Allah SWT telah menetapkan bahwa segala yang hidup butuh makan. Hewan butuh makan. Manusia butuh makan. Bahkan jin dan malaikat pun makan. Hanya saja makanannya berbeda-beda.

Manusia sebagai makhluk Allah yang sempurna, diciptakan dengan 3 komponen utama yaitu jasad, akal dan ruh. Tiga komponen itu membentuk manusia yang sempurna, agar dapat menjalankan tugasnya yaitu sebagai khalifah (pengganti) Allah di muka bumi. Kualitas tiga komponen itu menentukan kualitas sang manusia sebagai ‘pengganti‘ Allah di muka bumi ini. Semakin bagus kualitasnya, akan semakin bagus pula kualitas kekhalifahannya.

Itulah sebabnya Rasulullah SAW bersabda,”sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi sesama“. Al-hadits.

Jasad, terdiri dari komponen fisik, yaitu darah, daging, otot, tulang, dan sebagainya. Terbentuk dari unsur-unsur fisik yang ada di alam dalam bentuk protein, lemak, vitamin dan unsur hara lainnya. Ketika jasad beraktifitas, akan ada komponen fisik yang digunakan, dikonsumsi, dikonversi dari bentuk asalnya menjadi energi. Jasad akan “berkurang” dengan adanya aktifitas fisik. Ada bagian yang hilang. Jika tidak diganti, kekurangan/kehilangan itu akan membuat jasad lemah, rusak bahkan berhenti beroperasi. Proses penggantian bagian yang hilang itu kita sebut makan. Dalam pengertian ini, makan bagi tubuh adalah untuk mempertahankan kehidupan jasad. Setelah “kematian” jasad akan terurai kembali menjadi unsur-unsur hara di alam.

Akal adalah komponen setengah fisik dan setengah non fisik (kesadaran). Disebut bagian dari fisik karena akal beraktifitas di dalam “otak” yang berupa komponen fisik. Namun aktifitas berpikir, menganalisis, dan memahami adalah bagian dari sesuatu yang non fisik. Entah apa dan bagaimana bentuknya. Imaginer. Tapi sama seperti jasad, akal bagian fisik membutuhkan pengganti untuk mengganti komponen yang hilang setelah beraktifitas. Sedangkan untuk bagian non fisik, makanannya adalah ilmu pengetahuan. Tanpa asupan ilmu pengetahuan kepada otak, maka akal akan lemah, sakit, rusak dan bisa mati. Orang yang akalnya lemah tidak akan banyak gunanya sebagai manusia. Apalagi yang akalnya sakit atau rusak.

Ruh, atau ruhani, adalah bagian dari rahasia Ketuhanan. Dan tidaklah diajarkan kepada manusia (tentang ruh) kecuali sedikit sekali. Demikian yang sering kita baca dalam kitab mulia, Al-qur’an.

Ruh murni bagian manusia yang non fisik. Kebalikan dari jasad yang murni fisik. Ruh adalah esensi dari manusia. Sesuatu yang dimaksud setiap kali kita bicara tentang “manusia“. Sesuatu yang punya kesadaran, perasaan, keimanan, kebijakan, kebaikan, dan kebalikannya yaitu kejahatan, kesombongan, keingkaran, kemunafikan, dsb. Karakter dan sifat adalah tampilan luar dari ruh, yang “kelihatan” dari luar, oleh orang lain.

Ruh juga adalah bagian dari seorang manusia yang dulu kala sudah berjanji kepada Allah SWT akan patuh dan taat, lalu “dilahirkan” ke dunia sebagai ajang pembuktian terhadap janji tersebut. Ruh yang tetap pada janjinya akan kembali kepada Tuhannya dan mendapat anugerah surga. Tapi sebaliknya bagi yang tidak tetap pada janji setianya, akan kembali juga kepada Tuhannya tapi mendapat siksa api neraka. Ruh akan masuk surga atau masuk neraka selama-lamanya, dengan ataupun tanpa jasad (karena ulama berbeda pendapat tentang hal ini).

Dengan berbagai penyederhanaan pembahasan, kita sering juga menyebut ruh ini dengan ‘jiwa’.

Jika jasad makanannya berupa makanan fisik, otak makannya ilmu dan pengetahuan, maka ruh makannya adalah iman, amal sholeh dan taat kepada Allah SWT. Tanpa makanannya tersebut, ruh juga akan lemah, sakit dan “sesat“/rusak.

Jika ruh sehat dan kuat, manusianya akan menjadi manusia yang sempurna, baik, penuh kasih sayang, menjadi pengganti Allah di muka bumi, dapat menjalankan fungsi-fungsi ketuhanan. Khalifatullah fil ard, menjadi “pengganti” Allah di bumi, mengatur kehidupan yang baik bagi seluruh makhluk, menjadi rahmatan lil ‘alamiin. Tapi sebaliknya, ruh yang tersesat, akan membuat manusianya menjadi syetan (yang berujud manusia), membuat kerusakan di atas muka bumi, mengajak manusia pada kejahatan.

Ketika menyebut hati, orang sering salah paham dengan jantung. Orang menyebut hati / ‘hearth‘ sebagai jantung. Atau memegang jantung setiap kali sedang ‘bicara hati‘. Padahal secara anatomi, hati/’hepar’ adalah sesuatu yang lain, satu organ dalam yang terletak pada rongga perut bawah sebelah kanan, dibawah diafragma. Jadi bukan di dada sebelah kiri. Hati (hepar) berfungsi mengekstraksi racun di dalam tubuh manusia. Berbeda dengan jantung, yang fungsinya adalah memompa darah ke seluruh bagian tubuh. Tapi apapun itu, hati memiliki fungsi yang sangat penting bagi tubuh secara fisiologis.

Dari sisi agama, hati adalah penentu baik buruknya seseorang. Ketenangan hati adalah indikator kebenaran dalam beragama. Hati adalah ‘receiver‘, tempat seseorang merasakan sinyal-sinyal dari sekitarnya, termasuk untuk menerima sinyal hidayah dari Allah. Hati yang bersih menjadi ‘firasat‘ orang beriman. Bisikan-bisikan dari hati adalah kebenaran.

Hati bagaikan cermin. Tempat kita melihat dan bercermin. Cermin yang bersih akan menampilkan gambar yang jernih, tapi cermin yang kotor tertutup noda dan debu yang menghitam, tidak akan menampilkan gambar dengan jelas. Satu perbuatan dosa akan membuat satu noda hitam pada hati. Jika noda hitam sudah terlalu banyak, hati tidak akan lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Gelap.
Tidak lagi bisa membedakan mana benar mana salah.

Dengan pengertian diatas, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa manifestasi ruh adalah hati. Kalau mau melihat kondisi ruh, periksalah hati. Jika hati tenang, ruh dalam kondisi baik-baik saja. Jika hati kotor karena banyaknya perbuatan dosa, kemampuan menerima hidayah akan berkurang, ibadah pun menjadi jarang. Akhirnya asupan makanan untuk ruh pun sedikit, dan ruh akan sakit. Ruh yang sakit, adalah kecelakaan yang besar bagi seorang beriman.

Jika kita begitu menjaga asupan bergizi untuk jasad yang bersifat sementara ini, mengapa kita sering lalai dan asal-asalan untuk asupan bagi ruh? Lihatlah hati kita, bagaimana kita menjaganya tetap bersih, maka kita akan paham keadaan ruh kita. Ruh yang akan kita bawa kembali kepada Allah SWT, mempertanggungjawabkan perjalanan hidup kita di dunia ini, dan sebagai parameter untuk mendapat surga atau neraka.

Jadi, jangan pernah lalai memberi asupan bergizi untuk jasad, otak dan ‘hati’ anda, agar menjadi manusia sempurna.

Langganan berita lewat Telegram
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama