Menulis bukanlah aktifitas sederhana. Tidak banyak orang bisa menulis dengan baik. Bahkan konon, penulis adalah profesi yang sangat dihormati di Negeri Sakura, karena tidak sembarang orang mampu melakukannya. Artinya, orang yang bisa menulis itu diakui kehebatannya. Namun, sulit bukan berarti dihindari.

Banyak hal yang terlibat dalam kegiatan menulis. Saat menulis, imajinasi dan pengetahuan berjalan seiringan. Menulis berarti mencipta, proses kreatifitas yang muncul untuk mengkontruksi pengetahuan baru dalam otak, atau mengambil kesimpulan atas rentetan pengetahuan sebelumnya.

Menulis pada bidang disiplin tertentu bahkan melibatkan esensi eksistensi manusia: etika. Orang yang menulis artikel hukum, tentu menggunakan adab penulisan bidang hukum, begitu pula bidang-bidang lainnya. Karena tulisan terdokumentasi, setiap penulis secara etis wajib menghindari plagiat dan menghormati hasil karya tulisan orang lain.

Aktifitas menulis di kalangan umat manusia telah membawa dunia seperti sekarang ini, bertanggungjawab atas semua kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Saat kemudian segala sumber daya termanfaatkan, maka itu menjadi bukti manusia sebagai satu-satunya makhluk yang dicipta untuk menjadi penguasa bumi. Adakah ketidaksengajaan ketika manusia tercipta punya bakat untuk menulis?

Andai tidak ada aktifitas menulis sedikitpun, niscaya roket ke bulan tak akan tercipta, kapal selam tak bisa terwujud. Kekuatan menulis adalah kekuatan menggenerasikan pengetahuan, sehingga setiap anak dan cucu ikut memberi kontribusi tambahan pengetahuan untuk umat manusia.

Ada tulisan, ada bacaan. Benang merahnya, manusia diperintahkan untuk membaca, karena Tuhan mengajarkan dengan perantaraan “pena” atau kalam. Bisa jadi, banyak yang menafsirkan ayat tentang “Iqra'” atau “Qalam” sebagai sebuah metafora, membaca situasi, atau membaca tanda-tanda. Namun, bukan suatu kebetulan pula jika manusia punya kemampuan membaca dan menulis secanggih dan sehebat sekarang.

Ketika Tuhan menyatakan bahwa Ia mengajarkan dengan perantaraan kalam (pena), bahkan bersumpah dengan kata kalam dan tulisan, bisa jadi petunjuk bagi manusia, bahwa menulis adalah cara belajar paling baik. Maka, menulislah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama