Lepas dari “Amrik”, Bisakah?

1
293
1513594262913479634995
Mesin cuci darah. (Foto : doc pribadi)

Ini tulisan lepas, membahas keadaan Indonesia. Lebih tepatnya rakyat Indonesia.

Saat USA, negara adidaya dunia modern, mengumumkan pernyataan kontroversial tentang Palestina dan Israel, seluruh dunia seakan terhenyak. Saking kontroversial, membuat beberapa pihak memikirkan kembali hubungan dengan negara tersebut, entah hubungan politik dan ekonomi.

Masalahnya, negara-negara di dunia sudah bergantung terlalu jauh, bahkan tanpa disadari rakyatnya. Sepertinya, kalau di analisa secara dalam, hampir mustahil akan lepas dari cengkeramannya.

Amerika Serikat dan negara-negara barat menciptakan dunia modern, dan menjadikan negara-negara lain sebagai pasar sekaligus sumber daya alam dan tenaga. Tapi, yang paling jelas menjerat adalah sistem perbankan ribawi, dengan wujud bantuan-pinjaman mencekik negara.

Barangkali sekarang belanja ke tetangga, petani sendiri dan pasar tradisional. Namun, ketika kembali ke rumah, teknologi modernlah yang dipakai dimulai dari alat komunikasi sampai alat rumah tangga. Dengan “patenisasi”, hampir semua barang teknologi bisa jadi “terikat perjanjian” ada aliran keuntungan ke negara maju.

Bahkan, menurut beberapa pengamat, Amerika sudah bersiap sebagai diktator dunia, sendirian. Ketika sumber minyak dunia menipis karena kebutuhan masyarakat dunia modern melonjak, akibat virus gaya hidup yang ditularkan media-media barat, negara yang berjuluk Uncle Sam ini sudah bersiap dengan cadangan minyaknya sendiri.

Andaikan saja, Indonesia lepas total dari teknologi, apakah rakyat bisa tetap hidup? Bisa, tapi tak semua. Orang-orang yang sudah menggantungkan hidup dengan teknologi seperti alat cuci darah dan lain sebagainya, tidak akan tertolong.

Barangkali, orang-orang seperti suku terasinglah yang bakal selamat dengan mudah manakala teknologi ditarik muka bumi. Saat itu terjadi, hanya orang-orang yang terampil di alam bebas yang selamat. Maka tak salah jika umat Islam belajar berkuda, memanah dan beremang.

Sekaligus juga, bisa jadi keberadaan teknologi modern menjadi tolok ukur nyata seberapa besar kontribusi seseorang “menjual” kemerdekaan negaranya. Semakin banyak teknologi modern yang dipakai, semakin besar pula aset negara terjual, semakin lemah pula karena ketergantungan terhadapnya.

Maka, bijaklah menggunakan teknologi. Gunakan bila ada nilai tambah, bukan sekedar menuruti gaya hidup. Kemudian, mulailah merintis untuk kembali ke alam. Sungguh, alam Indonesia sudah sangat cukup untuk sekedar hidup bahagia.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama