Ini Cara Polisi Hilangkan Trauma Anak-Anak Korban Erupsi Sinabung

0
378
Polisi saat menghibur anak-anak korban erupsi Sinabung, Selasa (27/2/2018. (Mica/Seruji)

MEDAN, SERUJI.CO.ID – Letusan Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumut beberapa waktu lalu meninggalkan trauma bagi anak-anak. Betapa tidak, aktifitas Sinabung masih tinggi dan letusan dapat terjadi sewaktu-waktu sehingga membuat anak-anak ketakutan.

Tanta Sembiring, Ibnu Tarigan, Erianda dan Niki Ginting adalah beberapa murid SD 046417 Desa Naman, Kecamatan Naman Teran, yang mengalami trauma. Mereka masih mengingat erupsi yang mengharuskan keempatnya dan puluhan murid lainnya berlari meninggalkan gedung sekolah.

“Kamila murid- murid yang lari- lari itu. Kami lari ke kampung sebelah saat gunung melerus,” ucap Niki di dalam kelas, Selasa 27 Februari 2018.

Niki menceritakan saat itu mereka sedang belajar. Tiba-tiba terdengar dentuman keras yang berasal dari Sinabung. Mereka langsung berhamburan dari kelas dan berlari ke jalan sambil menangis. Tak hanya anak-anak, orangtua dan warga juga berkumpul di jalanan, ketakutan.

Meski tak masuk dalam zona merah, akan tetapi dari sekolah itu tampak jelas letusan Sinabung. Anak- anak menangis mencari tempat berlindung. Mereka dan warga lainnya langsung berlarian ke Kampung Ndeskati.

“Kami semua lari ke kampung di sebelah sana,” kenang Niki yang diamini teman-temannya.

Ibnu, murid lainnya menambahkan mereka sangat takut dengan erupsi Sinabung. Apalagi bapak dan ibu guru sudah berlari. Dia dan teman-temannya memilih meninggalkan sekolah.

“Kami teriak-teriak dan menangis,” tutur murid kelas 6 itu.

Namun, Tanta Sembiring, tidak bisa menahan air mata. Dia masih mengingat persis letusan Sinabung. Saat kejadian, murid Kelas 5 SD itu melihat Sinabung sudah mengeluarkan abu vulkanik.

“Aku nampak gunungnya berasap. Aku lari saja. Kutinggalkan temanku. Aku takut sekali,” ungkapnya sembari mengusap air mata.

Tanta mengaku saat ini tidak takut lagi. “Karena gunung tidak marah lagi. Jadi kami bisa belajar. Gunungnya sudah baik,” urainya.

Sementara, Beru Tarigan salah seorang warga mengaku selama ini, anak-anak mereka ketakutan bila Sinabung mengamuk. Anak-anak setiap harinya hanya bisa membicarakan letusan Sinabung.

“Erupsi Sinabung membuat desa terkena abunya. Anak- anak rentan terkena penyakit. Mereka ketakutan, kapan saja Sinabung meletus pasti akan kena. Namun, para orangtua yang tinggal di kampung tetap memberikan cerita yang bagus agar anak- anak tidak takut,” pungkasnya.

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Rina Sari Ginting mengatakan untuk memberikan semangat dan pelajaran terbaru bagi anak- anak korban erupsi Sinabung, tim Psikologi Polda Sumut turun ke Desa Naman, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo.

“Kehadiran tim Psikologi Polda Sumut untuk memberikan pelatihan kepada anak- anak. Jadi, semua anak dapat belajar dan jangan bersedih. Kami akan menghibur dan memberikan pelatihan. Anak-anak jangan khawatir. Tetap semangat. Semuanya bisa dicapai dengan belajar sungguh-sungguh. Yang mau jadi Polwan silahkan, Raihlah cita-cita dengan belajar,” ucap Rina di sela-sela menghibur anak-anak korban erupsi.

Sementara itu, Kabag Psikologi Polda Sumut, AKBP Heri memberikan pelatihan kepada anak-anak korban erupsi Sinabung. Anak-anak tampak gembira dan semangat berbaur dengan polisi.

“Kelompok bermain dibuat, anak-anak langsung maju ke depan berbaris. Tema kita menangkap petir,” ujarnya disambut tepuk tangan anak-anak SD.

Pelatihan dipandu oleh AKP Raswan. Ajakannya langsung diikuti oleh murid-murid SD. Beberapa permainan dibuat untuk membuat anak-anak korban erupsi bergembira. Mulai menembak, uji ingatan dan kekompakan.

“Mari kita berlatih,” seru AKP Raswan memandu permainan.

Mendapat ajakan itu, anak- anak korban erupsi langsung berlari ke halaman depan panggung. Mereka berbaris dengan panduan Polwan Polres Tanah Karo. Agar permainan adil, kelas dibagi rata. Ada kelas kecil dan kelas besar. Masing-masing kelas dikawal oleh Polwan. AKP Raswan pun memberikan pelatihan dengan pertanyaan-pertanyaan umum, tentunya yang mengasah kepintaran anak-anak agar melupakan erupsi Sinabung.

“Ingat nama negara di samping kalian dan lakukan penunjunkan lalu tembak,” tutur Raswan menggunakkan pengeras suara.

Ternyata, kegiatan yang dilakukan Polda Sumut mendapat respon dari warga setempat. Mereka berbaur dengan peserta dan personel Polisi yang hadir. Sesekali para warga tertawa melihat dan mendengar pelatihan yang diberikan kepada anak-anak mereka.

“Kami senang kali. Biasanya anak- anak kami cerita gunung saja. Ini orang itu ketawa- ketawa,” ujar warga bermarga Sembiring.

Hadir dalam acara itu Kapolres Tanah Karo, Kasetum, Wadirpamobvit, danramil, Camat Naman Teran, Kapolsek Simpang Empat, Kepala Sekolah SD 046417 dan unsur Muspika lainnya.

Sebelumnya, Gunungapi Sinabung menyemburkan material vulkanik setinggi 5.000 meter pada pukul 08.54 WIB, Senin 19 Februari 2018. Letusan ini disebut-sebut sebagai yang tertinggi selama 2018.

Saat erupsi, juga terjadi gempa vulkanik selama 607 detik. Untuk abu vulkanik, jarak luncur hingga 4.900 meter ke sektor selatan-tenggara dan 3.500 meter ke sektor tenggara timur.

Beberapa kecamatan sempat dilanda hujan kerikil yang dimuntahkan gunung berketinggian 2450 mdpl itu. Kondisi saat itu langsung gelap gulita akibat abu vulkanik yang menyelimuti pemukiman warga. (Mica/Hrn)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama