Ada teori, manusia adalah makhluk yang berevolusi dari kera. Pertanyaan sederhananya : mengapa tetap ada kera hingga saat ini dan tidak berubah menjadi manusia? Ada teori lain, yakni menganggap manusia ada secara tiba-tiba, tidak mengikuti alur evolusi makhluk. Maka manusia bukan hewan bukan tumbuhan. Benar-benar makhluk yang berbeda.

Jika ada secara tiba-tiba, terus dari mana datangnya? Bagi para penganut teis, jawabannya mudah : diciptakan Sang Pencipta Alam Semesta. Bagi para penganut ateis, masih dipikirkan oleh mereka. Jika percaya bahwa manusia berevolusi dari kera, silahkan saja, mungkin memang setara derajatnya dengan kera. Bila anggap tiba-tiba ada secara kebetulan, maka sedang menunjukkan kebodohan logikanya.

Watak dasar manusia yang tidak dimiliki makhluk lain adalah “menghakimi”, memiliki rasa “berkuasa”. Jika digabung dengan sifat membutuhkan (naluri), maka hasilnya dahsyat, bisa muncul perilaku genosida (pembasmian) terhadap pihak yang tidak diinginkan keberadaannya. Maka, pantas jika ada yang khawatir terjadi kerusakan dan pertumpahan darah karena keberadaannya di muka bumi. Coba, andai tak ada manusia, pasti bumi ini tetap dalam keadaan alami selamanya, tidak ada polusi ataupun perang dunia.

“Menghakimi” tidak akan muncul bila tak memiliki kehendak bebas. Otak manusia itu bersifat plastisin, fleksibel, menyesuaikan kondisi lingkungan secara ekstrim, sekaligus mengembangkan hal-hal (nama-nama) baru yang sebelumnya tidak ada, hingga akhirnya memiliki kesadaran akan “diri”. Potensi ini yang hanya dimiliki manusia, dan melekat terhadap potensi tersebut sebuah tuntutan tanggungjawab.

Malaikat, makhluk berakal, tapi tak mampu mencipta hal-hal (nama-nama) baru, tak memiliki kehendak kecuali hanya patuh kepadaNya. Benar-benar seperti robot yang digerakkan. Maka, tidak ada pertanggungjawaban diri atas hidup mereka. Sedahsyat apapun mereka memuji penciptanya, bukankah hanya sekedar digerakkan oleh penciptanya juga? Tak ada yang spesial.

Berbeda dengan manusia. Manusia diberi kemampuan atau potensi untuk membantah, karena memiliki kesadaran diri dan kehendak bebas. Maka, jika seorang manusia bisa mengarahkan kehendak bebasnya untuk memuji penciptanya, tentu bernilai luar biasa.

Bukankah jin itu juga memiliki kehendak bebas sebagaimana manusia? Mengapa tidak diberi kedudukan seperti manusia untuk memimpin bumi? Karena jin terbuat dari unsur energi dan tak memiliki kekuasaan atas materi. Berbeda dengan manusia yang tersusun dari materi dan energi, sehingga memiliki kemampuan mengolah benda-benda yang berupa materi di muka bumi.

Iblis dari bangsa jin tidak menerima keadaan ini. Ia memilih untuk tidak patuh, dan mempertahankan rasa dengki terhadap manusia.

Adam sang manusia pertama, dan Iblis sang pembelot pertama, masuk dalam skenario yang sudah diketahui sang pencipta. Walaupun ini skenarioNya, tak ada sedikitpun celah bagi Adam dan Iblis untuk bisa membantahnya karena dengan sadar diri telah memilih apa yang dilakukannya sendiri.

Skenario berlanjut bahwa Adam dan istrinya Hawa, akan tergelincir dengan kesalahannya dan diturunkan di bumi dari syurga. Skenario bahwa Adam dan keturunannya, akan tinggal di muka bumi dengan sifat-sifat saling permusuhan yang muncul akibat keinginan “berkuasa” dan “menghakimi”. Skenario bahwa akan dipilih dari keturunan Adam, orang-orang yang mampu menempatkan diri dengan kesadaran untuk mengikuti perintah Sang Pencipta melalui berita-berita dariNya, untuk mendapatkan sanjungan dan kehormatan di atas makhluk-makhluk lain di seluruh alam ciptaanNya. Skenario di mana pasti ada manusia yang membantah, mendustakan, sehingga termasuk makhluk yang paling direndahkan dan dinistakan. Semua sudah diketahui olehNya.

Dan ketika hari pertanggungjawaban datang, tidak ada seorangpun yang bisa menyangkal akan kesalahan dirinya. Inilah potensi yang beresiko ketika bersedia menjadi manusia.

Kapan menyatakan bersedia? Ketika menjadi manusia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama