Pembahasan Rancangan Undang-undang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RUU KUHP) yang terbaru yang didalamnya mengatur juga masalah hukum pidanan untuk perzinaan dan LGBT terus bergulir dan memanas. Dijadikannya RUU ini memiliki celah-celah yang cukup untuk orang-orang yang Pro LGBT mengambil keuntungan. Beruntunglah masih banyak wakil rakyat yang jeli dengan berusaha mengajukan revisi agar celah-celah ini tidak terjadi.

Dalam “logika bodoh” saya, seorang LGBT tidaklah mungkin melakukan aktifitas seksual secara normal sebagaimana umumnya. Dan hal ini dibenturkan dengan adanya Hak Asasi Manusia yang menjadi alasan untuk melegitimasi keberadaannya.

Panutan Kita Nabi Besar Muhammad Saw, memberikan tuntunannya dalam sebuah hadits:

Loading...

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص اُتِيَ بِمُخَنَّثٍ قَدْ خَضَبَ يَدَيْهِ وَ رِجْلَيْهِ بِاْلحِنَّاءِ، فَقَالَ النَّبِيُّ ص: مَا بَالُ هذَا؟ فَقِيْلَ، يَا رَسُوْلَ اللهِ، يَتَشَبَّهُ بِالنّسَاءِ، فَأُمِرَ فَنُفِيَ اِلَى النَّقِيْعِ فَقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَلاَ نَقْتُلُهُ؟ فَقَالَ: اِنّى نُهِيْتُ عَنْ قَتْلِ اْلمُصَلّيْنَ. ابو داود 4: 282، 4928

Dari Abu Hurairah bahwasanya dibawa kepada Nabi SAW seorang laki-laki yang berlagak seperti wanita, dia memberi warna dengan hinna’ (quitec) pada (kuku-kuku) kedua tangan dan kakinya. Maka Rasulullah SAW bertanya : “Kenapa orang ini ?” Ada sahabat yang menjawab, “Ya Rasulullah, orang laki-laki itu berlagak seperti wanita”. Lalu diperintahkan (oleh Rasulullah) supaya orang tersebut diasingkan ke Naqi’ (suatu tempat di daerah Muzainah, perjalanan dua malam dari Madinah), lalu ditanyakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, apakah tidak kita bunuh saja orang itu ?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya aku dilarang membunuh orang-orang yang shalat”. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 282, no. 4928]

Beberapa poin dalam RUU KUHP terbaru seperti usia 18 tahun ke atas tidak dapat dipidanakan, maka akan menjadi celah yang sangat luar biasa untuk menjadi awal kerusakan moral dan aklak bangsa ini.

Bagaimana kita sebagai warga muslim yang sudah jelas aturan hukumnya mengenai hal ini?

Jika menghadapi musuh yang terlihat secara fisik, maka sangatlah mudah untuk melawannya. Musuh yang ada adalah berupa pemahaman dan sistem, yang akan merubah pandangan di masa depan anak-anak dan cucu kita. Sesuatu yang dianggap tabu dijaman dahulu, dijaman sekarang dapat dianggap biasa. Barangkali sesuatu yang tabu dijaman sekarang, maka akan dianggap biasa pada masa yang akan datang.

Dalam kondisi seperti ini, benteng moral dalam keluarga dan lingkungan harus diperkuat. Dewan Kerja Musholla/Masjid dan Remaja Islam Musholla/Masjid harus semakin diperkuat dan diperbanyak kegiatan sosialnya di masyarakat. Merekalah yang akan bersinggungan langsung dengan individu dalam masyarakat. Hal ini tentunya harus dikoordinasikan dan dibina dengan pejabat-pejabat setempat seperti RT, RW dan Kepala Desa di wilayah masing-masing.

Aktifis-aktifis Islam yang memahami akan akibat fatalnya dari merebaknya LGBT di masyarakat, harus mulai terjun di masyarakat bersama dengan DKM dan RISMA  untuk memberikan pemahaman yang sejelas-jelasnya. Media diskusi dan kajian-kajian mendasar harus segera dipahamkan di masyarakat yang masih awam, agar dapat menjaga diri dari pengaruh buruk akan hal ini.

Hal ini dilakukan sebagai jawaban atas pertanyaan “Jika anggota keluarga anda ada yang LGBT, apakah anda masih akan menerima?”

CEGAH lah pertanyaan tersebut bukan dengan JAWABAN. Lakukan pencegahan secara dini pada keluarga. Karena jawaban “menerima” merupakan indikasi bahwa ada legitimasi dengan keterpaksaan.

DKM dan RISMA jadikan barisan terdepan untuk memberikan penjelasan pada masyarakat. Para orang tua juga mengawasi kegiatan putra dan putrinya. Tanpa bermaksud menafikkan media dakwah lewat televisi atau tabligh akbar, menurut hemat kami kurang mengena di masyarakat.

Pemerintah setempat juga harus menfasilitasi kegiatan DKM dan RISMA tersebut, tentunya dengan rencana kerja yang jelas dan tepat sasaran.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sebagian warga negaranya beragama islam. Semua agama juga menolak akan adanya penyimpangan LGBT. Bukan manusianya yang kita tentang, akan tetapi perbuatan menyimpangnya yang kita tentang.

Perjuangan ini harus terus ditegakkan, sebagai ladang jihad sebagai muslim.

عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

[رواه مسلم]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.

(Riwayat Muslim)

Bahkan Allah menguatkan dalam firman Nya :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Ali Imran: 104).

Tidak ada agama apapun di dunia ini yang membenarkan penyimpangan LGBT. Dan wajib bagi kita untuk mengajak mereka kembali ke jalan yang benar.

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama