Sebagai warga muslim, yang merupakan mayoritas penduduk di Negara Indonesia ini tentunya akan merindukan berlakunya norma-norma Agama Islam dalam setiap aspek kehidupan. Demonstrasi yang berjilid-jilid, bentrokan antar massa, juga twitwar bahkan saling menyindir antar sesama anak bangsa bahkan sesama muslim. Bagaimana bisa mewujudkan ukhuwah Islamiyah atau bahkan ukhuwah insaniyah dalam kehidupan bermasyarakat sekarang ini. Perbedaan menjadi pembahasan utama juga sebagai alat digunakan untuk melakukan “pembenaran diri”.

Bahkan rasa akan kenyamanan beribadah sebagai penerapan “Habluminallah” semakin berkurang, dikarenakan sebagian sarana ibadah digunakan untuk diskusi-diskusi yang membahas penegakkan syariat Islam secara menyeluruh atau “kaffah” menjadi UU atau yang menjadikan syariat Islam sebagai kepribadian seorang muslim.

Menegakkan syariat Islam tentunya akan lebih mudah dilakukan dengan menerapkan dalam lingkungan terkecil dalam diri kita, meluas pada keluarga dan lingkungan tempat tinggal. Tentunya syariat Islam tersebut ditegakkan bukan seperti menegakkan “BALIHO” atau bahkan dengan perdebatan sengit yang sebenarnya memiliki tujuan yang sama dengan cara yang berbeda. Lalu siapa yang diuntungkan dengan kondisi itu, tentunya mereka orang-orang yang menginginkan terpecahnya persatuan ummat. Rasa curiga, hasrat untuk selalu berseberangan tanpa melihat siapa yang menjadi teman barunya.

Bahkan dalam kondisi berperang, Allah memberikan firmannya :

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ . إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min BERPERANG maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan berbuat ANIAYA terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah BERSAUDARA, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al-Hujuraat: 9-10).

Bagaimana menyikapi hal ini, maka marilah kita tegakkan Syariat Islam ini dimulai pada diri sendiri dan keluarga kita dengan sebagian contoh sebagai berikut :

  1. Syariat Islam dalam diri sendiri

Bagaimanakah diri kita dalam menerapkan syariat ini dalam sendi kehidupan kita, baik di rumah bersama keluarga, di lingkungan masyarakat, ditempat kerja kita atau bahkan dilingkungan usaha kita bagi yang berwiraswasta.  Bagaimana diri kita terhadap anak – anak atau pasangan kita, apakah sudah sesuai dengan syariat Islam?

Bagaimana kita di lingkungan kerja kita, masihkah kita memiliki hasrat untuk “korupsi” baik dalam bentuk uang atau fasilitas yang bukan hak kita atau bahkan waktu dengan menggunakan waktu bekerja bukan untuk peruntukannya.

Bagaimana diri pribadi kita terhadap Allah Swt, menjalankan ibadah kita dalam bentuk salat 5 waktu sebagai kewajiban dan juga amalan-amalan sunnah lainnya? Atau bahkan dalam membelanjakan “harta titipan” dari Allah, apakah sudah sesuai dengan syariat Islam ataukah banyak hal-hal mudlarat yang kita lakukan.

Jadikanlah diri pribadi kita sebagai titik awal tegaknya syariat Islam, sebelum melangkah lebih jauh kepada orang lain atau bahkan lingkungan.

Ingatlah firman Allah Swt :

يـاَيـُّهَا الَّذَيـْنَ امَنُوْا لِمَ تَـقُوْلُـوْنَ مَا لاَ تَـفْعَلُـوْنَ. كَـبُرَ مَقْتـًا عِنْدَ اللهِ اَنْ تَـقُوْلُـوْا مَا لاَ تَـفْعَلُـوْنَ. الصف:2-3

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. [Ash-Shaff : 2 – 3]

2. Syariat Islam dalam Keluarga

Dalam firman Allah Swt :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

 “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai ( perintah ) Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”, Q.S. A-Tahrim/66: 6

Marilah kita tegakkan dalam keluarga kita untuk menetapi apa yang telah Allah firmankan dalam ayat diatas.

Kita dapat memulai dari hal-hal kecil dalam keluarga kita. Dalam menyelesaikan permasalahan dalam keluarga, pergaulan antara anak – anak, bagai sikap kita terhadap pasangan atau sebaliknya. Tegaknya syariat Islam dalam keluarga, akan menjadi landasan yang kuat buat keluarga kita dalam berbaur dengan lingkungan.

Salat berjamaah dalam keluarga, musyawarah dalam keluarga atau bahkan keadaan keluarga yang romantis, penuh suasana Islami dalam kegiatan keseharian akan menjadi salah satu bentuk syiar/dakwah kita kepada masyarakat di lingkungan tempat tinggal.

Melakukan semua ini tidaklah membutuhkan biaya yang mahal atau bahkan tenaga yang luar biasa. Salat berjamaah apakah butuh biaya? mengajarkan mengaji Al Qur’an kepada anak-anak secara langsung apakah membutuhkan biaya?

Marilah kita tegakkan syariat Islam ini dalam keluarga kita, baik secara fisik seperti bagaimana kita berpakaian atau secara rohani dalam bentuk sikap kita dalam keluarga berdasarkan syariat Islam.

3. Syariat Islam dalam Lingkungan

Kondisi lingkungan yang majemuk tentunya harus memiliki cara-cara khusus. Alangkah bagusnya dengan mengambil filsafat jawa : “Ing Ngarso, sun tulodho, Ing madya mangun karso, Tut wuri handayani”.

Jadikanlah diri kita sebagai contoh tapi bukan “pencitraan” dengan menerapkan dalam keluarga kita. Kita harus menjadi subyek atau penyemangat dalam bekerja sama di lingkungan, dan terakhir jika ada kegiatan masyarakat yang sesuai dengan syariat Islam jadilah sebagai pendorong.

Syariat Islam bukanlah sesuatu untuk diperdebatkan yang memunculkan perselisihan, tetapi untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dimana saja dan kapan saja.

Dalam sebuah peribahas dalam Bahasa Arab :

الْعِلْمُ بِلَا عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلَا ثَمَرٍ

ilmu tanpa diamalkan bagaikan pohon yang tak berbuah

Jadikanlah diri kita jangan sampai menjadi orang yang merugi dalam memakai nikmat waktu yang diberikan oleh Allah Swt. Janganlah menjadi “lilin menyala”, mampu menerangi alam sekitarnya akan tetapi menjadikan dirinya dalam kehancuran.

Tentunya banyak sekali kekurangan dari tulisan kami ini, jika ada penyampaian dalil yang tidak benar, Semoga Allah Swt mengampuni segala kesalahan kami.

Amien.

Tulisan terbaru Misbah Hadi Wiyono (semua)

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya. SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan ini, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin. SERUJI berhak untuk membatalkan penayangan hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan.
BAGIKAN
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

Jiwa Gotong Royong yang Masih Tumbuh Subur

Tempo hari saya tercengang dengan megahnya sebuah masjid di desa Raji,  Demak, Jawa Tengah. Rupanya masjid yang belum selesai di bangun itu sudah menelan...

kebebasan berpikir

Kebebasan dalam Berpikir Hakikat bebas adalah merdeka dari segala hal yang mengikat. Berbicara tentang bebas, kita dapat belajar dari pengalaman komika kenamaan yaitu Ge Pamungkas...
_99517609_gepamungkas_joshuasuherman

Indonesia Darurat Keadilan

Indonesia Darurat Keadilan Salah satu penyebab gagalnya beberapa negara di Afrika di antaranya dalam masalah ketimpangan keadilan, sebut saja di Ethiopia, Zimbabwe dan negara-negara yang...