Shalat berjamaah adalah contoh bagaimana sebuah ukhuwah dibangun. Oleh karenanya, ibadah mulia itu berlipat kali nilainya di sisi Allah.

Ukhuwah itu sendiri ciri keimanan, bagaikan sebuah tubuh yang akan merasakan sakit bila salah satu bagiannya sakit. Jika tidak merasa sakit atau malah membuat sakit, maka bukan bagian kaum mukmin.

Jamaah shalat terjadi, bukan karena sekedar ada imam, namun lebih penting karena ada makmum. Tak ada makmum, tak ada shalat jamaah. Kalau hanya sekedar tak ada imam, salah satu makmum bisa maju menjadi imam.

Di saat Rasulullah masih hidup, semua shahabat belajar shalat dengan berjamaah, belajar menjadi makmum yang baik. Tertib shalat diperhatikan, tertib jamaah ditekankan. Tujuan utama, shalat jamaah harus terlaksana apapun yang terjadi, sebagai gambaran bahwa tidak ada yang lebih penting daripada urusan dengan Sang Pencipta.

Sekarang, tinggal orang Islam itu mampu atau tidak mengejawantahkan pelajaran dalam shalat jamaah di kehidupan keseharian, utamanya dalam organisasi. Berikut ini beberapa hikmah yang bisa diambil :

1. Shaf yang rapi dan lurus. Tidak boleh ada yang terlalu ke depan, atau ke belakang.
Hikmah. Sebagai makmum (baca : misalnya anggota organisasi) tidak boleh merasa lebih hebat atau superior dari lainnya, sebaliknya juga tidak boleh minder merasa bukan apa-apanya.

2. Shaf yang rapat. Tidak boleh renggang sedikitpun.
Hikmahnya, sesama makmum itu bersaudara, sehati, dan akrab. Tidak ada jarak pemisah, tidak pula konflik, iri, dengki dan dendam.

3. Penuhi shaf terdepan lebih dahulu untuk laki-laki, shaf belakang untuk perempuan, tanpa berebutan.
Hikmahnya, setiap makmum selalu berniat berbuat keutamaan, tanpa harus saling menghalangi yang lainnya berbuat keutamaan.
Apabila diminta ke depan maka tidak sungkan atau segan, dan apabila diminta ke belakang maka tidak marah atau kecewa.

4. Makmum menirukan imam, sehingga serempak bergerak dalam setiap gerakan/rukun shalat. Tak seorang pun boleh mendahului imam.
Hikmahnya, jamaah dapat melakukan kegiatan yang berdaya besar bila dilakukan dengan kompak mengikuti arahan pemimpin.
Apabila ada yang berlagak menandingi si pemimpin, niscaya jamaah akan tercerai berai dan mudah dihancurkan, padahal perjuangan belum selesai.

5. Makmum yang terlambat wajib menggenapi kekurangannya.
Hikmahnya, setiap makmum perlu sadar bahwa keberadaan jamaah belum tentu bisa mencukupi kebutuhan dirinya. Juga, kesalahan tidak mesti pada jamaahnya, sangat mungkin karena dirinya sendiri.

6. Ketika imam keliru, makmum membaca “subhanallah”. Bila imam tidak paham kelirunya di mana, maka shalat diteruskan dan makmum tetap mengikuti. Setelah shalat baru disampaikan letak kelirunya dengan baik.
Hikmahnya, pemimpin itu bukan malaikat tanpa cela. Diingatkan namun dengan aturan (etika). Bila belum menyadari kekeliruannya, makmum tetap mengikuti, sambil mencari waktu yang tepat untuk mengingatkan kembali. Tidak bisa seorangpun membubarkan jamaah sebelum selesai pada waktu yang ditentukan.

7. Imam dipilih yang paling menguasai bacaan Al Quran. Namun, bila tidak didapati atau tidak diketahui yang mana, dahulukan yang lebih tua. Makmum harus maklum kondisi imamnya dengan tidak meninggalkan jamaah.
Hikmahnya, pemimpin dipilih dari yang paling berkompeten. Namun bila hal itu tidak bisa diukur, bisa pakai ukuran lainnya. Bukan kemudian jadi alasan untuk tidak mau berjamaah. Ingat, mati dalam keadaan meninggalkan jamaah adalah mati jahiliyah.
8. Adakah hikmah yang lain? Tentu ada. Sila tambahkan di komentar.

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya.
SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan ini, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
SERUJI berhak untuk membatalkan penayangan hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan.
Untuk pengaduan email ke redaksi@seruji.co.id.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama