Seni itu mahal, kata orang. Coba pahami teori piramida Maslow, saat semakin terpenuhi kebutuhan dasar, maka akan muncul kebutuhan yang lebih abstrak. Suara indah Celine Dion ditambah gemerlap panggung konser seakan-akan menempatkannya pada “kebutuhan tingkat tinggi” yang hanya dirasakan oleh orang-orang berada, paling tidak terukur dari harga tiketnya.

Tiket konser untuk “mengenyangkan” penggemar yang “borju-borju” ini habis terjual dengan harga termahal 25 juta, setara dengan biaya umroh paket standar, untuk hanya duduk manis pasang telinga sesekali teriak-teriak tepuk tangan. Apa percuma? Memang sangat bagus nyanyinya, sopan orangnya, baik hatinya, namun untuk ke mana uang mengalir perlu diperhatikan atau tidak?

Ini sekedar curiga, bisa jadi salah. Negara-negara “hebat” saat ini sepertinya maju meninggalkan sebelah dunia lain dengan segala masalahnya, entah itu kemiskinan hingga keruwetan politik-kekuasaan. Tanda besarnya, mantan penjajah menjadi negara maju, mantan terjajah hanya maksimal “berkembang”, kecuali merubah diri berwatak menjadi penjajah. Apakah “kemajuan” suatu negara itu bisa jadi karena sumbangsih kemelaratan bangsa lain?

Pikir pendek saja, andaikan semua penduduk bumi hidup dengan standar orang Amerika Serikat, ternyata memerlukan lebih dari tiga kali sumber daya yang dimiliki oleh bumi. Artinya, ketika sebuah bangsa memiliki standar hidup setara dengan negara AS, maka sebenarnya ada jatah bangsa lain yang diambil. Indonesiakah? Bisa jadi.

Belum lagi teknologi yang digunakan untuk konser, beli dari mana? Pakai uang siapa? Kalau jelas-jelas Indonesia berhutang, maka rakyat yang mana yang suka hamburkan uang hutang itu ke luar negeri? Pakai bunga, lagi. Bisa-bisa menjadi bangsa terjerat hutang, dan hanya bisa dibayar dengan menjual sebagian pulau?

“Ini, khan, uang-uangku sendiri! Nyiyir aja loe!” katanya mungkin. Tidak sadar kalau sebagian orang dapat uang lebih besar dari rakyat kebanyakan itu karena negara dan para pengusaha ramai-ramai berhutang. Ilustrasinya begini, si A berhutang 1000 dollar kepada si B, tapi si A mesti beli barang minimal 500 dollar dari si B plus bunga. Tanpa ba-bi-bu, si B sudah dapat kembalian “gratis” dari selisih untung barang plus riba.

Barangkali, yang beli tiket akan merasakan “nikmat”, namun bagaikan menempatkan bangsanya sebagai budak yang terikat hutang tak terbayar dan inflasi tak terkendali. Kemudian, deritanya ditanggung rakyat miskin dengan naiknya harga-harga, tanpa sedikitpun menyusahkan orang-orang berada.

Mending-mending kalau yang dibeli itu menjadi aset berguna. Nah, aset apa yang didapat kalau cuma memenuhi gaya hidup sekedar membeli suara? Maka tak heran jika dalam Al Quran terdapat peringatan bahwa para mutrafin, punggawa negeri pemegang kemewahan pemilik gaya hidup tertinggi, adalah pihak paling pertama melawan rasul dan penyebab datangnya azab kepada suatu bangsa.

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya.
SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan ini, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
SERUJI berhak untuk membatalkan penayangan hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan.
Untuk pengaduan email ke redaksi@seruji.co.id.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama