Menjadi muslim adalah tindakan sederhana, cukup berserah diri. Ketika turun ayat, ikuti. Bahkan itulah inti hidup di dunia, tidak yang lain-lainnya.

Ayat-ayatNya, berupa tanda dan pengetahuan. Tanda dijadikan peringatan, pengetahuan dijadikan hikmah pemahaman, seharusnya demikian. Namun, karena sifat tidak mau berserah diri, tanda-tanda bisa tidak digubris, pengetahuan dijadikan sekedar bahan perdebatan.

Ahli Kitab, sebutan bagi kaum keturunan Nabi Israel (Ya’kub a.s.) yang hidup di zaman Nabi Muhammad diutus, menggunakan pengetahuan atas Taurat, Zabur dan Injil untuk sekedar mempertahankan status kebanggaan bangsanya di atas bangsa lain. Tatkala kemudian nabi terakhir diutus dari kalangan bangsa Arab, tersinggunglah kebanggaannya, dengkilah hatinya.

Setelah ayat-ayat Al Quran dibacakan, mereka paham itu benar datang dariNya, namun kedengkian mendorong mereka untuk segera mengingkarinya, kecuali segelintir.

Mereka akan melakukan berbagai upaya agar terlihat benar, dengan adu pengetahuan tentang kitab. Apa perlu dilayani perbantahan dengan mereka? Tentu tidak. Cukup katakan “aku berserah diri kepada Allah”, sebagai sebuah pernyataan sikap berlepas diri dari hanya mempertahankan kebanggaan semata.

Bahkan, ajakan untuk berislam pun tidak untuk dipaksakan, dan hanya dibebankan untuk memberi peringatan. Mengajak untuk ‘pasrah’ tentu tidak dengan ‘paksa’, jelas itu.

Kedudukan sebagai bangsa mulia di zamannya, melalaikan sebagian dari mereka, hingga membunuh para nabi dan orang-orang yang berusaha memperingatkan untuk berbuat keadilan. Kesombongan ‘berbangsa’ ini membuat bebal dalam menerima hukum bahkan dari kitab mereka
sendiri.

Kesombongan mereka datang dari pernyataan mengada-ada, punya anggapan bahwa tidak akan disiksa di neraka kecuali beberapa hari saja. Anggapan yang tidak berdasar, disebabkan sudah terpedaya gara-gara terbiasa mengada-ada.

Ibrah kisah ini, jangan sampai ketika menyatakan diri muslim, namun berperilaku ‘non muslim’. Kedudukan berjenis apapun bukan menjadi penghalang berserah diri kepada ayat-ayatNya, entah sebagai akademisi, pejabat, atau sebutan-sebutan golongan lainnya. Katakan saja, “aku muslim, berserah diri kepadaNya”, dan kurangi kata-kata “Aku bangga menjadi … “.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama