Terungkap! Colombo dan Manila Jadi Kota Paling Mahal Rumah di Dunia, Lebih Parah dari Hong Kong!

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Bukan Hong Kong atau Singapura, melainkan Colombo di Sri Lanka dan Manila di Filipina yang kini dinobatkan sebagai kota paling tidak terjangkau untuk membeli rumah di dunia. Fakta mengejutkan ini diungkap The Economist edisi 25 Maret 2026 dalam artikel berjudul “The world’s most unaffordable housing is not where you think”.

Menurut laporan tersebut, krisis perumahan Asia semakin parah akibat urbanisasi super cepat. Lebih dari 40 persen penduduk kota di Asia tinggal di hunian substandard alias tidak layak, menurut data Asian Development Bank (ADB).

Data Resmi Numbeo 2026: Colombo Nomor 1 Dunia

Database global Numbeo (Maret 2026) mencatat Price-to-Income Ratio (rasio harga rumah terhadap pendapatan tahunan rumah tangga) yang mencengangkan:

  • Colombo, Sri Lanka → 55,1 (peringkat 1 dunia)
  • Kathmandu, Nepal → 39,2
  • Manila, Filipina → 35,9
  • Shanghai (China) → 34,2

Untuk perbandingan, Hong Kong hanya 30,9 dan Singapura jauh lebih rendah. Artinya, warga Colombo butuh lebih dari 55 tahun gaji penuh untuk beli apartemen rata-rata — tanpa makan, tanpa bayar listrik!

Daily Mirror Sri Lanka (Januari 2026) juga mengonfirmasi: “Colombo ranked as world’s most unaffordable city for homebuyers in 2026” dengan rasio 55,1.

Apa Kata The Economist?

The Economist menulis bahwa kota-kota besar Asia seperti Delhi, Jakarta, dan Manila sedang mengalami “great expansion” tapi pasokan perumahan layak tertinggal jauh. Akibatnya, jutaan orang terjebak di permukiman kumuh, macet parah, polusi, dan kriminalitas.

“The greatest challenge for Asia’s metropolises is a shortage of decent and affordable housing. Fixing that would improve millions of lives,” tulis The Economist.

Penyebab Utama Krisis Perumahan Asia 2026

Beberapa faktor pemicu utama:

  • Urbanisasi masif: ratusan juta orang pindah ke kota dalam waktu singkat
  • Pendapatan rumah tangga rendah sementara harga properti melambung
  • Korupsi dan proyek pemerintah yang lambat (khususnya di Filipina dan Sri Lanka)
  • Pasokan rumah murah jauh di bawah permintaan

Di Filipina saja, backlog perumahan nasional mencapai 10,65 juta unit (data DHSUD 2024-2025). Sementara di Sri Lanka, banyak apartemen mewah justru dibeli ekspatriat, bukan warga lokal.

Dampak ke Masyarakat dan Ekonomi

Krisis ini bukan sekadar soal “mahal beli rumah”. Produktivitas kota menurun karena pekerja menghabiskan waktu berjam-jam di kemacetan, anak-anak tumbuh di lingkungan kumuh, dan generasi muda sulit membangun keluarga. The Economist memperingatkan: tanpa perumahan terjangkau, kota-kota Asia bisa “founder” alias ambruk.

Di Indonesia sendiri, meski belum masuk daftar terburuk, kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya juga mulai merasakan tekanan serupa akibat harga properti yang terus naik.

Rekomendasi & Harapan

The Economist menyarankan pemerintah Asia segera membangun lebih banyak rumah murah, reformasi tata kota, dan kurangi birokrasi. “Political rewards from fixing it may be massive,” tulisnya — artinya, pemimpin yang serius atasi masalah ini akan mendapat dukungan rakyat luar biasa.

Sumber Resmi:

  • The Economist – 25 Maret 2026: “The world’s most unaffordable housing is not where you think”
  • Numbeo Property Prices Index by City 2026
  • Asian Development Bank (data hunian substandard)
  • Daily Mirror Sri Lanka & Inquirer Philippines

Artikel ini disusun berdasarkan data resmi per 27 Maret 2026. Krisis perumahan Asia 2026 bukan lagi isu lokal, melainkan ancaman regional yang harus segera diatasi.

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER