KSAD Resmi Umumkan Tiga Nama Prajurit TNI Gugur di Lebanon: Kapten Zulmi, Sertu Ichwan, Praka Farizal

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) beserta Keluarga Besar TNI Angkatan Darat pada Selasa (31/3/2026) secara resmi mengumumkan tiga nama prajurit yang gugur dalam dua insiden serangan di Lebanon Selatan. Mereka adalah Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dan Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon, seluruhnya tergabung dalam Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S UNIFIL, gugur akibat serangan artileri IDF.

Pengumuman resmi itu disampaikan melalui akun Instagram resmi @tni_ad dalam bentuk video belasungkawa bertanda tangan KSAD, mengakhiri penantian dua hari atas konfirmasi nama resmi para pahlawan misi perdamaian tersebut.

Tiga Pahlawan, Dua Insiden, Satu Misi yang Sama

Praka Farizal Rhomadhon gugur pertama. Prajurit Kepala dari Yonif 113/Jaya Sakti, Kodam Iskandar Muda itu tewas pada Minggu (29/3/2026) pukul 20.44 waktu Lebanon ketika proyektil artileri menghantam pos Indobatt UNP 7-1 di Desa Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan. Ia baru berusia 28 tahun, meninggalkan istri Fafa Nur Azila dan putri kecilnya Shanaya Almahyra Elshanu yang baru berusia dua tahun.

Keesokan harinya, Senin (30/3/2026), Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan berangkat dalam sebuah misi yang menjadi misi terakhir mereka: menjemput jenazah Praka Farizal. Konvoi Indonesian Task Force Bravo (TFB) Indobatt itu mengawal Combat Support Service Unit (CSSU) Spanyol membawa enam kendaraan, termasuk peti jenazah kosong yang disiapkan untuk membawa pulang almarhum Farizal.

Saat konvoi melintas di Desa Bani Hayyan sekitar pukul 11.00 waktu Lebanon dan hendak berbelok, sebuah ledakan tiba-tiba menghantam kendaraan pertama hingga rusak parah. Kapten Inf Zulmi yang menjabat sebagai Komandan Kompi B dan Sertu Ichwan gugur di lokasi. Keduanya tidak sempat dievakuasi karena tingginya intensitas serangan di lokasi kejadian. Dua prajurit lain yang terluka, Kapten Inf Sulthan dan Praka Deni, dievakuasi dengan helikopter ke RS St. George, Beirut.

Profil Tiga Prajurit yang Gugur

Data Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar Sertu Muhammad Nur Ichwan Praka Farizal Rhomadhon
Pangkat Kapten Infanteri Sersan Satu Prajurit Kepala
Satuan Grup 2 Kopassus Kesdam IX/Udayana Yonif 113/Jaya Sakti, Kodam Iskandar Muda
Pendidikan Lulusan Akmil 2015, gelar S.T.Han Bintara TNI AD Tamtama TNI AD, bergabung 2016
Jabatan di Lebanon Komandan Kompi B (Danki B) TFB Indobatt Anggota TFB Indobatt Taban Provost 1 Ru Provost Kompi C UNP 7-1
Keluarga Istri dan bayi usia 7 bulan Istri Fafa Nur Azila, putri Shanaya (2 tahun)
Gugur 30 Maret 2026, Bani Hayyan 30 Maret 2026, Bani Hayyan 29 Maret 2026, Adchit Al Qusayr

Kapten Zulmi: Perwira Kopassus Lulusan Akmil 2015

Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar adalah perwira infanteri dari satuan elite Grup 2 Kopassus, satuan yang selama ini dikenal sebagai ujung tombak operasi khusus TNI AD. Dokumen TNI AD menunjukkan nama Zulmi Aditya Iskandar, S.T.Han tercatat sebagai Letnan Infanteri lulusan Akademi Militer 2015 yang bertugas di Den 1 Yon 22 Grup 2 Kopassus. Dalam penugasan Lebanon, ia menjabat sebagai Komandan Kompi B, memimpin langsung Task Force Bravo Indobatt yang bertugas sebagai mobile reserve.

Gugurnya seorang komandan kompi dari Kopassus dalam misi UNIFIL adalah yang pertama dalam sejarah panjang keterlibatan Indonesia di Lebanon.

Sertu Ichwan: Meninggalkan Bayi Tujuh Bulan

Di antara tiga prajurit yang gugur, kisah Sertu Muhammad Nur Ichwan dari Kesdam IX/Udayana mungkin yang paling memilukan. Prajurit bintara dari satuan Komando Daerah Militer berbasis di Bali itu meninggalkan seorang istri dan seorang bayi yang baru berusia tujuh bulan, seorang anak yang bahkan belum sempat mengenal ayahnya dengan baik.

Kesdam IX/Udayana membawahi wilayah Bali, NTB, dan NTT. Kehadiran prajurit dari satuan Udayana dalam misi UNIFIL mencerminkan betapa luasnya keterwakilan prajurit Indonesia dari berbagai penjuru nusantara dalam Kontingen Garuda.

Tiga Pahlawan, Satu Ikatan Terakhir

Ada sesuatu yang berat dalam kronologi dua insiden ini. Kapten Zulmi dan Sertu Ichwan gugur bukan dalam misi tempur biasa. Mereka gugur saat hendak menjemput jenazah seorang rekan yang baru gugur sehari sebelumnya. Peti jenazah kosong yang mereka bawa dalam konvoi itu, disiapkan untuk Praka Farizal, pada akhirnya menjadi bagian dari duka yang semakin dalam.

Kapuspen TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah menegaskan bahwa kedua insiden terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Lebanon Selatan. Investigasi UNIFIL atas penyebab pasti ledakan di Bani Hayyan masih berlangsung. Sementara itu, proses repatriasi ketiga jenazah sedang dikoordinasikan antara TNI, Kemlu RI, dan UNIFIL untuk dipulangkan ke tanah air sesegera mungkin.

Poster belasungkawa KSAD menutup dengan doa: “Semoga Amal Ibadahnya diterima Allah SWT dan Keluarga diberikan Keikhlasan dan Ketabahan.”


Disclaimer: Identitas dan data ketiga prajurit bersumber dari poster resmi KSAD melalui akun @tni_ad (31 Maret 2026), Kapuspen TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah. Investigasi UNIFIL mengenai penyebab ledakan di Bani Hayyan masih berlangsung per Selasa 31 Maret 2026.

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER