JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Pasar keuangan Indonesia kembali menjadi sorotan pada Selasa (10/3/2026) setelah harga minyak mentah dunia mengalami koreksi tajam lebih dari $30 per barel dalam satu sesi perdagangan semalam. Sebuah pergerakan yang secara historis tergolong ekstrem dan berpotensi membalik arah tekanan yang selama sepekan terakhir menekan rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pertanyaan yang kini mengemuka di kalangan pelaku pasar dan analis: apakah penurunan harga energi global ini cukup kuat untuk mendorong pemulihan aset keuangan domestik, atau sekadar jeda sementara di tengah ketidakpastian geopolitik yang belum mereda?
📉 Minyak Anjlok $30: Dari Puncak ke Lembah dalam Semalam
Pada perdagangan Senin malam waktu New York, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mencapai puncaknya di kisaran $119 per barel sekitar pukul 23.00 WIB, sebelum kemudian berbalik jatuh secara dramatis dan ditutup di level $85,27 atau turun 6,19 persen pada pukul 04.37 WIB dini hari. Minyak jenis Brent mengikuti pola serupa, menutup sesi di $88,43 atau melemah 4,6 persen dari posisi tertinggi harian.
Pemicunya adalah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada CBS News pada sekitar pukul 03.00 WIB yang menyebut bahwa Selat Hormuz dalam kondisi terbuka, Trump juga menyampaikan pemerintah AS sedang mempertimbangkan untuk mengambil alih kendali atas jalur pelayaran strategis tersebut. Sebuah sinyal yang ditafsirkan pasar sebagai potensi deeskalasi konflik yang selama ini menjadi biang keladi lonjakan harga energi.
Penurunan ini terjadi setelah minyak mengalami reli luar biasa sejak akhir Februari 2026, dipicu oleh perang antara koalisi Amerika Serikat–Israel melawan Iran yang berujung pada blokade parsial Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur pelayaran yang menanggung sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia.
Produksi Irak dilaporkan sempat anjlok 70 persen ke 1,3 juta barel per hari dari kapasitas normal 4,3 juta barel per hari. WTI pada pekan lalu bahkan mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam sejarah sebesar 35,6 persen, sementara Brent sempat menyentuh $119,50 per barel — tertinggi sejak Juni 2022.
