JAKARTA, SERUJI.CO.ID – IHSG koreksi hari ini, menutup perdagangan Rabu (11/3/2026) di level 7.389,40 atau melemah 51,51 poin (−0,69 persen). Indeks sempat menembus puncak intraday 7.527,32 di pagi hari. Namun, tekanan jual yang menguat pada sesi kedua memangkas seluruh kenaikan tersebut. Kapitalisasi pasar BEI tercatat Rp13.329,21 triliun dengan volume transaksi 322,01 juta lot.
📉 Naik Pagi, Jatuh Siang: Volatilitas Masih Tinggi
Perdagangan Rabu dibuka dengan optimisme. IHSG menguat 43,86 poin atau 0,59 persen ke posisi 7.484,77. Penguatan ini melanjutkan rebound teknikal dari hari sebelumnya. Sentimen positif datang dari pernyataan Presiden AS Donald Trump soal potensi berakhirnya konflik di Timur Tengah. Indeks bahkan sempat menembus 7.523 — level tertinggi sejak 6 Maret 2026.
Namun, memasuki sesi kedua, momentum itu memudar. Aksi ambil untung (profit taking) mulai menekan indeks secara bertahap. Tim Analis Phintraco Sekuritas sebelumnya memperkirakan IHSG bergerak di rentang 7.400–7.500 pada sesi sore. Proyeksi itu terbukti tepat — IHSG menutup sesi di 7.389,40, tepat di batas bawah rentang tersebut.
🌍 Kenapa IHSG Koreksi Hari Ini? Ini 3 Penyebabnya
Pertama, aksi profit taking pasca rebound dua hari. IHSG menguat kumulatif 1,41 persen pada Selasa (10/3) setelah sebelumnya anjlok 3,27 persen pada Senin (9/3). Oleh karena itu, investor yang masuk saat dip di level 7.156–7.337 memanfaatkan kenaikan ke 7.500 untuk mengamankan keuntungan. Pola ini lazim terjadi dalam fase konsolidasi — setiap kenaikan tajam cenderung diikuti tekanan jual selektif.
Kedua, tekanan jual asing yang persisten. Data BEI mencatat net foreign sell regular hari ini mencapai Rp730,31 miliar. Nilai beli asing (F Buy) tercatat Rp3,95 triliun, sementara nilai jual (F Sell) mencapai Rp4,68 triliun. Selain itu, investor asing sepanjang 2026 telah mencatat jual bersih kumulatif Rp7,29 triliun — mencerminkan tren capital outflow yang konsisten akibat risiko geopolitik, tekanan fiskal APBN, dan revisi prospek utang Indonesia oleh Fitch Ratings.
Ketiga, pasar menantikan data inflasi AS (CPI) malam ini. Konsensus analis memperkirakan CPI Februari 2026 stabil di 2,4 persen (yoy), dengan core CPI di 2,5 persen (yoy). Data ini krusial karena menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed. Jika inflasi lebih tinggi dari ekspektasi, skenario pemangkasan suku bunga akan mundur. Akibatnya, dolar AS menguat dan tekanan terhadap aset pasar berkembang — termasuk IHSG — berpotensi kembali meningkat.
📊 Top Gainers Saat IHSG koreksi hari ini : Saham Lapis Tiga Mendominasi
Di balik pelemahan indeks, sejumlah saham justru mencatat kenaikan signifikan. UANG memimpin top gainers dengan lonjakan +24,93 persen ke Rp4.310, diikuti NETV +24,71 persen ke Rp106, ALKA +24,11 persen ke Rp875, DEFI +23,60 persen ke Rp110, dan AGAR +22,43 persen ke Rp262. Namun demikian, kenaikan saham-saham ini bersifat momentum-driven dengan volume relatif kecil. Investor perlu mewaspadai risiko reversal tajam pada sesi-sesi berikutnya.
Dari jajaran LQ45, UNVR memimpin kenaikan dengan lonjakan 5,40 persen ke Rp2.050, disusul SCMA naik 4,03 persen ke Rp258, dan EMTK menguat 2,74 persen ke Rp750. Penguatan UNVR mencerminkan rotasi defensif investor ke saham consumer staples. Pola ini konsisten terlihat dalam sesi-sesi bergejolak — investor mengalihkan portofolio dari saham siklikan ke emiten defensif berfundamental kuat.
