
Oleh Muhammad Hanif Priatama
Tidak dipungkiri, tak ada sekat sama sekali sepertinya “zaman now” ini. Tidak ada lagi batas negara, batas budaya, bahkan batas dinding dan pakaian. Semua gaya hidup manusia menular sangat dahsyat, melalui segala media, menembus pelosok-pelosok desa sekalipun.
Jargon-jargon penguasa media dunia mendukung hal ini, gaya hidup kebebasan. Dengan mengatas namakan hak asasi manusia, membolehkan apapun yang ingin dilakukan dengan batasan tipis : asal tidak mengganggu orang lain. Maka, tak heran bila yang laris manis laku keras di dunia media adalah yang memuaskan nafsu kebanyakan orang : pesta pora termasuk seks sesukanya.
Tapi, senyatanya, apa memang manusia harus bergaya hidup seperti itu? Sebegitukah berharganya?
Derajat manusia itu terletak pada seberapa mampu mengendalikan diri. Contoh : mana yang terlihat bagus, antri atau berebutan? Antri menunjukkan kedewasaan, pengertian, kesediaan mengalah. Berebutan itu seperti anak kecil, tak mau tahu nasib orang lain, egois. Antri adalah wujud manusia yang mampu mengendalikan diri, sedang berebutan tidak sama sekali. Derajatnya jelas beda, dan semua orang dengan hati yang bersih akan memihak yang pertama.
Seks bebas (sebut saja zina) adalah hubungan badan lelaki dan perempuan di luar nikah, dan dilakukan suka sama suka. Mungkin orang bertanya, bukankah dengan suka sama suka itu tidak mengganggu orang lain? Boleh, dong? Peduli amat dengan celaan orang!
Memang tak pernah ada orang yang menuruti hawa nafsunya itu mau mengalah, ada saja alasannya. Makanya biarkan saja. Sebagai orang normal, tentu masih bisa lebih terhormat dengan sikap sendiri, menggunakan akal tentu saja.
