Contoh, ada seorang yang mengabarkan sebuah berita :”Ada penyusup di HMI, jadi bertindak rusuh!”.

Yang membaca bisa salah persepsi. Ada yang memahami masuknya penyusup saat demonstrasi, ada pula yang memahami bahwa di tubuh HMI ada penyusup dari dulu.
Contoh berita di atas bisa dikoreksi dengan TABAYUN. Tapi, tabayun itu proses yang tidak sederhana dan mungkin lama, sehingga tidak banyak orang mau melakukannya. Bahkan, bisa jadi dalam proses tabayun malah membingungkan karena banyak hal yang kontradiktif.

Sekarang, banyak berita yang tersebar lewat medsos dan grup chat. Seringkali melibatkan akun-akun anonim. Dalam grup chat yang berisi ratusan anggota, bisa jadi tidak saling mengenal. Maka, kesempatan menyebarkan berita fitnah lebih leluasa. Apalagi sangat mudah share ke grup lainnya.

Dalam ilmu hadits, persoalan tersebut sudah diatasi dengan periwayatan. Sebuah hadits, walau isinya sangat bagus, tetap dianggap lemah atau bahkan palsu kalau periwayatannya (sanadnya) melalui seorang pendusta (atau orang tidak dikenal) dan tidak ada jalur periwayatan yang lainnya.

Sanad menjadi penting, karena membantu orang melakukan tabayun dengan cepat. Sebaliknya, tanpa sanad, orang malas melakukan tabayun.

Contoh :
Copas dari grup WA tetangga : Bang Dahnil berkomentar ” ….. … … ”

“WA tetangga” adalah anonim. Sehingga sanad putus. Sulit tabayun.

Contoh lain yang agak mending :
Copas dari grup WA tetangga yang diambil dari akun resmi Bang Dahnil …

Walau ada tulisan “WA tetangga”, bisa tabayun ke akun resmi Bang Dahnil. Walau untuk memastikan akun itu resmi atau palsu, masih perlu diklarifikasi (tabayyun lagi).

Contoh lain :
Copas dari grup WA, dicuplik dari kantor berita Antara (link …. )

Walau copas, ada link untuk tabayun lebih cepat. Jika kantor berita resmi, ada pertanggungjawaban dari sisi UU dan kode etik, sehingga bisa dipercaya.

Namun, kantor berita atau lembaga pers yang resmi pun bisa “culas”. Apalagi memproduksi berita demi kepentingan finansial semata. Dengan teknologi ilmu komunikasi massa, masyarakat bisa dibelokkan persepsinya hanya dengan judul-judul provokatif (sering orang cuma baca judulnya saja), atau berita-berita tak seimbang (hanya sisi tertentu yang di blow-up), sesuai pesanan pemilik atau pembayar. Tak peduli akibatnya, yang penting rating tinggi.

Jika saat ini sudah ada referensi hadits-hadits sahih dari para ulama Hadits seperti Bukhari, Muslim dan lainnya, maka sepertinya juga butuh referensi untuk menilai kualitas periwayat berita-berita. Dengan referensi tersebut, bisa dinilai mana kantor-kantor berita, atau mdia-media pers yang bisa dipercaya (tsiqah), bukan pendusta, atau bukan pemelintir berita.

Adakah? Atau buat sendiri indeks “keterpercayaan media”? Atau buat media sendiri?

Jika belum ada, paling tidak jangan terlalu mudah share berita, karena bisa jadi ikut menyebarluaskan fitnah.

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya.
SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan ini, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
SERUJI berhak untuk membatalkan penayangan hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan.
Untuk pengaduan email ke redaksi@seruji.co.id.

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama