
Investor dalam bahasan ini adalah penanam modal, sehingga bisa disebut pemilik. Pemakan riba, hanya meminjamkan dana. Dua-duanya memberikan dana, dua-duanya bisa dilakukan satu orang. Tujuannya juga sama, mendapatkan profit atau keuntungan.
Bedanya, investor menempatkan diri dalam resiko. Semisal, dana dikucurkan untuk membangun pabrik sepatu, mendatangkan keuntungan bagi perusahaan ketika sepatunya laku. Bila tidak, bisa merugi dan investor ikut menanggungnya, entah berupa kehilangan ‘nilai aset’, atau bangkrut.
Namun, kalau perusahaan berkembang dengan pesat, nilai aset bisa bertambah dan perusahaan bisa dijual mahal.
Pemakan riba tidak mau resiko itu, sehingga ketika menyerahkan dana tidak mau kehilangan pokok pinjaman sekaligus bunganya. Resikonya hanya kredit macet. Juga, tidak akan menikmati peningkatan aset perusahaan.
Semisal ada dua perusahaan didirikan dengan biaya yang sama, aset bersih juga sama, namun salah satunya didanai dengan pinjaman berbunga, kira-kira adakah perbedaan ‘nilai’ perusahaan? Atau yang paling mudah, jika ditawari untuk membeli antara kedua perusahaan tersebut, pilih yang mana?
Barangkali, pilihan jatuh ke salah satunya itu dipengaruhi faktor lain, namun membayar bunga akan selalu dihitung sebagai beban yang mengurangi keuntungan.
Sekarang, apabila perusahaan berhenti beroperasi, sedangkan hutang belum dibayar, maka ada beban bunga kumulatif yang ditanggung. Artinya, pihak peminjam mendapatkan ‘laba’ bukan dari kegiatan produktif. Hubungannya sudah tidak saling menguntungkan, menjadi ‘parasitisme’ kalau tidak mau disebut perampokan.
Kalau kemudian aset perusahaan habis hanya untuk menutup pokok pinjaman, maka masih ada bunga yang belum dibayar, bisa-bisa jadi hutang yang berkepanjangan (bunga-berbunga). Artinya, menjadi mirip transaksi fiktif, atau sekali lagi disebut perampokan berkelanjutan.
Jahatnya, efek riba itu memindahkan kekayaan dari orang yang kurang harta kepada pemilik kapital. Jika berlanjut terus menerus, si kaya makin kaya dan si miskin makin miskin, lama-lama merusak hubungan antar manusia dan menghilangkan kedamaian.
Maka, dalam Islam riba dilarang. Kebalikan dari riba adalah memindahkan kekayaan dari orang-orang-orang kaya ke orang-orang miskin, dengan sedekah. Efeknya juga kebalikannya, memperkecil gap ekonomi, sekaligus mengeratkan persaudaraan.
Jauhi riba, suburkan sedekah. Maka, aman damai sejahtera.
