Kata (paham) ‘feminisme’ dan peribahasa ‘Ibu adalah tiang negara’ adalah dua hal yang sudah sangat familiar di telinga masyarakat. Terlepas dari berbagai macam diferensiasi pemaknaan kata (paham) feminisme, hal yang dipandang sebagai wujud keberhasilan paham feminisme di masyarakat adalah anggapan bahwa perempuan tidak lagi hanya bertugas sebagai ibu rumah tangga.

Sabtu pekan lalu saat saya sedang dalam perjalanan menuju Bojonegoro dari Surabaya naik kereta api, saya bersama dengan seorang ibu dengan dua orang anak lelakinya dan seorang keponakannya (laki-laki juga). Anak ibu yang kecil berusai empat tahun. Dalam perjalanan itu, sang anak terlihat marah dan tidak menikmati perjalanan sebagaimana sepupunya. Apa pasal? Ternyata si balita empat tahun ini meminta handphone milik ibunya.

Ibu itu berusaha bersabar tidak memberikan hp pada sang anak. Akan tetapi, karena masih terus marah, akhirnya sang Ibu menyerah. Diberikannya hp kepada sang anak.

Loading...

Apa yang dilihat sang anak di hp? Ternyata melihat rekaman video. Video apakah itu? Meskipun bukan video porno dan tidak mengandung unsur kekerasan, namun tayangan dalam video tersebut adalah adegan (maaf) orang makan kotoran ayam yang kemudian ditertawakan oleh sang anak.
Saya langsung menangis ketika itu. Tak tertahan air mata saya meskipun berkali-kali saya mendongak menahan air mata.

Perih rasanya hati. Apalagi si ibu adalah pegawai sebuah BUMN ternama.

Lain hari, seorang teman bercerita tentang kedua cucunya. Yang satu diasuh oleh ibunya sendiri dan yang satu diasuh pembantu. Nenek itu bercerita betapa berbeda kedua cucunya dalam hal pengertian. Sungguh miris ketika Nenek itu protes pada anaknya, “Kenapa anakmu seperti itu?” lantas dijawab, “Ya mau gimana lagi? saya kan kerja!”

Di kesempatan yang lain, seorang teman yang bekerja sebagai ASN di salah satu instansi pemerintah nondepatemen, yang mana dia telah lulus S2 Universitas ternama di Indonesia bahkan dengan predikat lulusan terbaik, mengeluh karena anaknya yang berusia 2 tahun harus dipegang pembantunya yang buta huruf. Sedih dan pedih tentu saja. Dilematis.

Lantas, pertanyaan yang paling sering terngiang di telinga saya, “jika saya nanti menjadi ibu, akankah saya serahkan pendidikan anak-anak saya di usia golden age mereka pada orang lain? Buat apa saya belajar banyak hal jika kemudian anak-anak saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan orang lain dari pada dengan saya? Akankah saya tega melepas anak-anak saya dengan orang lain di tengah keberadaan smartphone dengan segala bawaannya seperti saat ini?”

Sebab, kondisi saat ini sangatlah berbeda dengan lima tahun lalu di mana belum ada smartphone dengan segala bawaannya seperti saat ini. Hal wjmg sangat mendasar perbedaannya dengan masa sebelum menjamurnya smartphone.

Seorang perempuan dengan karier atau jabatan yang bergengsi dalam pekerjaannya, dipandang begitu keren oleh sebagian masyarakat. Dan jika harus melepasnya seperti berbenturan dengan tembok yang keras dan harus dibayar dengan harga yang sangat mahal. “Sayang sekali, pekerjaan susah didapat kok dilepas begitu saja”, biasanya kurang lebih kalimat penyesalan seperti itu yang sering muncul.

Bahkan mungkin orang tua yang telah membiayai sekolah anaknya hingga sukses, masih merasa keberatan jika anaknya melepas pekerjaan dan menjadi ibu rumah tangga. Bahkan tidak tanggung, ada orang tua yang seharusnya menikmati masa tua itu rela menjadi orang tua lagi demi mengasuh cucunya agar anaknya tidak melepas pekerjaan. Komplikasi memang.

Feminisme telah mengaburkan jati diri dan kodrat seorang wanita. Dikemas dengan bahasa yang begitu indah: kesetaraan dan persamaan gender. Bahwa perempuan memiliki hak dan kebebasan yang sama dengan kaum pria. Lama-lama dapat menggeser tugas dan fungsi utama sebagai seorang perempuan, yaitu sebagai pendamping laki-laki; sebagai pelengkap kaum adam; dan juga sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Bagaimana nasib sebuah negeri suatu saat nanti, ketika saat ini anak-anak yang lahir tidak dididik oleh ibu yang melahirkan mereka? Yang lebih mementingkan karier atau sejenisnya akibat “feminisme”?

Barangkali dalam realitas, masalahnya tidak sesederhana itu. Semuanya kembali pada kondisi masing-masing. Namun, kisah-kisah wanita yang hidup di masa Rasulullah setidaknya bisa dijadikan komparasi.

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya.
SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan ini, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
SERUJI berhak untuk membatalkan penayangan hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan.
Untuk pengaduan email ke redaksi@seruji.co.id.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama