
Tahun 2018 dianggap sebagai tahun pesta demokrasi, dalam tahun tersebut pemilihan kepala daerah dan anggota legislatif dilaksanakan. Hal ini diikuti dengan naiknya suhu politik di negeri ini. Ibarat orang berjualan barang di pasar, tahun-tahun yang lalu cukup memakai tulisan di depan tokonya. Pada tahun 2018 ini segala cara dipakai, dari menggunakan pengeras suara bahkan membuat layar lebar di tokonya.
Setiap penjual menawarkan dagangannya setiap saat dan dimana saja. Ada yang memberikan informasi produknya, akan tetapi ada juga yang dengan menjelekkan produk saingannya.
Kita sebagai warga muslim harus mampu menempatkan dirinya dalam suasana hingar bingar perpolitikan ini. Saat inilah sebagai tantangan seorang muslim yang memiliki pedoman Al-Qur’an dan Al-Hadits dapat menempatkan dirinya berdasarkan hukum Islam. Hal ini secara otomatis sebagai sarana dakwah umat muslim, yang dapat memberikan contoh secara perbuatan.
Sebagaimana Hadits Rasuullah Saw :
1. مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللهُ فِي أُمَّةٍ قَبْليِ إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّوْنَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُوْنَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُوْنَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوْفٌ يَقُوْلُوْنَ ماَ لاَ يَفْعَلُوْنَ وَيَفْعَلُوْنَ ماَ لاَ يُؤْمَرُوْنَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذلِكَ مِنَ الإِيْمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلَ (رواه مسلم من باب الإيمان).
“Tidaklah seorang nabi yang diutus Allah dari umat sebelumku, kecuali dari umatnya terdapat orang-orang hawariyun (para pembela dan pengikut) yang melaksanakan sunnahnya serta melaksanakan perintah-perintahnya. Kemudian, datang generasi setelah mereka; mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mereka mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan. Oleh karena itu, siapa yang berjihad terhadap mereka dengan tangannya, maka ia adalah orang mukmin, siapa yang berjihad melawan mereka dengan lisannya, maka ia adalah orang mukmin. Dan siapa yang berjihad melawan mereka dengan hatinya, maka ia adalah orang mukmin. sedangkan di bawah itu semua tidak ada keimanan meskipun hanya sebesar biji sawi (H. R. Muslim)”
Perbedaan dalam pilihan politik janganlah dijadikan sebagai sumber perpecahan. Semua muslim harus menyadari akan tujuan hidup di dunia ini. Persaudaraan, kekerabatan dan pertemanan menjadi renggang atau bahkan terputus sebagai akibat perbedaan pandangan atau pilihan politik.
Ukhuwah menjadi barang yang “murah”, karena dengan mudahnya ditukar dengan perbedaan. Kawan menjadi musuh, teman mengaji menjadi saling memaki, teman berjihad menjadi saling menghujat. Pilkada dan Pileg adalah sebagian kecil proses kehidupan, bahkan boleh dikatakan sebagai ujian untuk ummat Muslim. Akankah karena hal yang kecil ini, maka kita akan menggadaikan ukhuwah ini.
Ingatlah akan Hadits Rasulullah Saw :
عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ : ((لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ [مِنَ الْخَيْرِ])) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.
Dari Abu Hamzah, Anas bin Mâlik Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan”. [HR al-Bukhâri dan Muslim]
Janganlah kita menggadaikan ukhuwah ini hanya untuk urusan dunia seperti Pilkada dan Pileg ini. Bahkan terkadang kita sangat begitu yakin terhadap orang yang kita pilih. Bahkan melupakan tata cara Islam dalam menentukan sebuah pilihan seperti Salat Istikharah. Janganlah kita sebagai muslim tenggelam dalam hiruk pikuknya acara demokrasi ini. Pengajian rutin dirubah menjadi pengajian kampanye, sarana ibadah digunakan sebagai sarana kampanye.
Bahkan Allah Swt berfirman :
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (QS. al-Hadîd [57]: 20)
Marilah kita bersama-sama memperkuat ukhuwah kita, baik ukhuwah Islamiyah maupun ukhuwah Insaniyah. Janganlah musuh-musuh Islam bergembira melihat perpecahan ummat Islam “hanya” karena urusan Pilkada dan Pileg ini.
Dalam sebuah Hadits Rasulullah Saw dijelaskan :
“Sesungguhnya aku sudah memohon kepada Rabbku untuk umatku janganlah Dia membinasakan mereka dengan paceklik yang merajalela, jangan menundukkan mereka kepada musuh dari luar kelompok mereka yang menodai kedaulatan mereka. Sesungguhnya, Rabbku berfirman: Wahai Muhammad! Sungguh jika Aku telah menetapkan suatu ketetapan, maka tidak bisa ditolak. Aku berikan kepadamu untuk umatmu agar mereka tidak dibinasakan oleh paceklik yang merajalela dan agar mereka tidak dikuasai oleh musuh dari luar mereka yang akan menodai kedaulatan mereka, sekalipun musuh itu berkumpul dari seluruh penjuru dunia, kecuali jika sebagian dari mereka membinasakan sebagian yang lain dan mereka saling menawan satu sama lain.” (HR Muslim dan Tirmidzi).
Begitu jelas dan terangnya, Allah Swt dan Rasulullah Muhammad Saw memberikan aturan-aturan juga peringatan kepada ummat muslim, agar mampu menempatkan dirinya didalam kondisi saat ini.
Semoga Allah Swt senantiasa memberikan hidayah dan rahmat Nya kepada kita semua.
Aamiin aamiin yaa rabbal ‘alaamin
