Wajahnya tampak putih bersih dan cantik, penampilannya tidak norak, pakai rok. Begitu baca namanya di lembar catatan medik saya langsung tersentak. Astaghfirullah, dari namanya jelas nama laki-laki. Mulai dag dig dug hatiku, khawatir bahwa dia waria.

Dia datang berobat dengan keluhan batuk-batuk dan dadanya sesek, maka saya advis untuk cek dahaknya untuk mengetahui ada kuman TBC atau tidak pada paru-parunya. Dan ternyata hasilnya terdapat gambaran BTA (Bakteri tahan Asam) pada apusan dahaknya, yang itu berarti pemuda cantik tersebut positif mengidap TBC.

Kuberikan dia resep obat anti TBC sesuai dengan regimen yang direkomendasikan WHO dengan memberikan keterangan aturan meminumnya tentunya. Serta sekilas saya edukasi mengenai penyakit TBC.

Kemudian saya menggali banyak informasi tentang pemuda tersebut, terkait perilakunya sehari-hari. Dan akhirnya bisa kusimpulkan bahwa dia gay. Miris memang, tapi itulah kenyataannya.

Sudah menjadi protap dunia medis bahwa kelompok resiko tinggi untuk dikonseling agar bersedia periksa HIV, maka pada pemuda itupun kukonseling untuk test HIV, apalagi dia sudah terinfeksi TBC yang berarti dia termasuk suspect kuat pengidap HIV.

Alhamdulillah pemuda itu setuju dan bersedia di ambil darahnya dalam rangka test HIV dan sesuai dengan dugaanku hasilnya positif pada test screening tahap pertama ini.

Pasien TBC BTA positif dengan test HIV screening tahap pertama positif maka sudah bukan kewenangan saya lagi sebagai dokter umum untuk merawatnya, sehingga ku rujuk dia ke RS untuk ditangani tim dokter ahli disana.

Sekitar kurang lebih satu bulan kemudian saya mendapat kabar pemuda cantik yang baru berusia 27 tahun itu meninggal dunia. Dan yang lebih memilukan lagi ternyata pemuda itu anak tunggal dari keluarga petani yang tidak kaya.

Pemuda itu bukan berasal dari komunitas kota, dia adalah pemuda kampung. Rupanya komunitas para penyuka sesama jenis sudah masuk ke kampung-kampung. Maka mari kita jaga diri dan keluarga kita masing-masing dari virus moral yang sangat merusak jiwa dan raga tersebut.

#Liku2MejaPraktek

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya.
SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan ini, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
SERUJI berhak untuk membatalkan penayangan hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan.
Untuk pengaduan email ke redaksi@seruji.co.id.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama