
Analogi adalah sebuah cara otak untuk memahami sesuatu. Analogi mirip dengan perumpamaan. Jika ada orang yang bertanya bagaimana cara membuat jelly, maka paling mudah dijelaskan dengan perumpamaan atau contoh : seperti membuat agar-agar.
Otak bekerja dengan cara asosiatif, yaitu informasi baru selalu ditakar dan dibandingkan dengan informasi yang telah lalu, kemudian membentuk pemahaman baru. Maka, analogi atau perumpamaan merupakan sebuah cara agar nalar otak bisa meningkat.
Tapi, ternyata analogi atau perumpamaan pun bisa mematikan nalar seseorang, padahal analogi atau perumpamaannya benar. Hal ini terjadi karena sudah ada sikap apriori terhadap orang yang menyampaikan perumpamaan, atau bahkan sikap merendahkan. Atau secara verbal :”untuk apa pakai perumpamaan segala?”.
Jika sesuatu yang benar secara nalar tapi dengan sengaja disalahkan atau dianggap salah, maka bisa dikatakan sesat nalarnya atau tak berjalan logikanya. Kebenaran pun terasa tak masuk akal baginya.
Kata-kata apriori dan merendahkan selalu keluar dari orang-orang yang tinggi hati dan sombong. Dan kesombongan muncul bukan tanpa sebab. Kesombongan muncul saat seseorang ingin melindungi perbuatannya yang salah : melanggar perjanjian, memutus ikatan, dan berbuat kerusakan.
Jika tidak ingin sesat nalar, janganlah sekali-kali langgar janji, memutus ikatan dan berbuat kerusakan!
