“Saya meyakini, kalau hal-hal yang rumit-rumit tadi lebih disederhanakan, hal-hal yang sebetulnya mudah itu lebih digampangkan, saya kira untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tujuh persen juga bukan sesuatu yang sulit” ungkap Jokowi di hadapan para pelaku usaha saat masa kampanye pemilihan presiden. 

Janji memang manis, tapi kenyataan berkata sebaliknya. Mari kita lihat !

Pada tahun 2015 , target pertumbuhan ekonomi hanya berkisar 5,8%. Kenyataanya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi 2015 sebesar 4,88%. Realisasi tersebut ternyata merupakan yang terendah sejak enam tahun terakhir.

Loading...

Tahun 2016 pun idem. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,02 persen di 2016. Masih jauh dari janji Jokowi.

Untuk 2017 sendiri, Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyepakati target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1 persen.

Bagaimana 2018 ? Target pertumbuhan ekonomi yang diusulkan pemerintah dalam RAPBN (Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) 2018 sebesar 5,4 persen. Namun para pelaku usaha yang bernaung di bawah Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 berkisar antara 5,05 – 5,20 persen.

Jika demikian, apakah alasan cerdas untuk “2 periode” ? Tampaknya pendukung Pak Jokowi harus kerja keras untuk mengangkat elektabilitas beliau. Boleh jadi got-got parit bisa jadi pilihan tempat blusukan. Bukankah ini musim penghujan ? Oh ya. Jadi ingat janji yang lain. Jejak digital memang sulit dihapus, seperti katanya :

Jokowi : Macet dan Banjir Lebih Mudah Diatasi jika Jadi Presiden

Tulisan ini cukup ditutup dengan kalimat :

“Manusia itu yang dipegang janjinya. Apalagi agama mengatakan : ingkar janji adalah ciri orang munafik”

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama