Suntuk menunggu, di sela-sela teriakan kesakitan pasien IGD. Di tangan pegang hp warisan adik yang ganti 4G.

Ada banyak pasien sore itu. Pasien masuk keluar dengan aneka ragam usia dan sakit. Beberapa dokter dan perawat sibuk hilir mudik tangani satu per satu pasien. Salah satunya, Ibu.

Ibu mual lagi, setelah HD semenjak Senin berlalu tiga hari. Terpaksa dibawa ke IGD sesuai pesan dokter Putu untuk beberapa pasien gagal ginjal. Kali ini, sudah tak terhitung opname di rumah sakit UGM. Untung, warisan pensiunan Bapak dan kartu Askes selalu siap. Entah berapa uang yang keluar jika tanpa jaminan.

Menunggu keputusan di ruang IGD, apakah opname, atau pulang, ternyata cukup lama. Dari siang bakda dhuhur hingga adzan Maghrib, baru dokter menetapkan harus opname gara-gara elektrolit darah perlu dikoreksi. Sela waktu yang tak sebentar itu, hanya sibuk dengan hp warisan, sambil baca-baca status medsos.

Tak pernah jadi politisi, tapi yang dibaca politik. Seakan-akan ikut atur negara, padahal hanya ikut arus pembicaraan di medsos. Dari mulai presidential treshold, sampai impor beras. Dari Ihza hingga Fahri.

Karena perut lapar, kaki melangkah ke loby depan rumah sakit. Cafe and Cake kira-kira namanya di sana. Berbagai jenis roti dengan harga terpampang membuat segan membeli. Delapan ribu untuk hanya sekedar mengisi perut sebentar, dengan roti yang hanya beberapa gram, membuat tangan beralih ke minuman kacang hijau kotak, yang ternyata harganya tidak beda jauh.

Syukurnya, Ibu tertarik minuman kacang hijau walau sedikit. Seleranya yang jatuh bebas seperti sedikit terobati. Sambil mendampinginya, sandal jadi pengganti kursi yang tidak disediakan di ruang IGD.

Jelang malam ketika sudah di bangsal Srikandi, Kakak menggantikan jaga. Ibu juga sudah semakin tenang. Waktunya pulang.

Sampai rumah, ternyata tak ada makanan. Terpaksa keluar, mencari warung seadanya. Di Jogja, tak sulit cari makan malam-malam. Andalan para mahasiswa ada di dua tempat yang selalu ada di setiap jalan dan gang sekitar kampus: warung burjo dan angkringan.

Warung burjo rata-rata dimiliki atau dikelola oleh orang Sunda, kebanyakan Kuningan, walau sekarang orang-orang lokal pun ada yang menirunya. Sedangkan angkringan, muncul dan diciptakan oleh penduduk lokal dengan menu terkenalnya : nasi kucing.

Karena malas berkendara di tengah hujan, warung burjo terdekat yang menjadi sasaran. Sambil celingak-celinguk cari menu karena tak terbiasa makan di luar, dan memang tak ada menu-menu spesial kecuali sayur kuning dan kering tempe plus sambel. Paling, hanya telur yang digoreng tanpa garam.

Tak dikira, porsi yang disodorkan setara porsi tukang, menggunung. Apa bisa habis?

Dan benar, cukup mengeluarkan upaya juga untuk menghabiskannya. Serasa makan dua porsi!

Ketika hampir selesai, harga nasi telur sudah coba dikira-kira. Barangkali normalnya delapan atau sembilan ribu, sebuah harga yang sudah murah karena sudah pakai telur dan sambel. Namun, benar-benar mengagetkan ketika uang yang harus keluar hanya selembar lima ribuan!

Seorang pedagang burjo di tepian kampus kecil untuk ukuran Jogja, mampu menyajikan makanan super efisien. Memang tak ada istimewa, namun apa mahasiswa-mahasiswa kelaparan karena uang saku habis peduli itu?

Hebat! Limaribu untuk nasi telur, bahkan di saat beras dinyatakan langka dan mahal. Bandingkan pula dengan roti mewah di etalase. Andai negara bisa seefisien si pemilik warung burjo, bisa jadi tak ada rakyat satupun kelaparan walau tidak impor sedikitpun. Siapa tahu.

Langganan berita lewat Telegram
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama