Sekarang sepertinya musim senang klaim, bahkan di antara muslim sendiri. Entah klaim merasa paling benar atau pakai embel-embel Islam Nusantara, Islam moderat, Islam murni, Islam khilafah, dan lain-lain (Islam bhineka ada?).

Untungnya tidak ada yang mengklaim Islam radikal atau Islam liberal, walau dulu ada yang bangga dan terang-terangan. Yang ada, penisbatan oleh kelompok lain. Misalnya, ustadz-ustadz ada yang dijuluki kaum Wahabi, padahal mereka tidak pernah mengklaim sebagai Wahabi.

Perlu diteliti, apakah klaim-klaim ini bermanfaat bagi umat atau tidak. Namun yang jelas, seorang muslim harus meletakkan kewajiban ukhuwah islamiyah di atas perbedaan. Hanya saja, bisa jadi sulit dilakukan karena setiap kelompok merasa memiliki norma ukhuwah versi mereka sendiri, sejalan perbedaan pemahaman masing-masing terhadap Islam.

Selain itu, tak disangkal, ada yang memiliki kepentingan atas terpecah-belahnya umat Islam. Bagi kaum duniawi, julukan para atheis kapitalis, hidup di bumi itu berebut sumber daya. Cara menguasainya dengan melemahkan kekuatan penduduk suatu negara, salah satunya dengan memecah belah. Cara lain yang menyebalkan, mempengaruhi media-media agar yang terpilih menjadi pemimpin dalam pemilu adalah orang-orang yang mudah dikendalikan.

Ketakutan terhadap persatuan umat Islam sungguh terjadi, utamanya bukan oleh warga Indonesia, namun oleh pihak-pihak yang mengincar kekayaan Indonesia. Mungkin, umat ini perlu merujuk Quran dalam membina ukhuwah, khususnya di shurah Al Ashr. Karena, kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya itu dijamin Allah akan memberi jalan keluar dari kesesatan, dan akhirnya terwujud persatuan umat. Itu harapan dan ikhtiar. Perkara hasilnya tidak terwujud, serahkan kepada Allah.

Shurah Al Ashr mengandung metode teruji (proven method), dengan statemen ” … pasti merugi, kecuali …“. Metode agar terhindar dari kerugian bisa digunakan untuk banyak hal, termasuk bagaimana merajut ukhuwah. Berikut ini beberapa penerapannya.

Pertama, ukhuwah hanya bisa terjadi dikalangan orang mukmin, yang beraqidah dengan benar. Tidak mungkin sesuatu yang haq bisa bercampur dengan yang bathil. Selama umat masih banyak yang mengikuti syubhat dan meninggalkan yang haq, sulit untuk bersatu.

Kedua, ukhuwah itu diusahakan, bukan terjadi dengan sendirinya. Ada tindakan yang benar-benar dilakukan, bukan hanya sekedar niat. Tentu yang dilakukan sesuai apa yang telah dituntunkan syariat Islam. Utamanya, mulai dari diri sendiri dan istiqomah menjalankannya.

Ketiga, memiliki jiwa besar untuk menerima kebenaran, dan jiwa tegar untuk menyampaikannya kepada sesama muslim. Diskusi musti dibangun dengan kedewasaan, bukan kekerasan atau pemaksaan (persekusi misalnya).

Keempat, semua tindakan perlu pengorbanan dan kesabaran. Sabar untuk terus menyampaikan kebenaran, sabar untuk memberi contoh saling kasih sayang, sabar untuk memaklumi ketidakpahaman saudaranya, sabar untuk berusaha memahamkan, dan sabar-sabar lainnya.

Inilah metode terbaik. Namun, hasilnya belum tentu memuaskan. Begitulah, keadaan hidup penuh masalah memang ada untuk menguji manusia, siapakah yang bersungguh-sungguh berada di jalan-Nya.

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya.
SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan ini, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
SERUJI berhak untuk membatalkan penayangan hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan.
Untuk pengaduan email ke redaksi@seruji.co.id.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama