Makan Nafsu dan Nafsu Makan

0
331
57112f4b1f2f0.image

Ada seorang pria, ayah ibunya meninggal karena punya penyakit yang sama, penyakit gula. Tak menunggu tua, tanda-tanda terkena penyakit gula datang. Karena memperistri seorang dokter, pengetahuan terhadap penyakit itu mudah didapat, sehingga berubahlah pola hidupnya menyesuaikan kebutuhan tubuh.

Sekarang, setelah lewat beberapa puluh tahun, kebiasaan makan rendah kalori berdampak pada selera makannya. Asal ada rasa manis, sudah tidak berselera. Buah favorit bukan yang manis, tapi yang asam. Bahkan, strawberry termasuk diantara yang tergolong manis menurutnya.

Banyak contoh kasus lainnya yang menegaskan ketergantungan terhadap makanan tertentu akibat kebiasaan di masa mudanya. Kalau masih muda sudah terkena penyakit, barangkali bisa berubah dengan mudah dan mendukung kesehatan di masa tuanya. Kalau sudah tua kemudian dilarang-larang makanan tertentu, hanya akan mendatangkan masalah, utamanya stres dan tidak berselera makan.

Pola hidup nyaman dengan pilihan ragam kuliner saat ini sesungguhnya melatih lidah mengikuti selera. Muncullah istilah ‘wisata kuliner’ yang menjadi wadah orang-orang yang cenderung mencari kepuasan, bukan sekedar memenuhi kebutuhan.

Sungguh beruntung orang yang diberi tanda berupa potensi penyakit sedari muda sehingga punya dorongan dan kesempatan melatih selera lidahnya sesuai kebutuhan tubuh, tidak sekedar mencari kepuasan. Sungguh beruntung pula orang yang mendapatkan kesadaran pentingnya mengelola selera makan walau tidak mendapat tanda penyakit sama sekali.

Mengelola selera makan menjadi poin penting, di saat godaan aneka ragam pilihan makanan bercita rasa tinggi bertebaran. Selain kesadaran diri, pengaruh pikiran (baca: sugesti) bisa menjadi tameng dahsyat yang mengontrol “suka tidak suka” melaui mekanisme hypothalamus yang mempengaruhi hormon “perasaan”. Jijik adalah contoh datangnya perasaan mual di perut, begitu juga sebaliknya.

Cara mengelola selera makan yang terbaik dicontohkan oleh Rasulullah, ketika makanan terhidang hanya berlauk cuka, segera mensugesti diri dengan perkataan positif bila itulah makanan terbaik di dunia. Di lain waktu ketika berlauk garam, hal yang sama dilakukan. Ditambah lagi dengan sugesti sepanjang masa dengan menganjurkan umat untuk tidak sekali-kali mencela makanan.

Sedangkan nasehat dari Sang Pencipta manusia yang disampaikan Rasulullah adalah perintah berpuasa, sebagai kebutuhan manusia untuk terlepas dari kekangan hawa pemuasan diri. Serta penggambaran buruknya sifat Bani Israil zaman Nabi Musa yang sudah disediakan mata air sebagai minuman serta Manna dan Salwa sebagai makanan terbaik, namun masih menginginkan jenis makanan lainnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama