Tinta Perjanjian ART Belum Kering, AS Sudah Siapkan Sanksi Tarif Baru untuk Indonesia

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Tinta ART belum kering saat Presiden Prabowo Subianto dan Donald Trump menandatanganinya di Washington D.C. Namun Amerika Serikat sudah memasukkan Indonesia ke daftar investigasi tarif baru. Langkah itu berpotensi berujung pada sanksi ekonomi lebih berat — seolah perjanjian bersejarah itu tidak ada artinya.

AS Buka Investigasi Section 301, Tinta ART Belum Kering Indonesia Sudah Jadi Target

USTR Jamieson Greer resmi membuka investigasi Section 301 of the Trade Act of 1974 pada 12 Maret 2026. AS menyasar 16 mitra dagang sekaligus: Uni Eropa, China, Meksiko, Vietnam, Taiwan, Thailand, Jepang, India, Korea Selatan, Swiss, Malaysia, Indonesia, Kamboja, Bangladesh, Norwegia, dan Singapura.

AS menuding ke-16 negara itu menjalankan structural excess capacity — kapasitas produksi manufaktur berlebihan yang merugikan produsen Amerika. Greer menargetkan investigasi tuntas sebelum 24 Juli 2026. Publik bisa menyampaikan komentar hingga 15 April 2026. Dengar pendapat formal berlangsung awal Mei 2026.

Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif IEEPA, Trump Cari Senjata Baru

Investigasi ini muncul karena Trump kehilangan senjata utamanya. Pada Februari 2026, Mahkamah Agung AS memutuskan tarif resiprokal IEEPA tidak sah secara konstitusional dengan suara 6-3. AS harus mengembalikan lebih dari 166 miliar dolar yang sudah terlanjur dipungut dari importir.

Perjanjian Dagang Bilateral
Presiden Prabowo dan Presiden Donald Trump menandatangani perjanjian perdagangan bilateral. (Istimewa)

Trump langsung bergerak cepat dengan dua langkah pengganti. Pertama, AS memberlakukan tarif sementara 10 persen secara global via Section 122 selama 150 hari. Kedua, USTR membuka investigasi Section 301 sebagai landasan hukum baru yang lebih kuat dan tahan uji di pengadilan.

Ironi Pahit: Tinta ART Belum Kering, Indonesia Langsung Masuk Daftar Sanksi

Inilah ironi yang menampar. Prabowo terbang ke Washington D.C. pada 19 Februari 2026 dan menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) langsung bersama Trump. Nama resmi perjanjian itu: “Implementation of the Agreement toward New Golden Age US-Indonesia Alliance” — hasil negosiasi panjang sejak April 2025.

Indonesia memberi konsesi sangat besar dalam ART. Prabowo membuka akses pasar bagi 99 persen produk AS dengan tarif nol persen. Indonesia juga berkomitmen membeli energi AS senilai 15 miliar dolar, produk pertanian 4,5 miliar dolar, dan 50 unit pesawat Boeing termasuk seri 777 untuk Garuda. Total komitmen pembelian Indonesia dari AS mencapai 33 miliar dolar — 157 persen lebih tinggi dari nilai impor Indonesia dari AS sepanjang 2025.

AS membalas dengan tarif 19 persen untuk ekspor Indonesia — turun dari ancaman awal 32 persen. Produk unggulan seperti sawit, kakao, kopi, karet, elektronik, semikonduktor, tekstil, dan alas kaki mendapat tarif nol persen. Namun kini, dengan tinta ART belum kering, semua itu terancam runtuh oleh investigasi Section 301.

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER