Oleh Muhammad Hanif Priatama

Bagaimana cara kebanyakan orangtua mengetahui seberapa baik anaknya di sekolah saat ini? Jawabannya : RANGKINGNYA! Ya, tidak ada sarana yang paling populer bagi orangtuanya untuk memantau anak-anaknya, kecuali rangking anaknya. Nilai rapor konvensional yang berupa angka-angka tak begitu berarti lagi ketika ada seleksi masuk ke sekolah di atasnya. Akhirnya lumrah jika orangtua mengkhawatirkan anaknya “KALAH”, karena sedang ada kompetisi untuk ditentukan siapa pemenangnya.

Ada saja alasan para pendidik untuk mempertahankan rangking. Menurut mereka, dengan rangking akan ada semangat untuk berkompetisi sehingga punya daya tanding kelak ketika besar. Tetapi ada yang dilupakan, sesungguhnya semua bentuk kompetisi di bidang olahraga itu hanya artifisial, buatan, tidak senyatanya, hanya permainan. Lihatlah istilah dalam olahraga : pemain, permainan, game, dan lain-lain. Dalam dunia nyata, tidak semua harus kompetisi, tidak semua harus saling mengalahkan. Dalam dunia nyata lebih dibutuhkan rasa untuk hidup bersama, rasa bangga bisa berguna, rasa hebat jadi pahlawan yang berkorban, rasa bahagia tiada yang kalah dan semua menjadi pemenang.

Loading...

Mungkin terbetik rasa penasaran, apa yang dipikir oleh para orang tua sekolah di Indonesia? Mungkin berikut ini di pikiran mereka :
Ibu A : “Duuh, anakku kok tidak mau belajar … nanti tidak dapat sekolah favorit, terus tidak dapat universitas favorit, terus tidak dapat pekerjaan?”
Ibu B : “Anakku harus juara, paling hebat dari anak-anak lainnya, nanti jadi pejabat tinggi, atau profesor”.
Ibu C : “Aku tidak sekolah, dan ternyata sulit mencari pekerjaan. Anakku tak boleh seperti itu. “
Apa yang ada di pikiran Ibu C ini persis dengan seorang Ibu yang diundang di talk show di salah satu TV swasta. Anaknya berhasil meraih prestasi akademik dan mendapatkan beasiswa penuh hingga S3, padahal ibunya hanya seorang buruh cuci.
Baguskah pemikiran mereka? Kelihatannya bagus. Namun, sebuah kompetisi pasti meninggalkan sedikit pemenang dan banyak pecundang. Dan dengan nyamannya seorang pemenang akan berkata kepada si pecundang : “salah sendiri kalah!”

Para pendidik dan para pengelola sekolah juga latah. Karena prestasi yang menjadi prestise, mereka berakal-upaya agar yang masuk ke sekolahnya adalah anak-anak “berpotensi”, sehingga diterapkan standar seleksi yang ketat. Mereka berlomba-lomba agar menjadi favorit, agar mereka ikut membanggakan diri atas rahmat nikmat anugerah tuhan yang seharusnya dialamatkan hanya kepadaNya.

Sekali lagi, dalam kompetisi selalu ada sedikit pemenang dan banyak pecundang. Itu fakta. Sepakbola Indonesia tidak akan pernah mengalahkan sepakbola Eropa, kecuali ada batasan tinggi dan berat badan! Itu seperti seleksi alam, hukum rimba. Seleksi alam itu tegas : kalah maka musnah.

Bagaimana caranya agar si kalah tidak musnah? Pakai segala cara! Jika cara “normal” seperti dunia pendidikan dan pekerjaan tidak bisa, ya lewat jalur lain! Sayangnya, karena sudah dicap “kalah”, maka tetap ingin menang. Karena ingin menang, maka selalu harus ada yang kalah dan dikalahkan! Muncullah : pencuri (mengalahkan yang dicuri), koruptor (mengalahkan orang yang tidak korupsi), pejabat nepotisme (mengalahkan yang mampu secara “normal”), politik uang (pakai cara diluar “normal”).

Apakah mereka yang “kalah” itu melakukan tindakan yang bisa dibenarkan? TIDAK! Tapi pendidikan berbasis kompetisilah yang menciptakan mereka. HEBATNYA BANYAK ORANG “KALAH” TETAP BAIK HATINYA DAN TETAP BAHAGIA KARENA MENGALAH!!!
Tetap saja, karena banyak pecundang tentu kemungkinan munculnya orang-orang jahat (yang ingin MENANGnya sendiri) tentu menjadi besar. Sungguh indah apabila pendidikan menjadi tempat dimana banyak pemenang dan kalau bisa tidak ada pecundang. Artinya, tidak ada kompetisi sama sekali. Anak-anak begitu riang belajar untuk jadi seorang tukang batu, untuk jadi pemungut sampah, untuk jadi sopir, untuk jadi pedagang, karena semuanya pemenang. Dokter dan kondektur bus bukanlah pemenang dan pecundang.

Belajarlah dari budaya antri. Semua yang mengantri sadar bukan untuk berlomba, karena semua akan dapat. Semua menang, tidak ada yang kalah. Jauhilah berebutan, karena sikut dan lutut bisa menyasar ke muka dan perut.

Berlomba itu boleh, tapi berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan untuk saling mengalahkan. Hanya satu kompetisi yang baik : lomba berbuat baik untuk sesama! Selain itu tak patut dilombakan, karena kebanggaan atas kemenangan yang berasal dari kemampuan jasad manusia harus dikembalikan pada Sang Pencipta.

Jika sistem kompetisi dan prestasi didukung, maka pendukungnya bisa jadi sama saja telah berkontribusi melahirkan manusia-manusia yang hanya tahu menang-kalah, menganggap dunia nyata adalah rimba dengan hukum sadisnya, dan jika kalah hanya dua pilihan : “curang” (terus berusaha) atau musnah (putus asa)!

Bagi pendidik dan para pengambil kebijakan pendidikan, ubahlah! Dan jika tidak bisa dirubah, nasib bangsa kita akan terancam dengan kesenjangan. Lihatlah GINI RATIO kita yang semakin besar karena si kaya makin kaya (karena tak pernah mau mengalah) dan si miskin makin miskin (karena tak pernah bisa menang dalam “kenormalan”)!

Dan bagi yang sudah tahu sistem itu buruk, jauhi karena itu dosa. Gunakan kewenangan sebagai pendidik menggunakan sistem yang baik, seperti hindarkan merangking siswa atas prestasi akademik saja.

*) Penulis adalah mantan guru dan kepala sekolah.

loading...

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama