Bromo, satu kata yang kemasyurannya telah mendunia. Destinasi wisata yang menjadi ikon Jawa Timur bahkan Indonesia. Sebuah kawasan wisata yang di dalamnya terdapat kawah puncak gunung berapi aktif. Satu-satunya kawasan puncak gunung berapi aktif yang terdapat kehidupan manusia di sana.

Di kawasan wisata Bromo setidaknya ada empat jenis wisata yang bisa dinikmati. Menikmati sunrise dari penanjakan, Seruni Point, atau bukit Mentigen. Melihat kawah gunung berapi. Menikmati padang pasir yang luas bagai potongan padang pasir di Afrika sana. Dan keempat, menikmati padang Savana yang begitu luas dan hijau, keindahan yang tak kan terlupakan.

Fasilitas di sana sangat lengkap. Penginapan melimpah ruah. Persewaan kendaraan baik jeep, motor, maupun kuda, tinggal memilih. Sehingga bromo menjadi destinasi wisata yang sangat menggoda, terutama bagi mereka yang menginginkan suasana puncak gunung namun enggan sengsara melakukan pendakian (macam saya).

Karena itulah, dulu ketika saya akan ke Bromo yang pertama kali, niat saya hanya untuk menggugurkan pertanyaan “sudah pernah ke Bromo?”. Namun ternyata, sekali menikmati Bromo, dia langsung mencuri hati saya dan saya pun rela mengunjunginya hingga kali yang tak terhingga.

Adalah Sabtu (7/10) – Ahad (8/10) menjadi kunjungan saya ke Bromo yang keenam. 🙈 Kali ini saya pergi berempat bersama Mbak Risma, Mbak Devi, dan Mbak Hesti. Kami melakukan perjalanan dengan bermotor. Saya berboncengan dengan Mbak Hesti dan Mbak Risma dengan Mbak Devi. Perjalanan dimulai dari kost saya. Kami berangkat pukul 6.43. Jam 8.22 kami berhenti istirahat di salah satu masjid di Probolinggo. Sekalian Mbak Risma shalat dhuha. Enaknya jadi muslim, di mana-mana ada masjid yang nyaman untuk disinggahi.

Jalan ke Bromo mulai menanjak ketika memasuki Kecamatan Lumbang hingga nanti tiba di Puncak di Desa Ngadisari. Beberapa kali motor Mbak Hesti tak kuat naik sehingga terpaksa ia jalan kaki. Haha. Ada satu ruas jalan yang sedari awal saya kuatirkan motor tak kuat naik dan ruas jalan itu cukup panjang, sehingga cukup melelahkan bila berjalan. Dan benar, motor tidak kuat, sehingga lagi-lagi mbak Hesti jalan kaki. 😬😁

Namun? Tiba-tiba ada warga setempat yang melintas tanpa membawa penumpang. Refleks saya minta tolong Bapak tersebut untuk mengangkut mbak Hesti. Alhamdulillah. Selalu ada sweet story over every journey. Dan tadi itu yang pertama.

Tiba di suatu tanjakan, tepat pas puncaknya, tiba-tiba motor mati mendadak. Masih saya yang menyetir. Ya sudah, saya pinggirkan saja. Kami sama-sama santai dan tidak panik sedikit pun. 😬😁

Mbak Devi dan Mbak Risma pun meminggirkan motor. Niatnya, kami duduk sebentar meluruskan kaki. Dan saat itu mendadak saya ingin makan pentol. “Aku kok kepingin makan pentol.”

Dan entah seperti malaikat yang dikirim Allah, tiba-tiba ada penjual pentol melintas. Mbak Hesti melihatnya, refleks dia menghentikan penjual pentol. Alhasil, kami duduk manis di pinggir jalan sambil makan pentol. Lupa urusan motor yang mati mendadak. 😅😂

Selesai makan pentol, ternyata motor hidup lagi dengan ikhlasnya. Waw. Kami lanjutkan perjalanan hingga ke tempat penginapan. Tempat yang saya tuju awalnya penuh, kami mencari tempat lain. Seharusnya, untuk empat orang memakai 2 kamar dengan harga 150 ribu per kamar atau kamar yang khusus 4 orang dengan 250 ribu. Tapi, dengan sedikit keahlian saya merayu, kami dapat satu kamar dengan harga 200 ribu rupiah. Alhamdulillah.

Tujuan kami di hari Sabtu adalah mengunjungi padang Savana. Niatnya kami naik ojek ke sana lalu pulang jalan kaki sepanjang 8 kilometer. Ahahaha. Ekstrim khan? Itu ide gila saya yang pernah saya lakukan dengan Mbak Maya. Tarif ojek adalah 25 ribu per orang. Kalau naik jeep, sewa jeep sekitar 350 s.d 700 ribu per jeep.

Lagi-lagi seperti malaikat, seorang Bapak penyewa jeep menawari saya. Saya langsung meminta harga 100 ribu untuk diantar ke padang Savana, “Pak, seratus ribu ya ke padang Savana? Nanti pulangnya kami jalan kaki. Kalau bapak nggak mau, kami naik ojek saja.” rayu saya.

Bapak jeep hanya terbelalak dan menegaskan, “berangkatnya saja ya?” dan saya iyakan dengan mantap penuh keyakinan.

Akhirnya kami sepakat untuk dijemput jam 1 siang. Kami berempat tidur siang dulu. (pembolang macam apa coba yang sempet-sempetnya tidur siang? 😳😳😳)

Tepat jam 1 Bapak jeep datang dan kami masih sholat. Bapak jeep sabar menunggu kami.

Akhirnya kami naik jeep ke padang Savana. Dan ternyata? Bapak jeep mau ada perlu ke daerah Tumpang dan meminta kami menunggunya untuk pulang. Beliau gratiskan biaya pulang. Oh Allah, keren sekali bukan? Apa urusan Bapak jeep ini pada kami? Atas dasar apa beliau mengkhawatirkan kami dan bersedia memberi kami tumpangan? MasyaAllah, lagi-lagi kami takjub dengan anugrah-Nya.

Bapak jeep menaruh kami di Jemplang, yang ada warung-warung penjual makanan. Tepat, di saat kami lapar dan belum makan siang. Saya serahkan uang 100 ribu sebelum Bapak Jeep berangkat ke Tumpang, namun bapak Jeep menolak, dibayar nanti saja. So sweet khan? Beliau meminta kami menunggu sekitar satu jam.

Saat itu turun hujan. Romantis. Kami berjalan duluan turun daripada berdiam menunggu di warung makan, biarlah nanti ketemu di jalan. Kami berjalan menikmati hujan. Hingga tiba-tiba kaki mbak Risma sakit. Kami lalu berhenti sejenak. Dan lagi-lagi? Seperti malaikat, Bapak jeep datang. 😍😍😍

Di luar dugaan lagi, Bapak jeep harus kembali ke Tumpang. Kami diturunkan di suatu titik yang sangat keren, sementara beliau kembali ke Tumpang. Beliau mempersilahkan kami menikmati padang Savana sepuasnya. Dan kali ini beliau sendirian ke Tumpang, sehingga kawannya bisa jadi tukang foto buat kami. 😁😁😁

Puas kami di Savana, Bapak Jeep datang. Lalu kami kembali ke Penginapan. Betapa bersyukurnya… Lalu hari kedua kami, masih diwarnainya dengan serunya perjalanan. Selalu ada hal-hal yang membuat kami bersyukur. Cerita detailnya di episode berikutnya saja ya, kalau saya tidak lupa dan tidak malas. Hehehe

Nah, padang Savana tadi yang suasananya gunung banget. Bagi yang ingin tahu bagaimana suasana di puncak gunung yang terlihat begitu hijau dari kejauhan, namun malas melakukan pendakian, bisa merasakannya di Savana. Tidak perlu effort macam-macam. Yang kita butuhkan untuk tiba di sana, dari mana pun kita berasal, sudah sangat tersedia. Jadi, cukup siapkan jaket tebal saja untuk bertahan tinggal di kawasan puncak gunung berapi aktif. Saya yakin (walaupun belum ngecek), bahwa Bromo adalah satu-satunya destinasi wisata di dunia yang membuat orang bisa berada di puncak gunung berapi dengan mudahnya. Selamat mencoba..

Cheers ^_^

Dyah Sujiati

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya.
SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan ini, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
SERUJI berhak untuk membatalkan penayangan hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan.
Untuk pengaduan email ke redaksi@seruji.co.id.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama