Kebanyakan usaha pribadi tidak menggunakan akuntansi. Tidak masalah. Karena pemilik sekaligus yang menjalankan adalah dirinya sendiri.

Kalau sekedar kerjasama sederhana seperti jual beli, pinjam-meminjam, sewa-menyewa, atau mempekerjakan, tidak terlalu perlu akuntansi, walau sebaiknya masing-masing pihak membukukan transaksinya (yang tentu merupakan bentuk akuntansi yang sangat sederhana). Namun, akan jadi rumit bila bentuk kerjasamanya sudah ke tingkat membagi kepemilikan usaha.

Mengapa kerjasama berbagi modal (berbagi modal = berbagi kepemilikan) menjadi rumit? Karena konsekuensinya luas, seperti pembagian keuntungan, penggunaan dana dan fasilitas perusahaan, penentuan kebijakan pengeluaran operasional dan lain sebagainya.

Kerumitan ini, ditambah dengan ketertutupan antara satu pemilik dan pemilik lainnya, menyebabkan muncul masalah dikemudian hari. Maka tak heran, banyak usaha kerjasama yang berhenti di tengah jalan karena pecah kongsi.

Akuntansi adalah sebuah alat untuk mengetahui hampir semua jenis kegiatan dalam sebuah usaha. Bisa dikatakan sebagai transparansi keuangan bagi berbagai pihak yang terlibat. Beberapa menyebutnya sebagai alat untuk “mempertanggungjelaskan” alih-alih makna “mempertanggungjawabkan”.

Gambaran dasar tentang akuntansi berikut menunjukkan posisi/keadaan keuangan (neraca):

1. Aset
Aset adalah segala sesuatu milik perusahaan. Contohnya : Meja, kursi, peralatan inventaris perusahaan, uang kas, simpanan perusahaan di Bank, barang persediaan, dan lain-lainnya.
2. Modal
Modal adalah jumlah uang atau barang yang diberikan oleh pemilik ke perusahaannya. Misal, salah seorang pemilik membelikan komputer untuk perusahaan dari uang pribadinya.
3. Kewajiban
Kewajiban adalah hutang yang harus dibayar. Misalnya, perusahaan meminjam uang ke Bank, atau perusahaan menunggak gaji ke karyawan.
4. Pengeluaran
5. Pemasukan

Semua kegiatan transaksi usaha selalu melibatkan kelima hal di atas. Oleh karena itu, semua catatan transaksi bisa dikonversikan menjadi bentuk laporan posisi keuangan.

Apa fungsinya mengetahui posisi keuangan?
Pertama, mengetahui besarnya modal yang disetor. Bisa jadi, pihak 1 menyetor modal lebih besar daripada pihak 2. Hal ini berpengaruh pada prosentasi penerimaan laba perusahaan.

Kedua, Mengetahui perkembangan aset dan kewajiban perusahaan. Jika perusahaan asetnya bertambah terus, tentu kekayaan perusahaan semakin besar. Sebaliknya, jika kewajiban semakin besar, maka kekayaan perusahaan sudah pasti menurun.

Ketiga, mengontrol arus kas. Pengeluaran yang terlalu besar bisa dianalisa, kemudian diadakan efisiensi. Pemasukan yang terlalu kecil bisa didorong dengan usaha yang lebih efektif.

Masih banyak fungsi-fungsi akuntansi yang sangat berguna dalam menjalankan usaha. Namun, penjelasan di atas mungkin bisa memberi gambaran dasar yang mudah dimengerti.

Dengan akuntansi, jalannya usaha bisa lebih transparan, dapat dipertanggungjelaskan, sehingga bentuk-bentuk prasangka antar satu pihak dengan pihak lainnya bisa diminimalkan. Akhirnya, kerjasama usaha bisa tetap langgeng tanpa ada yang merasa dizalimi.

Saat ini, ilmu akuntansi sudah ke tingkat jenuh, artinya akuntansi sebagai alat usaha sudah di batas maksimal, tidak ada alat yang lebih baik. Menggunakan akuntansi adalah seperti menggunakan alat yang paling tepat dan mutakhir yang menyertai sebuah usaha. Apalagi, sudah disediakan perangkat lunak khusus sehingga pekerjaan yang tadinya melelahkan, bisa dilaksanakan dengan mudah dan murah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama