JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Di tengah tekanan global dari konflik Timur Tengah dan ancaman tarif dagang, mesin ekonomi domestik Indonesia justru menyala terang. Menjelang dan selama Idul Fitri 1447 H, jumlah uang kartal yang beredar di masyarakat mencapai Rp1.370 triliun. Itu adalah rekor tertinggi dalam enam tahun terakhir, naik 10,4 persen atau Rp130 triliun dibanding Lebaran 2025 yang hanya menyentuh Rp1.240 triliun.
Uang kartal adalah uang tunai dalam bentuk kertas maupun logam yang beredar di masyarakat sebagai alat pembayaran yang sah.
Lebaran Jadi “Mesin Ekonomi” Terbesar Indonesia
Angka Rp1.370 triliun bukan sekadar statistik bank sentral, ia adalah cermin dari pergerakan 143,91 juta orang mudik, setara 50,60 persen dari seluruh penduduk Indonesia, menurut data Kementerian Perhubungan.
Kepala Peneliti NEXT Indonesia Center Ade Holis menjelaskan, peningkatan uang kartal tidak hanya mencerminkan kesiapan konsumsi, tetapi juga menunjukkan aktivitas ekonomi yang semakin menguat hingga ke tingkat daerah. Uang tidak hanya berputar di kota besar, ia mengalir ke warung-warung di desa, pasar tradisional, dan UMKM kampung halaman.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Sarman Simanjorang menegaskan konsumsi rumah tangga melonjak rata-rata 10–15 persen selama periode Idul Fitri 1447 H.
“Ini adalah momentum untuk mengerek pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I 2026 yang ditargetkan 5,4–5,5 persen,” katanya.
Bank Indonesia sendiri mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Februari 2026 berada di level 125,2, masih di zona optimistis, sementara Indeks Penjualan Riil tumbuh 6,9 persen secara tahunan pada bulan yang sama.
Transaksi Digital Tumbuh 40 Persen: Lebaran Bukan Hanya Cash
Lebaran 2026 juga menandai pergeseran besar pada perilaku pembayaran. Bank Indonesia mencatat transaksi pembayaran digital tumbuh 40,35 persen secara tahunan pada Februari 2026. Ini berarti lonjakan konsumsi Lebaran tidak lagi semata ditopang uang tunai. QRIS, transfer antarbank, dan dompet digital ikut menggerakkan perputaran ekonomi.
Sektor yang paling diuntungkan adalah ritel dan FMCG, di mana Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani menyebut industri ini “sedang dalam musim panen.”
Program BINA Lebaran 2026 yang melibatkan 414 pusat perbelanjaan di seluruh Indonesia menargetkan total transaksi Rp53 triliun, naik 60 persen dibanding tahun sebelumnya. Kunjungan ke pusat perbelanjaan meningkat 10–15 persen, dengan pengguna pesawat saat mudik mencapai 2.400.544 orang, naik dari 2.328.551 pada 2025.
Angka-angka ini adalah konfirmasi bahwa daya beli kelas menengah Indonesia, meski tertekan dari berbagai arah, masih bertahan sebagai tulang punggung ekonomi nasional.
Disclaimer: Data bersumber dari Bank Indonesia, Kemenhub, NEXT Indonesia Center, Kadin Indonesia, APPBI, dan Kemendag per 26–27 Maret 2026.
