaikan guru mereka.
Begitu pula di SMP Negeri 1 Sigi, serta SD dan SMP Maranata, sebagian siswa belajar di ruangan yang tidak rusak dan sebagian lainya di tenda. Kegiatan belajar dengan sarana dan prasarana yang darurat dan sederhana itu, sudah berlangsung selama dua bulan pascagempa.
Oleh karena kondisi belajar mengajar yang belum normal, pascabencana itu, jam kegiatan tersebut tidak sama dengan sebelum bencana alam.
“Jam 11.00 Wita siswa sudah pulang,” kata Ria, salah seorang siswi SMP Negeri I Lolu, Kecamatan Sigibiromaru.
Baca juga:Â Kembali Gempa Guncang Sulteng, Kali Ini 5,5 Skala Richter di Sigi
Sekolah-sekolah yang rusak akibat gempa bumi dan likuifaksi di Kabupaten Sigi mendapatkan bantuan tenda. Selain itu, dibangun WC untuk dimanfaatkan para murid dan guru.
Bupati Sigi Moh. Irwan Lapata mengatakan semua infranstruktur dan sarana umum, termasuk sekolah, puskesmas, rumah sakit, posyandu, rumah ibadah, jalan, maupun rumah warga yang rusak akibat bencana alam dipastikan dibangun kembali, tetapi butuh waktu yang cukup.
“Yang jelas semua akan dibangun kembali,” ujarnya.
Bupati berharap, kegiatan belajar mengajar di seluruh wilayah terdampak bencana alam di Kabupaten Sigi dapat berjalan dengan baik meski hanya menggunakan tenda-tenda dan ruangan kelas darurat.
“Anak-anak sekolah harus mendapatkan pembelajaran yang cukup agar mereka tidak ketinggalan pelajaran,” ujarnya
Ia mengaku selama dua bulan pascagempa, kegiatan belajar mengajar tidak seperti sebelum terjadi bencana. “Mereka jangan sampai ketinggalan pelajaran,” tukasnya. (Ant/ARIf R)