
20 Februari 2016
Iman. Kebanyakan orang mengartikan “percaya”, atau “yakin”. Kalau demikian, hanya mengartikan iman itu sebagai kondisi. Tidak sepenuhnya salah, iman lebih cenderung pada sebuah pilihan dari kehendak diri yang berdampak pada perilaku.
Pilihan untuk apa?
Pertama, pilihan untuk meyakini Al Quran itu sempurna. Sempurna berarti tidak ada satupun cacat atau keraguan di dalamnya. Tidak diragukan kebenarannya, sehingga bagi orang yang memilih mengikuti isinya akan tercerahkan dan mendapat petunjuk hidup yang berharga.
Adakah yang membatah kesempurnaan Al Quran? Banyak. Kelak akan dibahas di bagian lain.
Kedua, pilihan untuk meyakini akan keterbatasan diri.
Sebanyak apapun belajar, jauh lebih banyak hal yang tidak diketahui. Yakin kepada yang “ghaib” atau “tak terketahui” atau “tak terindera”. Orang ateis itu tidak percaya tuhan, karena menurut mereka apapun dianggap tidak ada bila tak terbukti.
Tuhan itu memang “ghaib” secara indera. Jika terbatas pada hanya apa yang terbukti menurutnya, maka dunia pikirannya sangat sempit dengan mengabaikan kemungkinan-kemungkinan yang sangat luas.
Ketiga, memilih untuk tunduk, pasrah, serta meninggikan rasa hormat. Semua terangkum dengan menegakkan sholat. Inilah sikap yang diperlukan oleh siapapun yang ingin mendapat petunjuk, memposisikan diri sebagai murid dihadapan gurunya.
Keempat, memilih untuk tidak cinta dunia. Dunia identik dengan harta dan kedudukan, yang melenakan sehingga lupa tanggungjawab sebagai hamba tuhan. Maka, sebagian harta selalu disisihkan untuk diinfaqkan.
Kelima, memilih untuk meyakini bahwa Tuhan tidak membiarkan hambanya tanpa petunjuk, dari sejak zaman Adam hingga sekarang. Ada masa diturunkan petunjuk dalam bentuk kitab, hingga yang terakhir Al Quran. Dengan semua kitab-kitab itu, membantu manusia menemukan kebenaran dari sisi kesejarahan, dan dapat meneliti pendustaan-pendustaan sehingga dapat menghindari kebatilan-kebatilan.
Keenam, memilih untuk meyakini bahwa manusia diciptakan bukan hanya untuk dimatikan tanpa tujuan. Manusia makhluk tertinggi yang memiliki potensi terbesar dibanding makhluk lain : kehendak diri yang bebas. Maka, mustilah manusia mempertanggungjawabkan kedudukannya di hari pengadilan Tuhan.
Enam pilihan. Jika dijalani akan berada dalam jaminan Tuhan untuk mendapatkan petunjuk dariNya, dan tentu beruntunglah ia.
