The Power of Qudwah

0
125

Berbagai metode pendidikan sudah dicanangkan dan sudah diterapkan di lingkungan sekolah, baik yang formal maupun informal. Hampir semuanya menekankan aspek kognitif saja. Padahal, pendidikan yang sebenarnya adalah sinerginya aspek kognitif (berpikir) dan aspek afektif (merasa).

Pendidikan kita sangat tidak memperhatikan aspek afektif, sehingga bangsa ini hanya tercetak sebagai generasi-generasi yang “pintar” tapi tidak memiliki karakter-karakter yang dibutuhkan oleh bangsa ini. Kalaupun dicanangkan revolusi mental, sampai tulisan ini dipublikasi, belum jelas seperti apa narasi detail tentang konsep revolusi mental.

Apakah ada metode yang terbaik untuk menyelesaikan masalah besar ini?

Inilah PR besar kita. Kita harus mencari dan merumuskan metode yang terbaik untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa. Dan bukan metode coba-coba, seperti kata sebuah iklan produk, “Buat anak kok coba-coba”.

Kita harus cari metode yang bisa merubah karakter bangsa dari pemalas, peminta-minta, dan korup menjadi bangsa yang bisa bangga akan jati dirinya sebagai bangsa yang bermartabat.

Saya teringat bagaimana Rasulullah Muhammad saw., berhasil merubah bangsa Arab dari jahiliyah menuju bangsa yang cerdas dan maju. Bahkan kalau dilihat dari sudut pandang waktu, kemajuannya sangat fantastis. Kalau dihitung dari masa kenabian sampai beliau meninggal, beliau memerlukan waktu hanya kurang lebih 38 tahun, luar biasa !

“Ah iku kan nabi!” Kalimat ini sering kita dengar sebagai pembenaran akan “kekerdilan” kita. Tapi kita lupa atau tidak serius mendalami kenapa dan mengapa Rasulullah bisa berhasil merubah karakter bangsa arab sedemikian dahsyatnya.

Tarbiyah! itulah jawabannya. Ya, pendidikan dan pembinaan yang dilakukan Rasulullah bisa merubah karakter para sahabat.

Marilah kita menengok sejenak, apa resep Rasulullah dalam mendidik dan membina para sahabatnya. Tulisan kali ini, kita lihat bagaimana Rasulullah menyampaikan risalah kenabiannya yang berupa rukun Islam.

Pertama, bab Sahadah. Rukun pertama ini bukan hanya sekedar keyakinan yang tidak bisa kita lihat dan kita rasakan. Tapi dengan jelas dan terang benderang bagaimana Rasulullah mendemonstrasikan ke-Maha Esa-an Allah. Rasulullah mengatakan tuhan hanya satu dan hanya kepadaNya kita meminta. Beliau tidak pernah tercatat dalam sejarah meminta-minta kepada mahluk Allah lainnya semisal jin. Sungguh indah, ada paduan yang serasi antara lisan dan amal perbuatan yang tentunya bersumber dari hati yang bersih. Ini adalah keteladanan dalam bertauhid.

Kedua, tentang sholat. Sebelum Rasullullah mencontohkan rukun sholat, tidak pernah beliau langsung memerintahkan, “Wahai sahabat sholatlah”. Tidak! Rasullullah sebelum memerintahkan kepada para sahabat beliau mempraktekkan bagaimana sholat yang benar. Rasullullah bersabda “Shallu kama ro-aitumuni ushalli“. ( Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat ). Perintah sholat diawali dengan melihat beliau sholat, disitu ada pendidikan dan keteladanan.

Ketiga, tentang puasa. Suatu waktu Rasulullah mendapati sahabatnya puasa terus-terusan. Dengan tegas tapi lembut Rasulullah bersabda, “Saya puasa tapi saya juga berbuka”.

Beliau menjelaskan kepada sahabatnya bahwa puasa itu bukan berarti tidak makan dan minum dalam waktu yang lama yang bahkan tidak bersifat insaniah. Tapi puasa yang dimulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Rasulullah pun mencontohkan seperti itu, sehingga sahabat tadi “tidak berontak” meski niatnya untuk اَللّهُ semata tapi caranya salah. اَللّهُ tidak akan ridho. Ini bukti lagi sebuah kekuatan dari qudwah, keteladanan.

Keempat, Zakat adalah rukun islam yang keempat. Infaq dan shodaqoh bagian yang tak terpisahkan dari zakat ini. Sejarah mencatat, nabi yang kala itu umur 25 tahun bisa memberi mahar ke khodijah 100 ekor unta dan untanya pun unta merah, unta terbaik. Artinya Rasulullah kaya. Maharnya saja besarnya seperti itu. Istrinya juga saudagar kaya raya.

Coba perhatikan, bagaimana akhir dari kehidupan keluarga Rasulullah yang kaya raya? Beliau tidak meninggalkan warisan untuk anak tercintanya, fatimah. Tapi beliau meninggal warisan untuk ummatnya yaitu quran dan sunnah.

Pertanyaannya, kemana harta kekayaan Rasulullah? Ya pasti, diinfaqkan di jalan اَللّهُ.

Para sahabat tahu pasti tentang hal ini. Sehingga tidak heran Umar ra dan Abu Bakar ra berlomba-lomba dalam bab zakat, infaq dan shodaqoh ini. Umar separuh harta dan abu bakar semua hartanya. Luar biasa, lagi-lagi kekuatan keteladanan.

Kelima, haji. Ada hikmah yg menarik, ketika Rasulullah menyuruh para sahabat yang naik haji untuk menunaikan salah satu rukun haji yaitu tahalul, para sahabat tidak ada yang “mau”.

Akhirnya beliau dengan sedih kembali ke tenda menemui istrinya. Istrinya tahu ada raut kesedihan di wajah Rasulullah. Beliau bertanya, ada apa ya Rasulullah? Beliau menjawab, “baru kali ini apa yang saya sampaikan tidak dilakukan oleh para sahabat”.

Dengan sigap, si istri langsung bertanya, “apa Rasulullah sudah mencontohkan?” Seketika itu Rasulullah sadar bahwa benar beliau belum mencontohkan bagaimana tahalul itu.

Kembalilah Rasulullah mengumpulkan para sahabat dan menyampaikan, “wahai sahabatku, marilah kita tahalul”. Sambil mengajak sahabatnya, beliau mencontohkan bagaimana tahalul itu. Seketika itu juga para sahabat memotong sebagian rambutnya sebagimana dicontohkan oleh Rasulullah. Inilah bukti keteladanan harus ada di depan.

Hikmah apa yang bisa kita ambil? Keteladanan adalah harga mati dari sebuah proses pembinaan dan pendidikan. Anak kita, siswa kita, mahasiswa kita, ummat kita butuh keteladanan.

Keteladanan harus hadir di rumah. Keteladanan harus hadir di depan kelas. Keteladanan harus hadir di pasar. Keteladanan harus hadir di kantor. Keteladanan harus hadir di parlemen dan Keteladanan harus hadir di eksekutif. Keteladanan harus hadir bersama kita.

Ketika keteladanan sudah ada di bumi pertiwi ini, yakinlah “Indonesia Raya” akan berkibar dengan gagah perkasa.

Oleh Firmah Arifin, Dosen di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Alumni KAMMI, Penggiat Gerakan Gotong Royong Muslim Kuasai Media (GMKM)

BAGIKAN
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

Terbaru

Jokowi

Presiden Bertolak ke Turki Hadiri KTT OKI

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Presiden Jokowi didampingi Ibu Iriana Jokowi bertolak ke Istanbul, Turki, untuk menghadiri KTT Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk membahas...
difteri yaman

32 Orang Tewas Diduga Terserang Difteri di Yaman

SANA'A, SERUJI.CO.ID - Kementerian Kesehatan yang dikuasai gerilyawan Syiah Yaman Al-Houthi pada Senin (11/12) mengatakan 32 orang telah meninggal akibat penyakit yang diduga adalah...

Yogyakarta Terima Penghargaan Kota Cerdas Indonesia 2017

YOGYAKARTA, SERUJI.CO.ID - Walikota Yogyakarta, Drs Haryadi Suyuti menerima penghargaan atas capaian prestasi yang diraih Kota Yogyakarta dalam Rating Kota Cerdas Indonesia (RKCI) 2017...
Imunisasi

KLB Difteri, Menkes Minta Kesadaran Kelompok Masyarakat Antivaksin

JAKARTA, SERUJI.CO.ID  - Menteri Kesehatan Nila Moeloek meminta kesadaran akan pentingnya imunisasi kepada kelompok masyarakat yang masih menolak imunisasi atau antivaksin menyusul adanya Kejadian...
imunisasi bayi

Dinkes Jatim: Sudah 72,6 Persen Bayi Diimunisasi DPT

SURABAYA, SERUJI.CO.ID - Dinas Kesehatan Jawa Timur menyatakan telah memberi imunisasi Difteri Pertusis Tetanus (DPT) kepada sebanyak 427.029 bayi lengkap tiga kali dari total...
Syahrul Yasin Limpo

Gubernur Sulsel Ikut Main Film Assalamu Alaikum Calon Imam

MAKASSAR, SERUJI.CO.ID - Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo ikut menjadi pemeran dalam film Assalamu Alaikum Calon Iman yang mengangkat budaya Bugis Makassar. "Beberapa pemain Makassar...