Muhammad Hanif Priatama

Sebelum pembahasan tentang “kabar bohong”, ada baiknya lihat kembali ke zaman Nabi Muhammad. Kala itu, Nabi masih hidup, di periode Madinah, kabar bohong di kalangan kaum mukminin tersebar. Desas-desus kabar bohong tersebut bahkan hanya bisa dihentikan oleh Allah dengan diturunkan beberapa ayatNya.

Kabar bohong di kalangan sahabat tidak terjadi di periode Makkah, karena batas antara keimanan dan kekafiran sangat jelas, berbeda dengan di Madinah yang berbaur dengan orang-orang yang terpaksa mengaku sebagai orang Islam padahal hatinya tidak. Periode Madinah muncul orang-orang munafiq yang suka berdusta, berkhianat, ingkar janji dan tak bisa dipercaya.

Loading...

Semua pasti sepakat, hari-hari ini seperti periode Madinah untuk hal adanya banyak para munafik. Jadi, jangan harap sepi akan kabar bohong. Peristiwa kabar bohong zaman Rasulullah di kalangan sahabat adalah ibrah atau pelajaran bagi kaum mukminin bagaimana menyikapi kabar bohong. Benar, kabar bohong atau hoax tidak bisa diberantas karena akan terus menerus muncul. Kabar bohong atau hoax hanya bisa diatasi, atau kalau tidak bisa, disikapi dengan benar!

Bagaimana menyikapi kabar bohong atau hoax terutama yang menyangkut kredibilitas saudaranya semuslim? Ada yang menjawab: Tabayun! Jawaban itu benar, untuk kondisi yang memungkinkan. Bagaimana kalau tidak ada kesempatan tabayun? Karena tidak setiap tabayun mudah dilakukan.

Berikut ini sebuah contoh.
Ada sepasukan tentara disusupi seorang musuh. Ini sudah bencana besar, karena tingkat kepercayaan antara anggota pasukan bisa digoyang habis. Dan benar, saat kondisi darurat, kabar bohong mulai disebar oleh si penyusup, tujuannya memperlemah kepercayaan kepada sang komandan.

Bagaimana cara mengatasi kabar yang belum diketahui bohong atau tidak tapi mendiskreditkan sang komandan? Tabayun? Bisa saja, tapi kurang bijak. Di saat genting, berpikir panjang apalagi berdiskusi lama tidaklah efektif karena sempitnya waktu sehingga harus bertindak dan bergerak cepat.

Akhirnya, hanya rasa kepercayaan para anggota pasukan kepada sang komandan saja yang bisa diandalkan. Andai tingkat kepercayaan goyah, niscaya bencana besar benar-benar akan datang dalam waktu tidak lama.

Tabayun juga berpotensi menambah fitnah jika tidak dilakukan dengan benar. Tabayun tapi pakai media sosial dan di lini masa publik, sama saja menyebarluaskan berita yang belum tahu benar atau tidak. Tabayun ke yang bersangkutan juga belum tentu tuntas, karena keterbatasan kemampuan komunikasi, entah karena kemampuan berbahasa, psikologi ataupun media yang kurang mendukung.

Satu hal yang perlu diperhatikan, dampak kerusakan dari kabar-kabar bohong itu sangatlah besar, hingga Allah menyatakan jika tidak karena karunia dan rahmatNya, niscaya azab akan menimpa di dunia dan di akhirat.

Maka, pelajaran dari Allah yang paling tepat. Dalam beberapa ayat di surat An-Nur (ayat 11 hingga 20) dijelaskan bagaimana seharusnya sikap kaum Muslimin saat kabar dusta menimpa Aisyah r.a. istri Nabi, secara lengkap dan tegas, jangan sampai kembali lagi dilakukan oleh orang-orang yang beriman. Apa itu? Tabayun?

Ternyata, fokus utama dari ayat-ayat itu bukan dengan cara tabayun, walau disinggung. Fokusnya terletak pada ketika menerima atau mendengar kabar. Tidak seharusnya ketika mendengar kabar kemudian membuatnya berprasangka buruk. Bahkan, harus langsung disanggah bahwa itu berita yang dusta, walau fakta mungkin benar.

Selengkapnya, hikmah ayat-ayat tersebut terangkum berikut ini :

1. Yang ikut-ikutan membawa kabar dusta bisa jadi ada saudara seiman juga, tidak boleh diputus persaudaraan tersebut. Anggap saja mereka khilaf.
2. Bila menjadi sasaran kabar dusta, maka sesungguhnya itu baik bagi diri yang menjadi korban menurut Allah. Bisa jadi diuji kesabarannya, dan bisa pula dinaikkan derajatnya.
3. Bagi saudara seiman yang ikut menyebarkan berita bohong karena khilaf, masih bisa bertobat dan memperbaiki diri.
4. Bagi yang memang berniat menjerumuskan, azab yang besar bagi dirinya.
5. Seharusnya ketika mendengar kabar berita yang mendiskreditkan saudaranya, lebih mendahulukan berprasangka baik dan mengucapkan “ini adalah suatu kebohongan yang nyata”, dari pada sibuk memikirkannya dan mencari-cari benar-tidaknya yang malah membuat berita tersebut tersebar luas.
6. Sebuah kabar, apalagi berupa tuduhan kepada saudara seiman, harus ada bukti dan saksi yang kuat. Tanpa bukti dan saksi, sebetul apapun kabarnya atau faktanya, tetap dianggap dusta oleh Allah.
7. Sesungguhnya, saat berita bohong itu tersebar di kalangan saudara seiman, seharusnya azab Allah yang besar akan menimpa baik di dunia dan akhirat. Namun, atas karunia dan rahmatNya, hal tersebut tidak terjadi agar kemudian tidak lagi mengulanginya.
8. Ketika menerima kabar yang mendiskreditkan saudara seiman, dan menganggap itu perkara ringan yang bisa dengan mudah dibicarakan ke orang lain, maka ketahuilah bahwa di sisi Allah itu perkara yang besar.
9. Sikap yang benar ketika mendengarkan kabar bohong adalah segera menyatakan bahwa itu tidak pantas diperkatakan dan dianggap dusta yang besar.
10. Setelah mengetahui hikmah dariNya, diperingatkan oleh Allah untuk tidak lagi melakukan perbuatan seperti itu selama-lamanya.

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama