Demi mencitrakan seorang dewa, Napi Ahok yang mulia tiada tara, muncullah cerita seorang siswi SMA 30 Lamongan yang mengirim surat kepada Ahok agar ditebuskan ijazahnya. Sayangnya, cerita yang diduga keras dikarang berlebihan ini telah memfitnah Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, seolah tidak becus melaksanakan tugasnya.

Kepala Dinas Pendidikan Jatim telah mengambil langkah yang tepat dengan meminta nama siswi yang dimaksud agar bisa ditindaklanjuti. Sebab itu adalah kewenangan Dinas Pendidikan. (walaupun SMA 30 Lamongan nyata imajinernya 😬🙈).

Katakanlah Napi Ahok betul-betul tulus hati membantu, mestinya dia menyuruh stafnya mengirim surat kepada Disdik agar ditindaklanjuti Disdik. Bukan dengan memerintahkan si siswi menghubungi stafnya. Nah, kalau begini khan jadi senjata makan tuan? 😁😁😀😀

Hal yang kemudian menyedihkan adalah pembelaan (ngeles) dari jurnalis yang berdalih bahwa SMA 30 Lamongan adalah penyamaran nama sekolah. Demi kode etik jurnalistik? Its oke kalau mau ngeles seperti itu. Tapi ayo donk, sampaikan saja data siswi secara personal ke Disdik, kalau memang ada.

Dan hal yang paling menyedihkan adalah kita-kita yang percaya betul bahwa cerita itu benar adanya. Di mana logika kita?

Bagi yang tadinya percaya SMA 30 Lamongan ada. Lantas kini percaya bahwa itu hanya penyamaran. Ayolah berfikir, kalau benar-benar siswi itu ada, tinggal berikan saja namanya ke Disdik. Tidak perlu bersembunyi di balik kode etik jurnalistik segala.

Ada lagi yang lebih tragis. Ketika kita memaparkan fakta seperti ini, akan dicaci maki kemudian dijudge: intoleran lah, penuh kebencian lah, sehingga tidak bisa melihat kebaikan orang lain. Sangat sempurna tidak nyambungnya.

 

Perlu dipahami bahwa cerita yang diduga keras khayalan semacam ini yang terus dijaga eksistensinya dengan segala pembelaan dan pembenarannya, yang terus menerus disebar luaskan, lama-lama akan diyakini sebagai sebuah kebenaran. Komentar-komentar membela membabi buta di sosmed adalah representasi dunia nyata.

Oleh karena itu, tugas kita yang masih waras adalah tetap sabar dan tiada lelah terus melakukan penyadaran dengan menyampaikan fakta-fakta. Dan melakukannya dengan cara yang baik, dengan bahasa yang baik, tidak dengan maki-maki sebagaimana yang mereka lakukan.

Ilustrasi (Foto: Twitter @AlvaroAmru)

6 KOMENTAR

  1. Siswi yang dimaksud ada, kasusnya ada. Kejanggalannya, si siswi tidak datang untuk cap 3 jari.

    Kenapa? Karena ditagih tunggakan uang gedung? Setelah kasusnya viral, baru ijasah dikeluarkan.

    Nah kalo udah gini, mingkem lu pada! Ga ada klarifikasi atau minta maaf?

    Nyebar fitnah melulu!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama