Frekuensi Nafas Balita

SERUJI.CO.ID – Frekuensi pernapasan dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk diantaranya kondisi kesehatan. Frekuensi pernapasan yang terlalu cepat merupakan gejala yang harus diwaspadai.  Napas cepat dalam dunia medis diistilahkan Takipnea.

Frekuensi pernapasan normal pada dewasa berkisar 18-24 kali /menit. Bayi dan balita memiliki frekuensi bernapas lebih banyak dibanding dewasa, karena volume paru-paru relatif kecil dan sel-sel tubuh sedang berkembang sehingga membutuhkan banyak oksigen.

Untuk menghitung frekuensi napas pada anak sebaiknya dilakukan perhitungan selama satu menit ketika anak sedang tenang. Berdasarkan panduan WHO, definisi Takipnea pada anak adalah;

  1. Anak usia kurang 2 bulan bila frekuesi napasnya ≥ 60 kali/menit
  2. Anak usia 2-11 bulan bila frekuensi napasnya ≥ 50 kali/menit
  3. Anak usia 1-5 tahun bila frekuensi napas ≥ 40 kali/menit

Takipnea merupakan salah satu tanda penting pada penyakit pneumonia, yaitu penyakit infeksi saluran pernapasan akut yang melibatkan paru-paru. Biasanya diikuti juga dengan gejala lain berupa batuk, sesak napas, demam tinggi, napsu makan menurun dan gelisah.

Pneumonia bisa disebabakan oleh bakteri Streptococcus Pneumoniae, bisa pula disebabkan oleh virus yang bernama Respiratory Syncytial Virus.

Hingga saat ini pneumonia masih menjadi masalah kesehatan yang besar, khususnya untuk anak. Data dari WHO dan UNICEF menunjukkan bahwa 16% kematian pada anak usia di bawah 5 tahun disebabkan oleh pneumonia. Ini artinya di bumi ini sekitar 2500 anak meninggal setiap harinya karena pneumonia.

Tak terkecuali di Indonesia, berdasarkan hasil riset kesehatan dasar tahun 2013, prevalensi pneumonia pada balita mengalami kenaikan di tiap propinsi. Insiden tertingginya pada kelompok umur 12-23 bulan (21,7%).

Pneumonia bisa ringan maupun berat, pada pneumonia ringan cukup berobat jalan, namun pada pneumonia berat harus dirawat inap. Segeralah berobat ke dokter bila menemui napas cepat pada anak balit anda.

Upaya pencegahan yang bisa dilakukan untuk mengurangi faktor resiko balita dari penyakit pneumonia yaitu:

  1. Pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun
  2. Imunisasi
  3. Pemberian vitamin A
  4. Hindari asap rokok dan polusi udara
  5. Membiasakan cuci tangan
  6. Menghindari bayi/anak kecil dari tempat keramaian umum
  7. Menghindari kontak anak dengan penderita ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut)

(Hrn)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BACA JUGA
KPU

KPU Banjarmasin Akan Gelar Pentas Budaya

BANJARMASIN, SERUJI.CO.ID- Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Banjarmasin akan menggelar pentas budaya di Siring Sungai Martapura di Jalan RE Martadinata atau depan Balaikota, Sabtu...

Muspida Cianjur Berkomitmen Berantas Miras

CIANJUR, SERUJI.CO.ID - Muspida dan MUI Cianjur, Jawa Barat, berkomitmen untuk memberantas miras dan oplosan dengan cara meningkatkan razia gabungan diberbagai wilayah setiap pekannya. Bahkan kegiatan...

Operasi Gempur Temukan 45.020 Batang Rokok Ilegal

TUAL, SERUJI.CO.ID - Operasi Gempur yang dilancarkan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di Kabupaten Maluku Tenggara, Kota Tual, dan Dobo, ibu kota Kabupaten Kepulauan Aru...

Polsek Ubud Tangkap Warga Australia Aniaya Pacar

UBUD, SERUJI.CO.ID - Kepolisian Sektor Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, menangkap warga negara Australia berinisial AH yang diduga telah melakukan penganiayaan terhadap kekasihnya Agniezka Krzystofowicz...

Bom Perang Dunia Kedua Ditemukan Dekat KBRI Berlin

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Kedutaan Besar RI di Berlin sementara tidak buka pada Jumat (20/4) karena otoritas setempat akan mengevakuasi bom sisa Perang Dunia II...
loading...