Acara ILC semalam (23/1)  yang berjudul “RUU KUHP: LGBT dipidana atau dilegalkan?” dalam banyak hal cukup melegakan saya, dimana DPR yang hadir pada acara tersebut sepakat untuk mempidanakan perilaku LGBT. Namun saya terganggu dengan selingan tayangan yang dimata tayangan tersebut tampak sebagai kampanye LGBT.

Seperti biasanya pada saat narasumber berbicara, pihak TV one akan memberikan selingan tayangan yang berkaitan dengan tema yang sedang dibahas. Dalam acara semalam ada tayangan yang menampilkan kelompok pro LGBT sedang melakukan aksi di jalan dengan membagikan sesuatu kepada para pengguna jalan. Disamping itu juga ditampilkan gambar-gambar yang bernuansa pelangi.Saya tidak tahu motif  TV one menayangkan hal tersebut, Apakah suatu kesengajaan agar eksistensi LGBT dianggap sesuatu yang normal?.

Dalam perjuangan yang tertata rapi pasti telah dirancang tahap-tahap perjuangan. Yang saya tangkap komunitas LGBT di dunia tujuan mereka adalah agar mereka disetarakan dengan orang lain yang non LGBT dalam segala sendi kehidupan termasuk pernikahan.

Untuk berjuang di Indonesia yang alhamdulillah mayoritas rakyatnya mentabukan LGBT, maka kemungkinan tahapan perjuangan mereka disini masih pada tahap merubah image masyarakat agar tidak mentabukan LGBT dan mengakui eksistensi mereka sebagai manusia yang punya hak hidup tanpa dipandang sebagai sesuatu yang hina. Untuk berjuang agar mereka bisa menikah sesama jenis tentunya tetap akan diperjuangkan tapi bukan saat ini waktunya.

Apa yang ditayangkan dalam selingan acara #ILCLGBT semalam saya rasa bisa dikategorikan kampanye LGBT untuk tahapan pengakuan eksistensi mereka agar tidak dipandang tabu, dan ini bahaya. Sebab bila masyarakat sudah tidak menganggap tabu maka mereka akan dengan pede bergaul di tengah masyarakatnya dengan identitas jenis kelamin bukan laki-laki dan bukan pula perempuan.

Bila komunitas LGBT sudah pede dan masyarakat juga menerima dengan baik tanpa ada upaya untuk mengubahnya karena dianggap sesuatu yang wajar sebagai bagian dari kehidupan maka mereka akan melanjutkan perjuangan ditahap berikutnya untuk mewujudkan cita-cita mereka yaitu diakui dan diperlakukan sama di semua sendi kehidupan termasuk pernikahan.

Saya bahagia para pembuat aturan di negeri ini sudah satu kata untuk mengkriminalkan perilaku LGBT. Namun jangan hanya sampai disitu, negara ini juga harus memikirkan bagaimana mengelola orang yang terdeteksi LGBT. Harus ada upaya untuk menyadarkan mereka bahwa mereka sakit dan perlu diobati.

Kemarin saya melayani pasien perempuan yang berpenampilan layaknya lelaki, rambutnya cepak. Saya belum bisa memastikan bahwa dia suka sesama jenis, karena saat kutanya apakah dia punya cowok dia menggeleng, namun saat kutanya apakah dia punya cewek raut mukanya tampak kaget lalu dia diam menunduk dan tidak menjawab.

Saya khawatir dia penyuka sesama jenis, sebagai sesama manusia saya merasa kasihan sama dia, naruni saya sebagai seorang dokter adalah ingin mengobati, yah…mengobati kecenderungan hatinya yang salah. Tapi apa daya, saya adalah orang lain dan dia tidak merasa sakit dan ingin diobati, maka saya tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa prihatin.

Saya termasuk orang yang berpemahaman sesuai dengan apa yang diajarkan waktu saya dulu kuliah di fakultas Kedokteran dalam mata kuliah Ilmu Penyaki jiwa, bahwa LGBT dikategorikan sebagai salah satu gangguan kejiwaan karena orientasi seksualnya yang tidak normal.

Bagaimana bila yang bersangkutan tidak merasa sakit? Sebagai dokter saya biasa menghadapi pasien yang tidak merasa sakit, misal penderita hipertensi datang ke tempat praktek saya karena keluhan gatal, setelah diperiksa tensinya ternyata melebihi normal dan dia nyaman-nyaman saja tidak merasakan gangguan kesehatan seperti pusing dan lain sebagainya.

Apalagi untuk pasien dengan gangguan kejiwaan, sangat sering kita menemui pasien yang tidak merasa sakit, bahkan untuk diobati harus dipegang oleh beberapa orang. Di RSJ bagi penderita yang masih dalam kondisi gangguan jiwa akut misal mengamuk, mereka ditempatkan dalam tempat khusus sehingga mereka tidak bisa menyerang orang lain.

Maka ketika orang yang terindikasi LGBT bahkan mendeklarasikan dirinya LGBT dan kekeuh tidak merasa sakit dan tidak mau diobati maka negara jangan tinggal diam. Harus ada upaya negara untuk menyadarkan dan mengobatinya. Dan ini masih menjadi PR besar bangsa kita untuk membuatkan payung hukumnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama