Sudah menjadi kodrat seorang ibu yang diberikan perasaan cinta yang seolah tanpa batas kepada anak-anak yang dilahirkannya. Perasaan ini mungkin di ciptakan Allah sebagai tehnik untuk proses keberlangsungan hidup manusia agar tetap bisa berkembang biak.

Coba bayangkan seandainya perasaan cinta seorang ibu kepada anaknya “terbatas” maka betapa menderitanya seorang ibu ketika harus merawat anaknya sehingga jera untuk punya anak lagi. Namun karena Allah mengkaruniakan rasa cinta itu maka kerepotan dan kesakitan tetap saja terasa membahagian. Ibu tetap tersenyum bahagia setelah merasakan nyeri yang luar biasa pada saat persalinan. Ibu tetap riang merawat anaknya yang baru dilahirkannya yang super merepotkan

Sejak mulai mengandung tak jarang seorang ibu sudah harus mengalami penderitaan. Banyak ibu yang harus dirawat inap akibat dari proses kehamilannya, ada yang dirawat karena muntah terus menerus sehingga tidak ada asupan makanan yang bisa masuk. Bahkan ada yang sampai harus meninggal. Di Indonesia angka kematian ibu akibat kehamilan ataupun proses melahirkan masih sering terjadi.

Loading...

Cinta itulah yang sering dijadikan celah penipu untuk melakukan aksinya. Seperti yang terjadi pada kakakku beberapa hari lalu, dia di telefon seseorang yang mengaku sebagai anaknya, sambil nangis orang itu bilang bahwa baru saja mengalami kecelakaan menabrak orang berumur 19 tahun sampai meninggal dunia.

Si penelepon mengaku sedang berada di Polres, dan sedang bersama keluarga korban yang tertabrak. Keluarga korban mengajukan opsi damai dengan meminta uang ganti rugi sebesar 11 juta.

Disebabkan rasa cinta yang mendalam pada anaknya membuat kakakku tidak berfikir panjang, bahkan diapun merasa bahwa itu benar suara salah satu anaknya. Dia menuruti permintaan si penipu tersebut dengan transfer sebesar 1 juta dulu.

Kebetulan sebelum transfer dia menghubungi nomor anaknya yang dimaksud dalam jangka waktu 2 jam tidak ada respon. Setelah anaknya bisa dihubungi ternyata anaknya tidak mengalami kejadian kecelakaan tersebut.

Semoga kisah seorang  ibu yang tertipu ini bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua untuk lebih hati-hati dalam memberikan kepercayaan pada nomor ponsel yang belum dikenal, dan jangan mudah panik, sebab penipu pasti sudah merancang modus yang cukup handal sehingga para target sasaran penipuan bisa percaya padanya.

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya.
SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan ini, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
SERUJI berhak untuk membatalkan penayangan hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan.
Untuk pengaduan email ke redaksi@seruji.co.id.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama