JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Pada Rabu (25/3/2026) siang, sebuah konferensi pers singkat di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, menorehkan catatan hitam baru dalam sejarah reformasi militer Indonesia. Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah berdiri di hadapan wartawan dan menyampaikan kalimat yang sebenarnya singkat, namun menggetarkan; “Sebagai pertanggungjawaban, hari ini telah dilaksanakan penyerahan jabatan Kepala BAIS.”
Letjen TNI Yudi Abrimantyo, pucuk pimpinan Badan Intelijen Strategis TNI, resmi hengkang dari kursinya. Buntut dari penyiraman air keras terhadap aktivis HAM Andrie Yunus, kejahatan yang kini terbukti dilakukan oleh anak buahnya sendiri.
Tapi ada yang lebih mencengangkan dari sekadar mundurnya seorang jenderal bintang tiga: Mayjen Aulia enggan menjawab ketika wartawan mendesak, apakah Yudi mundur secara sukarela atau dicopot paksa oleh Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto. Ia meninggalkan podium tanpa penjelasan.
Hingga artikel ini ditulis, TNI pun belum mengumumkan siapa penggantinya. Keheningan di puncak intelijen militer Indonesia itu justru menyimpan tanda tanya yang jauh lebih besar.
Malam yang Mengubah Segalanya: 12 Maret 2026, Pukul 23.37 WIB
Untuk memahami kenapa seorang Letnan Jenderal harus menyerahkan jabatannya, kita perlu memutar ulang jarum jam ke malam 12 Maret 2026. Wakil Koordinator KontraS Andrie Yunus baru saja merampungkan sesi rekaman podcast di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Menteng, Jakarta Pusat.
Tajuk podcast itu bukan sembarang tema: “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia.” Sebuah siniar yang mempertanyakan meluasnya kembali peran militer di ruang-ruang sipil, tepat di era ketika UU TNI baru saja direvisi dan memperluas penempatan prajurit aktif di lembaga pemerintah.
Rekaman berakhir sekitar pukul 23.00 WIB. Andrie lalu singgah mengisi bensin di kawasan Cikini, kemudian memacu motornya menuju mess KontraS di kawasan Talang, Menteng. Namun tepat pukul 23.37 WIB di Jalan Salemba I, hanya beberapa ratus meter dari kantornya, dua orang berboncengan dengan Honda Beat menyongsong dari arah berlawanan.
Penumpang belakang, mengenakan masker buff hitam menutupi separuh wajah, mengayunkan wadah berisi cairan bening. Dalam hitungan detik, cairan asam sulfat pekat itu membakar wajah, leher, dada, punggung, dan kedua lengan Andrie. Bahkan panel instrumen motornya ikut meleleh.
Andrie berteriak meminta tolong. Warga sekitar yang mendengar langsung berlari, namun dua pelaku sudah menghilang dalam kegelapan. Rekaman 86 titik CCTV yang kemudian dianalisis polisi memperlihatkan betapa terencana dan rapinya operasi ini: para pelaku sudah mengintai Andrie sejak ia keluar dari gedung YLBHI pukul 23.17 WIB. Ini bukan serangan spontan. Ini pekerjaan profesional.
Profil Korban: Bukan Orang Asing bagi Militer
Andrie Yunus bukan aktivis baru yang tiba-tiba muncul. Ia adalah salah satu wajah paling gigih dalam perlawanan terhadap agenda remiliterisme di Indonesia. Sejak Februari 2025, Andrie aktif mengadvokasi penolakan Revisi UU TNI yang membuka peluang prajurit aktif menduduki jabatan sipil. Pada Maret 2025, ia bahkan nekad menerobos rapat panja tertutup di Hotel Fairmont Jakarta, pertemuan diam-diam anggota DPR yang membahas revisi tersebut, sendirian, tanpa takut.
Pasca-Revisi UU TNI disahkan, Andrie bersama koalisi masyarakat sipil mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi. Ia juga menjadi salah satu pendamping hukum bagi aktivis yang dikriminalisasi menyusul peristiwa Agustus 2025. Direktur Amnesty International Indonesia Usman Hamid mengungkap bahwa sebelum diserang, Andrie sudah beberapa kali diteror melalui telepon dan diancam langsung oleh orang-orang tak dikenal, termasuk yang mengidentifikasi dirinya sebagai tentara.
Sore hari sebelum penyerangan pun, Andrie masih sempat hadir dalam pertemuan di kantor Celios untuk menindaklanjuti laporan Komisi Pencari Fakta terkait aksi massa Agustus 2025. Ia bekerja hingga larut. Dan seseorang telah menunggunya di balik kegelapan.
