Ustadz gagal berceramah karena terhalang sesuatu hal itu biasa. Yang tidak biasa, penyebabnya karena tidak diinginkan oleh sekelompok orang atau massa. Seperti yang terjadi terhadap beberapa ustadz, seperti Ustadz Basalamah di Kalimantan, Ustadz Bachtiar Nasir di Garut, Ustadz Abdul Somad di Bali, dan yang terbaru namun belum terkonfirmasi, Ustadz Abdul Somad gagal memberi ceramah di Hongkong.

Apa motif orang-orang atau massa tersebut menggagalkan ceramah? Bukankah ceramah yang dilakukan seorang ustadz itu jelas dilakukan di kalangan terbatas, yaitu majelis ta’lim yang pesertanya muslim semua?

Jika alasannya “radikal”, tentu tidak boleh dijustifikasi dengan cara penggagalan ceramah, karena sama saja melanggar hak warga yang dilindungi undang-undang : kebebasan berpendapat. Bahkan kalaupun sudah bertindak radikal sekalipun, hanya aparat penegak hukum yang diperbolehkan bertindak.

Andai alasannya “memecah belah bangsa”, maka sesungguhnya Nabi Muhammad ketika awal berdakwah kepada kaum Quraisy juga mendapatkan pernyataan yang hampir sama. Berarti, bisa jadi orang-orang yang menolak dengan alasan tersebut memiliki sifat-sifat yang sama dengan kaum jahiliyah dulu.

Orang kafir Quraisy sangat status quo, nyaman pada kedudukan saat itu, walau berdasar sesuatu yang salah fatal, seperti menyembah berhala yang tidak pernah disyariatkan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail. Bisa jadi karena sudah terbawa kesalahan dan sekedar diikuti secara taklid serta mengagungkan tradisi, pemikiran menjadi jumud dan terbatas.

Sesungguhnya menolak ceramah ustadz dengan melakukan persekusi itu sendiri berpotensi memecah-belah umat. Apa yang dilakukan sama saja mengkotak-kotakkan satu umat dengan umat yang lain, dengan memperuncing perbedaan dan melupakan persamaan-persamaan.

Mengapa tidak kemudian dirangkul, diajak diskusi, duduk sejajar dengan menghormati perbedaan pendapat? Bukankah dengan cara ini mampu memunculkan rasa hormat dan sayang?

Namun, walaupun tindakan terhadap para ustadz itu sepertinya sangat buruk, hal yang sebaiknya dilakukan tetaplah dengan ketenangan dan prasangka baik. Nyatanya, dengan diskusi yang intens, pihak yang sebelumnya menolak ustadz-ustadz ini bisa mengerti dan memahami kesalahpahaman yang terjadi. Jangan sampai gara-gara terlalu membela ustadz, klarifikasi tidak dilakukan malah memperuncing permusuhan melalui media-media dan tersebar luas.

Tulisan terbaru Muhammad Hanif Priatama (semua)

Komentar

BACA JUGA
Khofifah Indar Parawansa

Khofifah Harap Polisi Usut Tuntas Kasus Kekerasan Pada Ulama

SURABAYA, SERUJI.CO.ID - Terkait kasus penganiyaan terhadap ulama atau tokoh agama, Khofifah Indar Parawansa menyesalkan hal itu dan berharap pihak berwenang dapat mengusut tuntas...

Ini Tiga Hal Yang Dibahas Dalam Rapat Rektor Kampus Negeri se-Jatim

SURABAYA, SERUJI.CO.ID - Rektor kampus negeri se-Jawa Timur berkumpul di UIN Sunan Ampel Surabaya, Selasa (20/2), untuk membahas perkembangan terakhir SNMPTN 2018, masalah penomoran...
IAIN Langsa

Rektor IAIN Langsa: Negara dan Presidennya Sama, Tapi Kenapa Kenyataan Sosialnya Beda

KOTA LANGSA, SERUJI.CO.ID – Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa Dr. H. Zulkarnaini, MA mengatakan masyarakat Indonesia belum merasakan kehidupan atau kenyataan sosial...

Jika Menang Pilgub, Puti Guntur Janjikan Pendidikan Gratis

MALANG, SERUJI.CO.ID - Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Puti Guntur Soekarno saat ini tengah fokus mengampanyekan berbagai program untuk...
Puti ke Gereja

Kunjungi Keuskupan Gereja Katolik, Puti Guntur Sampaikan Komitmen Kebangsaan

SURABAYA, SERUJI.CO.ID - Calon Wakil Gubernur Jawa Timur, Puti Guntur Soekarno berkunjung ke Gereja Katolik Keuskupan Kota Malang, Selasa (20/2). Turut mendampingi Sekretaris DPD PDIP...
loading...
IMG_20180220_212008

Pasukan Dayak dan Banser Sepakat Bertemu, Ada Apa..?

Kotawaringin Barat - Sejumlah anggota Barisan Pertahanan Masyarakat Adat Dayak (Batamad) , anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) serta anggota Aliansi Pemuda Dayak (APD) Kabupaten...
20180215_133823

SMA Negeri 1 Merbau Melakukan Aksi Hari Hijab Massal

Para siswa perempuan berbaris dengan rapi di Jalan DI. Panjaitan, sambil senyum-senyum siswa-siswa perempuan SMA Negeri 1 Merbau pawai hijab massal. Dengan membawa spanduk...
019786100_1439819451-ilustrasi-penghinaan-1

Hukum Menghina Bagi Muslim, Masihkah Perlu KUHP?

Undang-undang masalah penghinaan pada presiden/pejabat negara dan wakil rakyat menjadi pembahasan yang sangat menarik di masyarakat. Bahkan menjadi kerancuan manakah antara hinaan dan kritikan....