Kebebasan dalam Berpikir

Hakikat bebas adalah merdeka dari segala hal yang mengikat. Berbicara tentang bebas, kita dapat belajar dari pengalaman komika kenamaan yaitu Ge Pamungkas dan Joshua Suherman yang juga pernah menjadi artis cilik. Dalam salah satu candaannya ia menyampaikan tentang keraguannya yang menyatakan bahwa air hujan dan banjir itu adalah anugerah dari Allah Swt., ia menyatakan hal itu saat ia diberi kesempatan untuk menyampaikan isi pikirannya dalam suatu perhelatan ‘Stand Up’ yang bertemakan “Susah Sinyal”, padahal ia berada di negara yang mayoritas islam dan pada saat itu responden dari acara itu sebagian besarnya adalah umat islam.

Sebenarnya tak ada yang salah dari tuturan Komika yang cenderung gelisah tersebut jika: 1. Ia belum dewasa, 2. Ia tidak beragama dan tidak mengerti agama, 3. Ia tidak berakal sehat, 4. Ia berbicara di depan orang yang tidak beragama dan tidak mengerti agama, 5. Ia berbicara orang yang belum dewasa, 6. Ia berbicara dalam forum yang ke semua pesertanya tidak berakal sehat.

Bagaimana mungkin ia yang sudah dewasa, beragama, berakal sehat (setidaknya belum ada yang bisa membuktikan bahwa dia mengalami gangguan jiwa), berbicara di forum yang hampir bisa dipastikan semua pesertanya adalah muslim dan semuanya berakal sehat. Inilah akibatnya ketika pemerintah dan pihak terkait seolah melepaskan segala fenomena jika itu menyangkut agama dan satu golongan. Amat disayangkan karena kebebasan berpikir tersebut diberikan kebebasan seluas-luasnya jika itu berkaitan tentang menyinggung atau menghina agama dan kelompok islam.

Kalau ada masyarakat yang menyatakan bahwa hujan adalah pembawa berkah, hendaknya ia berpikir bahwa banyak dari tanaman dan tanah yang sangat membutuhkan air hujan. Kalau ada masyarakat yang menyatakan bahwa banjir merupakan sebuah anugerah dan bentuk kasih sayang Allah kepada manusia hendaknya ia berpikir bahwa memang sebenarnya banyaka hikmah tersembunyi di balik setiap musibah jika manusia berpikir. Suburnya alam aceh pasca tsunami, suburnya alam jogja dan tempat terdampak meletusnya gunung berapi dan sinabung. Masih banyak hikmah dibalik setiap kejadian, jangan justru menghakimi tuhan dan meragukan kasih sayang tuhan ketika nalarnya tidak mampu mencerna keagungan tuhan. Agama itu pondasinya percaya, beda dengan ilmu yang berdasar pada keragu-raguan.

Standar ganda diterapkan oleh penegak hukum semakin menandakan bahwa keadilan di negeri ini sudah semakin kritis bahkan mati. Jika itu berkaitan dengan kritik terhadap pemerintah, akan dicari dan diburu seperti hewan buruan. Namun, ketika semua hal yang menyangkut tentang ujaran atau ide tentang menyerang dan memojokkan kelompok agama islam, kasus tersebut akan ditutup atau terkesan jalan di tempat. Kalaupun jalan, barangkali bisa istilahkan jalannya secepat jalan siput yang hanya mengandalkan lendir untuk berpindah tempat.

Sudah banyak kasus yang menggambarkan ketimpangan rasa keadilan di negeri ini, sebut saja penanganan kasus penistaan agama yang dilakukan terdakwa ‘btp’, walaupun kini kasus tersebut sudah berada dalam ketetapan hukum tetap, namun penanganan kasusnya terbilang lambat dan menunggu umat islam melakukan beberapa kali aksi dahulu supaya kasus tersebut tidak jalan di tempat. Kemudian kasus warga tionghoa yang menyatakan akan membunuh beberapa politikus yang getol bersuara di DPR antara lain Fahira Idris, Fahri Hamzah dan Fadli Zon. Sampai saat ini kasus tersebut seolah sudah hilang dimakan rayap. Selanjutnya kasus penikaman ahli IT ITB Hermansyah yang dibacok 4 orang yang tak dikenal di sebuah jalan tol dari jakarta ke bandung, penanganan kasusnya bisa dibilang luar biasa. Bagaimana mungkin kasus yang diterangai penganiayaan bahkan sampai percobaan pembunuhan seperti itu cara menangani kasusnya seperti itu, tersangka dibawa dalam ruangan santai dan hanya diborgol dengan menggunakan borgol plastik. Hermansyah dianiaya setelah ia pulang dari acara ILC yang membahas tentang kasus yang menjerat imam besar umat islam yaitu Habib Rizieq Shihab. Kala itu Hermansyah menyatakan bahwa chat itu direkayasa oleh seseorang dan ia juga menyebutkan siapa pembuat serta penyebar chat tersebut. Ia menyatakan bahwa hal itu sangat dimungkinkan karena salah satu aplikasi media sosial itu memang sangat memungkinkan untuk direkayasa, hermansyah juga menunjukkan bagaimana cara sistem itu bisa bekerja.

BACA JUGA:  SERTIFIKASI KOMPETENSI DAN KUALITAS SDM INDONESIA (Bagian I)

Hal yang sangat berbeda terjadi pada umat islam, contoh yang terang benderang terjadi pada kasus imam besar umat islam yaitu Habib Rizieq Shihab yang notabene kasusnya dibuat-buat karena ada kelompok yang memesan agar ia dikriminalisasi karena ia terlalu lantang menyuarakan kebenaran dan umat islam meyakini kebenaran yang ia sampaikan. Kasus yang menjerat HRS adalah ‘chat mesum’ pada Firza Husein kala itu, padahal secara sah dan meyakinkan bahwa FH tidak mengakui chat itu miliknya dan HRS, namun karena satu dan lain hal FH terkesan terpaksa mengakui apa-apa yang tidak dilakukan oleh HRS kepadanya agar kasusnya yang sedang ditangani kepolisian aman dan tidak diungkap ke permukaan. Sampai saat ini HRS masih berada di Makkah al mukarromah untuk menghindari kriminalisasi kembali menghampiri umat islam, agar kondisi negara stabil jika penanganan kasusnya tidak dilanjutkan. Jika ia pulang, tentu pihak pemerintah akan langsung menangkap dan menahannya dengan berbagai dalih dan rekayasa, saat itu jualah umat islam akan mengamuk dan negara akan keos. Itulah sebabnya HRS memilih bertahan dan senantiasa beribadah di tanah suci mekkah. Meskipun ia di mekkah yang notabene jauh dari Indonesia, namun banyak dari ulama sengaja menemuinya di sana, karena ia sosok dirindukan dan dicintai oleh ulama dan umat islam umumnya

Penanganan kasus ustadz Alfian Tanjung yang nyata-nyata merusak tatanan kehidupan bernegara. Ceramah ustadz Alfian Tanjung tentang bahaya laten PKI ditengarai membuat ia harus masuk jejuri besi secara berulang kali, penanganan kasusnya sangat mengheran publik. Bagaimana mungkin PKI yang dilarang di negeri ini, dan ustadz Alfian Tanjung menyampaikan bahwa PKI akan kembali bangkit tersebut membuat ia ditahan dan dituduh pembuat makar oleh kepolisian. Sampai saat ini ia masih ditahan, pernah dibebaskan oleh pengadilan karena kasusnya dianggap tidak bersalah, namun seketika dan mengejutkan ia kembali ditahan dengan kasus lain yang tak kalah direkayasanya.

Hendaknya kita sebagai negara umat islam memiliki keinginan untuk mempelajari agama islam secara mendalam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, bukan justru menyalahkan meragukan ajaran tuhan. Hendaklah berpikir sebelum bertindak dan berucap agar terbebas dari segala yang mengikat.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama